Baca-baca berita tentang keberangkatan Menkeh dan Jaksa Agung ke Swiss
saya jadi teringat cerita detektifnya majalah Intisari beberapa tahun
lalu. Saya ceritakan lagi dengan bahasa saya:

begin..........

Seorang  yang berkuasa cukup lama di sebuah negeri di Afrika itu,
akhirnya harus rela terpungkur, tersiishkan oleh hingar-bingar semangat
politik pembaruan yang semarak dalam negeri. Presiden yang baru berhasil
menyingkirkan sang diktator itu; diktator yang termasyur kelihaiannya
dalam menilap  uang negara. Berjuta-juta dollar disangkakan, namun belum
satupun bukti nyata yang bisa dipegang. Demikian pula dengan para
menteri-menteri dan hulubalang lama, setalh menikmati kekayaan hingga,
kini harus rela pula tersungkur di karpet pinggiran bersama idola
mereka.

Salah seorang yang sangat dicurigai adalah Menteri Keuangan. Dia diduga
menyimpan harta-harta curiannya di sebuah surga  di Swiss. Dengan
semangat pembaruan dan atas teriakan rakyat yang mengelu-elukan, tiga
bulan kemudian presiden mengutus menteri keuangan baru untuk menelusuri
jejak uang negara di Swiss.

Berangkatlah sang meneteri ke Swiss, disertai surat kepresidenan agar
para bankir di Swiss mau bekerja sama. Segala antisipasi dilakukan
karena mereka tahu ketatnya kerahasiaan bank di Swiss.

Hari kedua di Swiss. Pagi-pagi sekali sang menteri telah siap, sebuah
surat telah disiapkan di dalam kopornya. Ketika jam kantor mulai buka,
sang menteri telah berada di sebuah ruangan direktur utama di salah satu
bank di Genewa.

Percakapan  mengintonasikan bahasa formal.

"Saudara direktur, tentu Anda telah mendengar heroiknya bangsa kami
menumbangkan rejim benalu bangsa".

Dia diam sebentar. Melihat  air muka orang di hadapannya.

"Saya membawa misi presiden kami untuk mengetahui uang simpanan menteri
keuangan terdahulu, yang sekali lagi, saya yakin ada di bank ini".

"Maaf," jawaban telah disiapkan. "Kami  sangat professional, kami tidak
bisa"

Diberikannya surat khusus presiden kepada sang direktur.

"Kami yakin para bengsat itu, menyimpan uang-uang mereka di bank ini.
Ahh, rasanya tak perlu saya jelaskan. Ketahuilah uang itu sangat
dibutuhkan di negara kami."

"Saya faham tuan menteri. Semoga Tuhan selalu bersama presidan dan
rakyat Anda"  Surat telah terlipat dan disodorkan kembali kepadanya.

Masing-masing terdiam.

"Saya akan berbuat apa saja demi kepentingan bangsa saya" Dia berdiri
perlahan, dipandanya pemandanag gedung tua kota Genewa dari jendelakaca.
Lalu dia berbalik, tangannya menulusup di sela-sela jas lalu
tergenggamlah sebuah pistol kecil. Dengan wajah tenang, diletakkannya
pistol di atas kopor di atas meja.

"Uh....ee..Anda tidak bisa begitu", wajah direktur mulai ketakutan,
sebuah peristiwa yang tak disangka-sangka.  "Andaikan saja saya bisa".
Kini wajahnya memelas

Ujung pistol segera menempel di dahi sang direktur, dengan gaya militer
khas yang menjadi wataknya sejak dia didik sekolah militer menengah
dulu,  ditariknya kokang. "Tak perlu saya katakan lagi apa yang akan
saya perbuat, ini demi jutaan rakyat kami yang kelaparan."
Berdiri, tangan kiri menahan badan, jari tangan kanan, menempel tegang
di pelatuk.

Sang direktur pucat pasi. Tapi sumpah professionalismenya sudah mendarah
dagingi. Dia ingin membantu, tapi..."Saya tidak bisa" suaranya bergetar
berat,  "walaupun saya harus mati..!"

Tiba-tiba muka sang menteri berubah, mendengar jawaban tersebut.
Tersenyum dan menarik pistolnya kembali.

 "Bank anda sungguh hebat."  Lalu di bukanya kopor "Uang ini akan saya
simpan di bank ini...!"

end....................

Pungkas B. Ali
Troy, June 2, 99

Kirim email ke