Beberapa minggu lalu saya hadir di San Francisco mengikuti acara
penandatanganan
buku oleh Pramoedya Ananta Toer. Tadinya saya ke sana hanya untuk
meminta beliau menandatangani buku-buku saya. Namun, dalam acara tanya
jawab, ada yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menarik, seperti peran
mahasiswa dan kaum Chinese di Indonesia di masa depan.

Tadinya tulisan ini inginnya saya kirim minggu lalu, tapi berhubung ada
'konflik'
jadi saya undur sampai sekarang. Beberapa peserta milis ini mungkin sudah
pernah membaca sebagian besar dari tulisan ini (terutama yang ikut mailing
list yang lain). Untuk menambahkan kalimat-kalimat lain, sayangnya saya
sudah mulai lupa dan saya tak mau menambahkan hal-hal yang saya tak
terlalu pasti.

Tulisan berikut ini merupakan penyusunan ulang dari tanya jawab dengan Toer
dan ada sedikit perubahan untuk memperjelas dan mempermudah pembacaan
tanpa mengubah arti secara total. (ditambah lagi saya sudah mulai lupa akibat
berjalannya waktu). Saya minta kalau ada yang pernah mendengar M. Toer
mendiskusikan soal ini, tolong ditambah atau diralat agar tulisan ini menjadi
lebih sempurna. Atau kalau ada yang memiliki segment-segment percakapan,
tolong ditambah juga.

-----


Inti pertama dari pertanyaan-pertanyaan kepada M. Toer adalah kenapa di
Indonesia
bisa terus terjadi kerusuhan dan perpecahan seperti ini. M. Toer percaya
bahwa
sebetulnya Indonesia bisa bersatu, dan sebetulnya gerakan kemerdekaan Aceh itu
merupakan 'backlash' dari Orde Baru. Apakah ada buktinya? Ada, yakni Presiden
Sukarno sendiri. Tahun 1945, waktu Indonesia baru merdeka, orang Aceh
merupakan

satu daerah pertama yang mengirim delegasi ke Bung Karno membawa puisi yang
memuji kebesaran Bung Karno dan keinginan Aceh untuk berjuang bagi Indonesia.

Namun sejak jaman Belanda, ide persatuan terus dipecah karena 2 hal; yakni
'Jawa Centrism' dan 'Kemalasan mempelajari sejarah.'

Kemalasan mempelajari sejarah itu merupakan penyakit kronis di Indonesia.
Menurut Toer, untuk mengetahui masa sekarang justru perlu mempelajari masa
lalu.
Sayangnya banyak dari ilmuwan yang tak mengerti soal ini. Kalau kita
mempelajari
sejarah, justru kejadian perpecahan sekarang sudah pernah juga terjadi di masa
lalu. Sejak dulu Belanda melakukan 'Jawa Centrism' untuk memecah Indonesia.
Caranya adalah Belanda bawa 'pembunuh' dari Jawa ke laur Jawa dan membawa
harta kembali ke Jawa. Intinya adalah semuanya dipusatkan di pulau Jawa, yakni
di Batavia. Hal ini sayangnya terus terjadi sampai sekarang. Sukarno berusaha
menghentikan masalah ini dengan merencanakan untuk memindahkan ibukota
Indonesia ke Palangkaraya berhubung lokasinya yang ditengah Indonesia. Hal
ini juga memberikan dampak positif lain, yakni penduduk tak lagi terpusat
di Jawa
dan pemindahan ibukota bisa dibiayai oleh kayu Kalimantan. Namun terjadi
G30S/PKI dan rencana dibatalkan. Orde Baru melakukan kembali politik Jawa
Centrism dan hasilnya kayu Kalimantan habis tapi ibukota batal pindah.

Gerakan mahasiswa yang terjadi waktu Mei tahun lalu yang berhasil menjatuhkan
rezim Orde Baru sangatlah bagus karena merupakan tindakan spontan massa.
Di sini tak ada kepentingan apapun yang mempengaruhi dan semua tujuannya hanya
satu yakni menggulingkan rezim tersebut. Tapi setelahnya? Apakah akan
terjadi lagi
lingkaran yang sama di mana terjadi kembali sistem Jawa Centrism? Generasi
muda Indonesia tak boleh mengulangi pengalaman yang sama dan perlu berusaha
agar bebas dari hal-hal yang merupakan ciri orde baru dan membentuk Indonesia
yang baru.

Hal yang sama juga terjadi untuk kaum Chinese di Indonesia.
Orang-orang Chinese sudah lama ditindas dan 'dikerjai' di Indonesia. Di
jaman VOC,
tahun 1640 orang-orang Chinese diculiki untuk dipaksa membuat benteng
Batavia. Pada tahun 1740, ribuan orang Chinese dibunuh di Batavia
dan dalangnya adalah VOC. Puluhan tahun kemudian, salah satu minister
Kristen menyebutkan bahwa waktu itu yang mati belasan ribu orang.
Pada tahun 1912, SI di Solo ribut melawan orang Chinese. Menurut Toer,
keributan
itu adalah SI dimanfaatkan Belanda untuk menekan Chinese kaena Belanda takut

SI terlalu radikal dan menjadi anti Belanda. Tahun 1916 terjadi lagi
gerakan anti
Chinese dengan alasan yang relatif sama.

