Buat nyang di DC, apa iya nih...ini bener tulisan CW?
Kok kayak tulisan orang sekelas peserta milis.....hehehe......

Taon 1976 emang anak Suharto udah ada nyang nyoba masuk dunia
bisnis gitu? Ah...ndak tahu juga ding...


'-------------------------
>Subject:       Surat Terbuka Christianto Wibisono buat Soeharto
 >
 >Pak Harto yth.
 >Saya menulis surat ini sebagai pribadi yang tidak terlalu mengenal secara
 >akrab walaupun secara publik kita dilibatkan dalam polemik dan perbedaan
 >pendapat sebagai lawan politik. Karena tradisi anda tidak suka menerima
 >lawan politik maka terus dianggap musuh politik seperti anda tega menghukum
 >Letjen Dharsono, mantan rekan seperjuangan yang turut menjadikan anda
 >Presiden RI kedua.
 >Dalam Kongres pertama World Competitive Congress di Bank Dunia Rabu 19 Mei
 >1999, Presiden Bank Dunia James Wolfensohn menyebut program perbaikan
 >kampung DKI sebagai salah satu kreasi orisinal DKI yang dijiplak dan
 >diterapkan oleh Bank Dunia dinegara berkembang yang lain. Tapi Indonesia
 >memubazirkan Ali Sadikin yang anda matikan secara perdata karena Petisi 50.
 >  Saya akan menggunakan panggilan Anda untuk mendemokratiskan kehidupan
 >publik di Indonesia yang telah Anda sulap secara menakjubkan menjadi
 >kehidupan neo feodal dengan watak Ken Arok dan pola KKN sebagai ciri utama
 >rezim yang Anda pimpin selama 32 tahun sejak anda mbalelo terhadap Bung
 >Karno menolak ke Halim 1 Oktober 1965.
 >Hampir setahun yang lalu, saya selaku Direktur PDBI telah mengumumkan
 >estimasi asset dari imperium bisnis keluarga Soeharto beserta kroninya yang
 >total mencapai Rp. 200 trilyun. Karena kurs yang berubah ubah maka nilainya
 >dalam US$ tentu berbeda dari apa yang diungkapkan TIME.
 >Pada 10 November 1975 di Istana Negara, Pemerintah RI memberi penghargaan
 >atas esei saya dalam Sayembara Mengarang menyambut 30 tahun kemerdekaan RI.
 >  Dalam esei yang berjudul Perang Kemerdekaan sebagai Sumber Inspirasi Bagi
 >Generasi Pembangunan Indonesia itu saya telah mengusulkan penerapan UU Anti
 >Monopoli dan UU Small Business seperti di AS untuk memberi fundamen kuat
 >bagi ekonomi Indonesia.. Sayang bahwa kemudian Anda tetap saja mendistorsi
 >pasar melalui imperium bisnis keluarga anda yang mengakuisisi segala bidang
 >bisnis secara predator.
 >Esei yang memenangkan hadiah itu bersama kumpulan tulisan saya di mingguan
 >kampus Salemba kemudian diterbitkan dalam buku kecil Wawancara Imajiner
 >dengan Bung Karno.(WIBK) Disitu saya telah mengusulkan agar Anda rela turun
 >mengikuti jejak Presiden AS, yang juga jendral, George Washington yang
 >menjadi panutan dengan membatasi masa jabatan presiden hanya dua kali.
 >Rekan saya Wimar Witular dan Dewan Mahasiswa ITB menggulirkan tuntutan itu
 >dalam seruan Dewan Mahasiswa se Indonesia secara lebih vokal menjelang SU
 >MPR 1978. Akibatnya Dewan Mahasiswa se Indonesia dibubarkan, kampus ITB
 >diserbu tentara, dua Rektor ITB dipecat dan bahkan rumah Prof DR Iskandar
 >Alisyahbana ditembaki teroris politik dan Anda kembali membreidel koran
 >seperti Kompas dan Sinar Harapan termasuk buku saya WIBK.
