Yohanes Sulaiman wrote:
> FYI: waktu saya bertemu dia, saya tak melihat tanda orang yang hanya
> pakai dengkul untuk berbicara. Ditambah lagi, seingat saya dulu dia adalah
> dosen sejarah pada tahun 1950-an. Selain itu, saya rasa dia tak pernah masuk
> PKI.
Ya memang sulit untuk membuktikan apakah PAT pernah masuk atau tidak ke
dalam PKI (tentunya bila pemerintah tidak bersedia mengeluarkan daftarnya).
> >Taon kuda dimana chinese dipaksa bikin benteng
> >Batavia karena ndak ada orang laen nyang bisa disuruh. Semua pada nglawan.
> >Kalo gitu ngapain bikin benteng?
> Bukankah kalau semua pada ngelawan mending bikin benteng biar kuat
> pertahanannya? Tapi saya rasa ini bukan inti dari tulisan dia.
Ya betul, justru itu. Memang intinya PAT adalah mau menunjukkan bahwa chinese
sudah dibuat menderita sejak tahun 1600an. Hanya saja kita perlu lihat juga situasinya.
Di mana-mana semua bangsa di Asia sedang menderita. Contoh pemaksaan chinese
untuk membangun benteng Batavia untuk menunjukkan bagaimana menderitanya
chinese di masa kolonial (baik jaman VOC, Belanda, maupun Jepang) serasa
dipaksakan. Ini serasa sebutir pasir di pantai. Lalu bagaimana dengan penderitaan
inlander di jaman Daendels, jaman Romusha?
Bung YS jangan salah mengira bahwa saya berusaha mengecilkan arti penderitaan
chinese di jaman VOC dan Belanda, tetapi yang mau saya sampaikan adalah
fakta bahwa inlander merupakan warga negara kelas 3 yang tidak dibiarkan kuat
oleh Belanda dengan jalan tidak diberi kesempatan dalam perekonomian. Inlander
sejak dulu tidak dibiarkan membangun basis ekonomi padahal sebelumnya selain
sebagai petani dan kuli. Inilah proses pembodohan thd inlander agar mudah dikuasai.
Apalagi bila PAT bekas dosen sejarah mestinya dapat lebih baik lagi dalam mem-
beri dasar bahwa chinese menderita.
Kita juga perlu melihat bagaimana komunitas chinese dalam hidup bermasyarakat.
Selama chinese masih merasa sebagai komunitas yang lebih baik dari yang pribumi,
dan membangun pagar pembatas, maka ancaman rasis atau penjarahan akan
selalu ada chance terjadi lagi. Kesimpulan PAT bahwa faktor sosial dan ekonomi
tidak/bukan dasar perselisihan adalah suatu pandangan yang konyol. Mungkin ini
disebabkan oleh sifat acara pertemuannya yang singkat, sehingga tidak dapat
mencerminkan pola pikir PAT secara keseluruhan. Namun demikian, sudah sepatutnya
pula ucapan/tulisan yang lebih diwarnai oleh unsur politis (walaupun bilang tidak
ikut berpolitik, namun selalu kampanye sembunyi untuk PRD) tidak perlu
dianggap sesuatu yg perlu diyakini. Saya yakin anda sendiri dapat menimbang-
nimbang lah.
Apakah ada pula komunitas chinese yang mampu beradaptasi dengan inlander
dan diterima dengan baik? Jeulas! Beberapa wali adalah orang chinese. Fatalillah
atau faletehan juga berdarah chinese. Banyak komunitas di Semarang, Tuban,
Jakarta yang berasimilasi dengan inlander, dan diterima. Yang bersisa biasanya
yang membangun tembok pemisah antara dirinya dengan masyarakat sekitar,
baik secara sengaja maupun tidak.