Kenapa kaum Chinese selalu menjadi korban kerusuhan di Indonesia? Kalau
menurut Toer, itu bukan karena hanya akibat perbedaan sosial. Namun, Toer
menyatakan sebab utamanya adalah orang-orang Chinese tak suka politik dan
karena itu tak punya juru bicara. Dia menekankan bahwa minoritas perlu ikut
berorganisasi dan politik; dan tanpa itu kerusuhan anti Chinese akan terus
terjadi
di Indonesia.

Namun, ada satu hal terutama yang perlu dilakukan untuk mempersatukan
Indonesia
kembali yakni memotong lingkaran setan sejarah agar tidak terulang kembali.
Untuk memotong lingkaran setan sejarah itu, perlu kita mempelajari sejarah
agar
kesalahan yang lama tak terulang dan ini perlu ditanamkan ke intelektual
Indonesia
yang baru. Dia percaya bahwa generasi muda sekarang ini bisa memotong
lingkaran
setan itu. Namun, yang perlu dilakukan terutama adalah belajar dari sejarah
dan
dari sini kita bisa melihat masa depan Indonesia yang bersatu dan makmur.


Yohanes Sulaiman



Tambahan:
Satu pengalaman sangat menarik dari teman saya yang di Madison.
Saya kutip ini tanpa ijin dia sayangnya.... Saya sudah berusaha mengontak
dia selama beberapa minggu, tapi dia tidak memberi kabar lagi, dan saya
assume dia tidak keberatan untuk dikutip.

---------
Saya ingin membagi sedikit percakapan saya dgn Pak PRAM. Saya bertanya kpd
beliau, "Apa yg bisa dilakukan mahasiswa di luar negeri secara konkrete,
bila ingin lebih ikut andil memperbaiki keadaan bangsa dan negara saat ini?"
Tanpa pikir panjang beliau bilang," Berani kamu kasih alamat kamu ke PRD
(Partai Rakyat Demokrat, salah satu partai yg ikut pemilu)?"

Saya bingung, kenapa Pak Pram ini mendukung PRD?? Apa hubungannya beliau
terhadap partai tersebut, saya sempat berpikir, jgn-2 malah Pram ini
kaki-tangan-nya PRD? Saya tanyakan sama Pram kenapa Bapak berkata begitu??
Lalu dgn tenang beliau menjawab,... Partai itu adalah partai Generasi Muda,
generasi Penerus Bangsa, masih bersih,.. tidak ada kepentingan pribadi.."

Saya terkesima mendengar jawaban yg simpel dan to the point tsb. Pramoedya
berkata gitu bukan demi kepentingan pribadi, sama sekali dia tak pernah
bermain dalam politik menjabat suatu jabatan. Beliau berkata begitu tak lain
dan tak bukan hanya untuk memberi dukungan bagi generasi muda, generasi yg
akan menentukan nasib bangsa Indonesia.

Namun sebagai org yg tak bisa lepas dari kepentingan pribadi, saya hanya
bisa diam 1000 bahasa. Masuk partai adalah suatu tindakan yg penuh resiko.
Seandainya saya adalah manusia yg berjalan sendiri tanpa beban tanggung
jawab dari keluarga, saya tanpa pikir panjang akan menyerahkan alamat saya.
Namun bagaimana jika nanti keluarga saya akan kena tanggungan akibat ulah
saya, berapa besarnya dosa saya terhadap keluarga yg sudah membesarkan saya.
Saya melangkah mundur.

Malamnya kejadian itu terus meghantui saya. Saya mendiskusikannya dgn
beberapa org Indo yg hadir juga di pertemuan dgn Pram. Namun mereka malah
mengetawai saya. Mereka bilang," HAHAHHAHA,.. pasti Pram pikir,... ah ini
anak cuma ngomongnya aja besar,.. pasti isi hatinya sebenarnya... cengi..
hanya seorang pengecut!"..pengecut..pengecut... sambil berulang-ulang mereka
mengatai saya pengecut.

Dalam hati saya berpikir," Emang kalian siapa berhak memvonis saya
"pengecut",.. apa kalian tidak akan melakukan hal yg sama jika berada di dlm
posisi saya?? Apa kalian tidak lebih pengecut dari saya? Dasar orang-2
picik... tidak pernah bercermin pada diri sendiri."

Tidak usah saya sebutkan siapa teman saya yg berkata saya pengecut. Mungkin
memang benar saya pengecut,... namun setidaknya saya sudah berani berkoar
mengeluarkan pendapat saya dalam mailing list ini.

Madison, WI
-----






History often repeats twice, the first time occurs as a tragedy,
the second time a farce.

                                              Karl Marx



The third time is a comedy
                                                                Unknown

Kirim email ke