 >Sebetulnya posisi Anda sudah terpojok saat itu karena Anda sendiri baru
 >saja (1976) memecat Dirut Pertamina Ibnu Sutowo dengan tuduhan
 >membangkrutkan Pertamina dengan US$ 10 milyar. Mahasiswa dan masyarakat
 >menolak Anda karena pada 1974 Anda justru membreidel Indonesia Raya yang
 >sudah membongkar praktek praktek korupsi di Pertamina. Seandainya Anda pada
 >1974 memecat Ibnu lebih dulu, tentu negara tidak perlu kehilangan US$ 10
 >milyar ditahun 1976. Tapi sekarang Ibnu Sutowo berani membantah soal utang
 >itu dan menyatakan bahwa ia dipecat karena menolak memberi izin perusahaan
 >anak Anda menjadi broker crude oil. Jadi dari crude oil ini Anda sudah
 >mengumpulkan berapa milyar dollar untuk pungutan US$ 0.30-0.35 per barel
 >per hari.
 >Produksi Indonesia 1 juta barel per hari sehingga Anda ~FH Pak Harto yang
 >saya sayangi sebagai sesama kakek yang sayang cucu,
 >Pada tahun 1978 itu Anda membubarkan Dewan Mahasiswa dan menyuruh Daoed
 >Joesoef memutar otak membuat teori menjinakkan mahasiwa dengan konsep
 >Normalisasi Kehidupan Kampus disingkat NKK. Anda perhatikan bahwa Anda
 >harus memakan karma Anda sendiri digulingkan oleh demo mahasiswa yang
 >berjuang anti KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) sebagai antithese dari
 >NKK. Seandainya tahun 1978 itu Anda mengundurkan diri, barangkali Anda
 >tidak akan dihujat seperti sekarang.
 >Selama 20 tahun sejak anda lolos dari tuntutan mahasiswa tahun 1978, Anda
 >merasa sebagai Super Sultan yang berhak memungut komisi 3% dari PDB
 >Indonesia yang tumbuh 8%. Oleh Lee Kuan Yew dalam wawancara dengan The
 >Financial Times 15 Mei 1999 dianggap lumrah dalam tradisi Indonesia yang
 >masih primordial dan feodal serta tidak mengenal konsep conflict of
 >interest. Namun untuk fair terhadap Anda, saya rasa Anda dan pengacara Anda
 >benar, bahwa praktek KKN itu bukan monopoli Anda dan keluarga anda secara
 >eksklusif. Sejak zaman Bung Karno sudah ada KKN dan pola diktatur juga
 >bukan baru Anda praktekkan melainkan sudah dimulai sejak AH Nasution
 >menahan lawan politik Masyumi/PSI setelah pemberontakan PRRI./Permesta.
 >Karena itu ketika saya mengumumkan estimasi asset imperium bisnis Anda
 >berikut keluarga dan kroni pada 1 Juni 1998 saya tidak pernah mengusulkan
 >suatu tindakan balas dendam atau hukuman. Yang saya usulkan ialah Amnesti
 >umum terhadap praktek KKN oleh seluruh mantan pejabat, pejabat yang masih
 >bercokol dan pengusaha kroni yang mengeksploitir pola KKN secara mencolok
 >dan kumulatif selama rezim Orde Baru.
 >Anda dan pengacara Anda sekarang sering mengutip kepastian dan perlindungan
 >hukum sedang sejak dulu Anda menginjak injak hukum dan memperlakukan lawan
 >politik secara semena mena dan tidak menghormati hak asasi tahanan politik.
 >  Melalui aparatur intelijen yang brutal Anda telah mengirim ratusan orang
 >ke penjara sejak zaman Malari seperti Syahrir, Hariman Siregar, Sarbini ,
 >Mochtar Lubis, Dorojatun Kuntjorojakti , Marsilam Simandjuntak , Buyung
 >Nasution dan banyak lagi.
 >Kemudian dalam kloter lain Dharsono, Sanusi, AM Fatwa, Sri Bintang
 >Pamungkas dan Budiman Sudjatmiko serta ribuan lagi nama yang kurang dikenal
 >yang menderita dibawah rezim Anda yang kejam dan keji.
