[disclaimer: #no offense#]

Rekan-rekan penyambut pemilu di mana saja berada, a.w.:

Ini sekedar untuk santai saja, dan jangan terlalu serius membacanya :-)
Take it easy saja ya...

Kemarin sore saya telah menerima sebuah surat suara dari PPLN (Panitia
Pemilihan Luar Negeri) yang isinya adalah sebuah amplop pengembalian dan
selembar daftar tanda gambar dari 48 partai untuk dicoblos. Begitu
memandang sejumlah tanda gambar itu saya tersenyum simpul sambil mengingat
diri untuk bermain monopoli. Sayangnya saya tidak punya 'dadu'/'cube'
ditangan, sehingga tidak bisa bermain. Yang membuat saya menjadi confused
justru banyak partai yang menggunakan lambang yang mirip (seperti cermin
atau mirror dalam istilah internet).

Partai 48 ini mengingatkan saya pada buku sejarah kebangsaan yang pernah
saya baca ketika saya di Sekolah Dasar dulu dan apa yang pernah saya tulis
di IDS@, maupun yang saya lontarkan dalam forum diskusi di Permias Syracuse
tahun lalu tentang "Partai 100" di jaman pemerintahan Soekarno. Salah satu
dari partai 100 dulu itu memang ada yang dioperasikan dari salah satu
garasi rumah di Jakarta oleh tak lebih dari 5 orang saja dengan hanya satu
mesin ketik dan tanpa pesawat telepon. Perjuangan bisa dimulai dari mana,
kapan dan dengan apa saja, katanya.

Diantara 48 partai sekarang ini ternyata ada yang "old cracks" atau
berideologi seperti aslinya pada jaman perjuangan kemerdekaan hingga awal
orde Soeharto (termasuk beberapa partai yang dibekukan dan dilarang oleh
pemerintahan2 Soekarno dan Soeharto). Mereka ini terdiri dari semua yang
berlambang mirip (walau berbeda 'dialek') seperti kepala banteng
(Marhaenisme/Soekarnoisme) yang dulu hanya digunakan oleh PNI; berlambang
bulan-sabit yang dulunya hanya digunakan oleh PSII dan Masyumi; berlambang
ka'bah di masa silam yang hanya dipakai oleh Nahdlatul Ulama; IP-KI; dan
MURBA. Selebihnya, kecuali mereka yang berasal dari 3-partai di jaman
Soeharto, adalah orok.

Yang saya belum jelas apakah PUMI adalah "PARMUSI baru" dan KRISNA adalah
"PARKINDO baru." Lalu eks PKI telah menjelma menjadi apa? Nampaknya yang
masih menyolok adalah mereka yang tergolong kelompok2 NASA (NASional dan
Agama) dari NASAKOM. Kata2 KOMunis, sosialis, dan marxis tak digunakan
sebagai nama partai. Mungkin sudah menjadi trauma karena pernah di-'gebuki'
oleh NASA dan ABRI. Banyak sekali yang menggunakan kata2 demokrasi atau
demokrat. Cuman satu partai yang menggunakan kata republik dengan lambang
seperti boxing federation.

Ada enam nama partai yang unik yaitu PCD (Partai Cinta Damai), PAY (Partai
Abul Yatama), PILAR (Partai Pilihan Rakyat), KRISNA, PADI dan PARI. Ada
nama yang doubling-an seperti PBI (Persatuan Bulutangkis Indonesia dan
Partai Bhinneka Tunggal Ika Indonesia), PKB (Penghayat Kesatuan Bangsa dan
Partai Kebangkitan Bangsa), PSP (Persatuan Sepakbola Padang dan Partai
Solidaritas Pekerja), dan PPI (Pemuda Pelajar Indonesia dan Partai Pekerja
Indonesia). 21 partai menggunakan gambar bintang. 13 partai menggunakan
segi-lima. Berapa partai yang menggunakan segi-tiga, lingkaran, dan warna
merah-putih? Hitung sendiri. Yang pasti adalah bahwa golput sudah mulai
dibatasi aksinya. Terbukti jarak antara masing2 tanda gambar semakin sempit
saja dibanding kartu pemilu terdahulu. Kecuali jika Anda hendak menggunakan
peniti untuk mencoblos golput. Sejarah terulang kembali ke jaman
pemerintahan Soekarno (100 tanda gambar) yang tanpa golput.

Saya mendengar pernyataan tak resmi dari tanahair bahwa banyak pemimpin
partai - diantara mereka adalah Amin Rais, Megawati, Gus Dur dan Akbar
Tanjung - tak bersedia menjadi Presiden RI ke-empat. Partai2 mereka akan
memilih orang tertentu untuk memimpin negara. Entah sejauh mana kebenaran
berita ini. Lagi pula siapa yang sudah menyatakan siap untuk menjadi
presiden. Adakah diantara rekan2 yang bisa membuat daftar calon presiden
berdasarkan kesediaan/kesiapan ybs atau pun keinginan sejumlah orang?
Terimakasih.

Selamat berPemilu-ria! Pendeknya jangan lupa dengan filsafat Kedaulatan
Rakyat seperti yang telah diperjuangkan dan ditegakkan oleh para pejuang
kemerdekaan yang melahirkan kita sekalian.

wassalam,
=wien

Kirim email ke