>From: Mosal <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: 'Bincang' <[EMAIL PROTECTED]>, 'Indonesian Student Association
>Network GW' <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [bincang] FW: BIBEL & QUR'AN TTG KEPEMIMPINAN WANITA
>Date: Fri, 4 Jun 1999 00:12:54 -0400
>
>
>Mungkin yang beragama Kristen bisa mengomentari artikel dibawah ini.
>
>Mosal.
>
>----------------o0o----------------
>It may happen that you hate a thing which is good for you, and it may
>happen that you love a thing which is bad for you.
>
>-----Original Message-----
>From: [EMAIL PROTECTED] [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Wednesday, June 02, 1999 7:35 PM
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [imaam] Dari Bukutamu ICMI Web (2)
>
>No 59
>Tanggal 15-Apr-99
>Nama Paulus Hendriyanto
>E-mail [EMAIL PROTECTED]
>Alamat Keuskupan Semarang
>------------------------------------------------------------------------
>BIBEL & QUR'AN TTG KEPEMIMPINAN WANITA.
>
>Sebagai seorang Nasrani yang taat, sejak lama saya mendengar kalangan ummat
>Islam tidak bisa menerima pemimpin mereka bila berasal dari kaum wanita.
>Dasar mereka (kalangan Islam) adalah Al-Qur'an, yaitu Surat An-Nisaa ayat
>34,
>yang berbunyi :" Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
>karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
>yang lain(wanita)". Tampaknya hal inilah yang menyebabkan Gus Dur
>mengatakan
>belum lama ini seperti pernah dikutip Asia Week, bahwa sulit bagi Megawati
>untuk bisa diterima kalangan muslim kalau dia memaksakan diri untuk menjadi
>Presiden kelak. Seandainya yang naik adalah Guntur, kakak laki-laki mba
>Mega,
>saya rasa mereka tak berkeberatan untuk mendukungnya. Bagaimana dengan
>Iman-Kristiani? Ternyata Kitab BIBEL memerintahkan hal yang senada dengan
>Qur'an, yaitu menolak wanita bila dijadikan pemimpin dikalangan ummat
>ummatnya. Dasarnya adalah Kitab Perjanjian Baru yang dicantumkan dalam
>Kitab
>BIBEL : I Timothius 2 :12 yang berbunyi : "Tiada Aku mengizinkan seorang
>perempuan mengajar atau MEMERINTAH atas laki-laki, (tetapi) hendaklah ia
>berdiam diri". Dengan keterangan Al-Kitab ini menjadi jelaslah bagi
>kalangan
>ummat Nasrani, bahwa Tuhan Yesus dan Tuhan Bapak melalui firman-Nya telah
>melarang ummat-Nya untuk mengangkat wanita sebagai pemimpin untuk
>memerintah
>mereka. Ayat ini juga otomatis menjadi pedoman yang jelas bagi ummat
>Nasrani,
>bahwa ajaran iman mereka menolak bila wanita dijadikan pemimpin ummat,
>siapapun dia dan darimana pun datangnya. Oleh sebab itu sangat musykil bagi
>kami (ummat Nasrani) menerima kalau wanita dijadikan pemimpin Bangsa
>Indonesia untuk kalangan ummat Nasrani, karena kalau menerima beliau sama
>saja kami durhaka atau kafir dengan perintah Tuhan. Dan kami sangat
>menyadari
>betapa besarnya dosa bila ummat Nasrani mendurhakai perintah-Nya itu.
>Dengan
>pandangan keimanan yang diberitakan Al-Kitab untuk ummat Nasrani dan
>Al-Qur'an untuk kalangan muslim, berarti secara statistik ummat beragama di
>negeri ini mayoritas menolak bila wanita diangkat sebagai pimpinan mereka
>(bukankah ada 85 persen muslim plus 10 persen nasrani di Indonesia sekarang
>ini?). Bila ada ummat Nasrani ataupun ummat Islam yang tetap setuju bila
>pemimpin mereka diambilkan dari kalangan wanita, berarti mereka tidak
>memahami betul akan hakikat iman dan isi Kitab sucinya yang seharusnya
>mereka
>pedomani. Dalam hal sudah menjadi tugas dan tanggung-jawab kaum Rokhaniawan
>untuk menyadarkan ummatnya masing-masing, sebab mereka kelak pasti diminta
>pertangungan jawab oleh Tuhan akan kesungguhan mereka membawa domba-domba
>mereka ke arah jalan Tuhan Yang Esa. Saran saya untuk DPP PDI Perjuangan
>sebaiknya anda memperhatikan aspirasi yang berkembang dikalangan bawah ini.
>Selagi Habibie yang dianggap oleh sebagian kecil elit kekuasaan dan elit
>massa saja tidak 'legitamed' itu sudah kesulitan menjalankan roda
>Pemerintahan, apalah lagi kelak bila Bu Megawati dipaksakan naik jadi
>Presiden, pasti kerepotannya bisa luar biasa ..... bahkan bisa-bisa PDI
>Perjuangan mereka habisi ke akar-akarnya seperti PKI dulu. Meskipun UUD'45
>tidak mensyaratkan seorang Presiden RI harus beragama tertentu karena RI
>bukan negara agama, tetapi akar budaya setempat tidak bisa kita abaikan. Di
>Amerika Serikat saja tak ada larangan kaum kulit hitam jadi Presiden AS,
>tetapi bisakah mereka memilih dan beranikah mereka mengangkat orang kulit
>hitam sebagai kepala negaranya? Sama halnya di Inggris, beranikah mereka
>mengangkat seorang katholik menjadi Perdana Menterinya meskipun UU disana
>tidak mensyaratkan seorang PM Inggris harus beragam kristen-protestan?
>Demikian pula di Indonesia, UUD kita tak ada mencantumkan calon Presiden
>harus beragama Islam dan Pria, tapi beranikah kita memaksakan kehendak yang
>naik jadi Presiden RI seorang non-muslim dan wanita?
>
>Paulus Hendriyanto, Keuskupan SEMARANG, Jawa-Tengah, Indonesia.
>
>------------------------------------------------------------------------------
>--
>
>kunjungi :www.icmi.or.id
>
>
>
>
>-----------------------------------------------------------------------------
>Kongres dan Seminar Nasional PERMIAS 1999
>3-5 September 1999
>Host candidate: PERMIAS Washington, DC
>-----------------------------------------------------------------------------
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com