 >Mengenai itupun Anda akan menyatakan bahwa Anda sudah dibebaskan dari
 >pertanggungan jawab karena MPR yang sebagian terbesar Anda angkat, selalu
 >memilih Anda sebanyak 6 kali termasuk yang kemudian akan memecat Anda
 >dibawah kepemimpinan Harmoko. Buku WIBK 1977 telah mengingatkan bahwa jika
 >Anda tidak berjiwa besar seperti negarawan, Anda akan mengalami nasib
 >seperti Ken Arok yang mengkudeta Tunggul Ametung tapi akan dikudeta oleh
 >bawahan Anda sendiri melalui kutukan keris Empu Gandring, kudeta berantai.
 >Jendral Besar Soeharto yang patut dikasihani,
 >Anda masih tetap ngotot merasa benar dalam politik Anda. Tidakkah Anda
 >merasa berdosa atas peristiwa berikut: 1. Membiarkan Yani terbunuh dan
 >tidak memberi perlindungan walaupun anda sudah dilapori oleh Latief lebih
 >dulu soal rencana penculikan dan pembunuhan. 2 Membiarkan ratusan ribu
 >sampai jutaan massa PKI yang tidak bersalah dosa dibunuhi, karena anda
 >memvonnis PKI sebagai dalang G30S. 3.
 >Menjebak SarwoEdie Wibowo untuk melepaskan jabatan Kepala BP7 dengan
 >imingan Ketua MPR/DPR 1988-1993 tapi Anda turunkan pangkat jadi anggota
 >biasa DPR sehingga Sarwo Edie mati mengenaskan karena frustrasi berat. 4.
 >Memenjarakan Dharsono dan tidak memberi tempat jazadnya dimakam pahlawan,
 >sedang seorang H Thahir bisa ditempatkan di TMP Kalibata dengan rekening
 >ratusan juta US$ dibawa kabur oleh jandanya ke Swiss. 5. Membiarkan oknum
 >ABRI merajalela di Aceh, Irja dan Timtim, menculiki, membunuhi, menembaki
 >dan memperkosa unsur masyarakat yang tertindas.
 >Anda sekarang merasa difitnah oleh Time, tidakkah Anda merasa telah
 >memfitnah jutaan orang secara keji, tega dan tidak menghormati hukum
 >praduga tak bersalah dan hak asasi manusia? Fitnah itu lebih kejam dari
 >pembunuhan, saya setuju ungkapan itu, tapi tidak berarti Anda boleh
 >membunuh seenaknya atas nama berhala negara apalagi sekedar atasnama rezim
 >Orde Baru yang penuh noda KKN.
 >Terakhir, tidakkah Anda merasa berdosa telah membiarkan massa menjarah,
 >membakar gereja dan membantai serta memperkosa keturunan Tionghoa pada dua
 >tahun terakhir rezim KKN anda yang busuk?
 >Tidakkah anda merasa berdosa telah menebarkan benih adu domba, perang antar
 >suku karena anda memupuk dan mengembangkan budaya Ken Arok, memvonnis orang
 >yang berbeda pendapat dengan anda, melalui eksploitasi latar belakang suku,
 >ras ,etnis dan atau agamanya.
 >Kalau anda ingin memecat orang anda gunakan alasan yang memupuk sentimen
 >SARA karena yang paling penting bagi Anda adalah kelestarian jabatan
 >presiden dan Anda bersedia melakukan apa saja untuk mempertahankan kursi
 >itu.
 >Jendral Soeharto,
 >
 >Yang mengagumkan saya ialah Anda (ranking 29) masih tetap dianggap lebih
 >powerful dari Presiden Habibie (ranking 31) menurut Asia Power 50 majalah
 >Asiaweek terbaru. Karena itu saya sebetulnya tidak terlalu berminat
 >mempersoalkan harta KKN anda yang sudah basi sejak tahun lalu. Yang masih
 >tetap menjadi concern saya ialah utang darah dan jiwa yang meledak pada
 >12-14 Mei ketika mahasiswa ditembaki dan keturunan Tionghoa serta rakyat
 >miskin pribumi dikambinghitamkan dan dikorbankan sekaligus oleh oknum dan
 >aparat rezim yang anda pimpin.