> Tapi hanya satu penjelasan:
> 'Pada tahun 1912, SI di Solo ribut melawan orang Chinese. Menurut Toer,
> keributan itu adalah SI dimanfaatkan Belanda untuk menekan Chinese karena
> Belanda takut SI terlalu radikal dan menjadi anti Belanda'
Bung YS, tanpa bermaksud ngeyel, tetap terasa ada kejanggalan. Bila memang
Belanda takut SI menjadi terlalu radikal dan menjadi anti Belanda, satu-satunya
jalan adalah memperlemah SI, bukan mendukung SI. Dengan mem-back-up
SI untuk menekan chinese, maka kemungkinan SI untuk bertambah kuat di
wilayah Solo makin besar. Mengapa? Jelas dengan menguasai sektor ekonomi
di Solo, dengan menggeser Chinese yang mula-mula menguasainya, kemampuan
SI untuk menggalang kekuatan makin besar dong. Iya tidak? Makanya saya
merasa terdapat kejanggalan dalam merajut logika cerita.
Justru sebaliknya, bila Belanda ingin SI tidak berkembang, maka harus mendapat
cara agar SI dimusuhi baik dengan cara menyabot perekonomian mereka, maupun
dengan kekerasan. Bila kita punya teman di Belanda untuk mengecek arsip
mereka mungkin baik dijadikan referensi. Saya bilang sebagai referensi, bukan
sebagai bukti untuk mendukung kebenaran sejarah, karena objektivitas Belanda
sebagai penjajah perlu diragukan juga.
Jadi alih-alih mendukung SI, apakah tidak lebih aman bagi Belanda untuk mem-
pergunakan chinese yang sudah berabad-abad diberi privilledge sebagai
pedagang untuk menekan SDI (Syarikat Dagang Islam, cikal SI) secara ekonomi?
Skenario lain adalah Belanda tidak campur tangan. SI dan chinese berantem rebutan
hegemoni ekonomi di wilayah Solo.
'--------------------------
> Anyway, senang sekali saya mendapat tanggapan dari anda.
>
> Cya.
>
> YS
>
> >Hehe....dasar PAT itu bagusnya bikin novel doang. Kalo nyang lain dengkulnya
> >nyang dipake untuk bicara. Taon kuda dimana chinese dipaksa bikin benteng
> >Batavia karena ndak ada orang laen nyang bisa disuruh. Semua pada nglawan.
> >Kalo gitu ngapain bikin benteng?
> >
> >Taon 1740 memang Walanda ndak bisa ngontrol lagi komunitas chinese nyang
> >mereka bentuk jadi pedagang. Mangkane terjadi pemberontakan cina. Ndak ada
> >hubungane dengan dikerjai. Nyang dikerjai paling parah jelas orang pribumi
> nyang
> >menjadi warga kelas tiga sesudah orang bule dan orang arab dan chinese.
> >Dasar PAT cuman punya dengkul doang.
> >
> >PAT bikin komentar dogol lagi dengan menyatakan Belanda memanfaatkan SI.
> >Syarikat Islam (SI) adalah salah satu bentuk pertama usaha perlawanan thd
> >Belanda, sekarang PAT bilang Belanda bisa ngontrol SI lagi....dasar dengkul
> >komunis..... Di buku pertama dari Trilogi-nya si dengkul ini memberi kesan
> jelek
> >pada peranan Dokter Sutomo karena dia dokter dan dari keluarga bangsawan.
> >Sekarang mau njelek-njelekin Syarikat Islam lagi.
> >
> >Hehe...ane lupa kalo dia komunis, jadi jelas nyang diarah sudah tentu nyang
> >berlawanan dengan golongan proletar, dan ngarah kaum beragama. Kayaknya
> >perlu dibentuk death squad. Ini sudah mulai ngarah kayak Salman Rusdi.......
> >Pendukungnye ya pendukung Salman Rusdi.
> >
> >
> >--
> >Salam,
> >Jaya
>
> History often repeats twice, the first time occurs as a tragedy,
> the second time a farce.
>
> Karl Marx
>
> The third time is a comedy
> Unknown
--
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)