Sdr. Efron,

Anda benar bahwa "pemimpin" dan "pimpinan" tidak sama artinya, bahkan
saya juga menyatakan pendapat saya demikian dalam tulisan sebelumnya.
Saya kutip kembali tulisan tersebut di bawah ini dan disana ada tulisan
saya bahwa 'saya kurang sependapat karena arti "pe-" disana berarti
"alat" dan bukan "orang"'.

    Mengenai "pimpinan", ada yang berpendapat bahwa "pemimpin" itu sama
dengan "pimpinan".
    Mereka memberi contoh seperti penggantung = gantungan, penimbang =
timbangan, pengusung = usungan.
    Saya kurang sependapat karena arti pe- disana berarti "alat" dan
bukan "orang".
    Bagaimana dengan pendapat Anda?

Memang sering kita jumpai kesalahan penulisan dan bacaan akibat pengaruh
bahasa daerah. "Pengrusakan" memang sudah salah kaprah, mestinya
"perusakan" yang berarti proses, perbuatan, cara merusakan. Namun
"penglihatan" agaknya sudah diterima resmi sebagai kata Indonesia yang
benar karena saya temui dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia / Tim
Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, edisi 2 cetakan 9 -
Jakarta: Balai Pustaka, 1997, bahwa penglihatan [nomina] adalah (1)
proses, cara, perbuatan melihat; (2) apa yang dilihat; pandangan; (3)
[ragam cakapan - 'bukan bahasa baku'] indria untuk melihat.

Kamus tersebut juga berisi tentang "pengrajin" [nomina] sama maknanya
dengan "perajin" yaitu (1) orang yang bersifat rajin; (2) sesuatu yang
mendorong untuk menjadi rajin; (3) orang yang pekerjaannya (profesinya)
membuat barang kerajinan.

"Pengkajian" memang beda dengan "pengajian" karena ada kata "mengkaji"
dan ada kata "mengaji". "Mengaji" adalah membaca Al Qur'an, belajar
membaca tulisan Arab, mempelajari. "Mengkaji" adalah memeriksa,
menyelidiki, menguji, menelaah. Jika dijumpai kalimat, "Anak itu mengaji
di mesjid raya", kita tahu bahwa anak itu membaca Al Qur'an di mesjid.
Namun jika kalimatnya, "Anak itu mengkaji Al Qur'an", tentu artinya
bahwa anak itu menyelidiki dan menelaah Al Qur'an secara lebih mendalam.

Regards,
Yohannes Yaali

On 02/06/1999 at 10:14:46 Efron wrote:
>Sdr. YY,

>Saya tidak meminta Anda menjelaskan "pejabat cs", tapi itu juga baik diketahui
oleh yang lain. Kembali menyoal "pemimpin" dan "pimpinan" saya masih tidak
sependapat dengan Anda jika keduanya itu sama artinya. Anda mengambil contoh
"timbangan" (yang menurut Anda artinya adalah alat untuk menimbang berat) yang
sebenarnya dipengaruhi oleh bahasa daerah (Jawa).

>Banyak yang tanpa sadar melakukan kesalahan akibat pengaruh bahasa daerah.
Sebut saja: "pengrusakan" yang mestinya "perusakan", "penglihatan" yang mestinya
"pelihatan", "pengrajin" yang mestinya "perajin", "pengkajian" yang mestinya
"pengajian", dan lain sebagainya.

>Memang jika dibutuhkan saya sedapat-dapatnya menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar. Pengalaman sewaktu kuliah dapat dijadikan pelajaran. Tidak
sedikit kolega saya gagal dalam tugas akhir hanya gara-gara tak mampu menulis
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seperti kata dosen saya "menulis" itu
untuk orang lain bukan untuk diri sendiri sehingga setiap tulisan agar tidak
banyak interpretasi.

>Efron

Kirim email ke