 >Jendral Soeharto yang patut dikasihani,
 >Saya tidak mempunyai dendam pribadi kepada Anda walaupun saya telah
 >menerima ancaman teror pembunuhan dari orang bernama Ponidjan yang
 >mengagumi dan membela Anda dan yang mensyukuri bahwa rumah anak saya
 >dibakar dan dijarah massa. Karena itu saya konsisten dengan usul saya untuk
 >Amnesti Umum terhadap harta elite Indonesia, pejabat dan kroni sepanjang
 >mereka membayar pajak tertinggi 30% dan denda 25% sehingga total asset 55%
 >harus diserahkan kepada negara. Ini bukan soal Soeharto pribadi dan
 >keluarga dan kroni, tapi berlaku juga untuk mantan bawahan Soeharto siapa
 >saja, termasuk penggantinya dan elite berpangkat apa saja dan dimana saja.
 >Khusus dalam soal kejahatan anda terhadap kemanusiaan, crime against
 >humanity, yang telah menteror dan menculiki, membunuhi dan memperkosa
 >jutaan manusia sejak massa PKI sampai terakhir insiden 12-14 Mei, saya
 >hanya ingin mendoakan kiranya Tuhan memberikan pertobatan lahir batin
 >kepada anda bukan cuma dalam statemen di TV.
 >Pakailah harta Anda sekeluarga untuk memberi ganti rugi, menghibur dan
 >menyantuni keluarga rakyat yang menderita karena dulu ditindas oleh oknum
 >aparat yang anda pimpin selama 32 tahun. Pakailah harta Anda untuk bagian
 >proses penebusan dosa Anda dengan rezim yang telah membunuh atau memperkosa
 >atau memenjarakan anggota keluarga dari rakyat Indonesia yang mestinya Anda
 >lindungi tapi telah Anda perlakukan kejam hanya demi Machiavelisme dan
 >sifat Ken Arok yang anda pertahankan selama ini.
 >Bila Anda masih tetap ngotot dengan rasa suci, tidak berdosa, yang berdosa
 >hanya orang lain dan Anda tetap koppig seperti kata Bung Karno ketika
 >menolak anda jadi pengganti Yani. Maka tidak ada orang lain yang bisa
 >mengampuni dan menyelamatkan Anda kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Dan saya
 >yakin bahwa Tuhan itu hanya satu, tidak ada Allah bagi Islam, Tuhan bagi
 >Kristen, semua adalah satu yang akan menilai dan memvonnis kita secara
 >MahaAdil.
 >Saya tahu bahwa Anda sekarang sedang diadili dan dihukum oleh Tuhan Yang
 >Maha Kuasa di dalam hati nurani Anda sendiri yang bergejolak Anda heran
 >kenapa mendadak rezim anda bangkrut dan anda digusur dari kursi
 >kepresidenan.
 >Jadi kalaupun Pengadilan Negeri, Presiden Habibie dan Jaksa Agung tidak
 >mampu mengadili Anda, Hati Nurani dan Publik Opini telah mengadili Anda
 >secara tuntas dan lugas. Yang lebih menyedihkan, sejarah tidak akan
 >mencatat Anda sebagai Bapak Pembangunan yang Sukses, melainkan sebagai
 >Bapak Kebangkrutan dan Keterpurukan Nasional Indonesia 1997-1998. Saya
 >tidak mampu menghimbau Anda jadi George Washington tahun 1978, tapi mudah
 >mudahan saya bisa jadi dai yang mendorong Anda bertobat tahun 1999 ini.
 >Tapi saya bukan termasuk Asia Power 50 karena itu barangkali nasib surat
 >ini juga akan sama dengan himbauan saya tahun 1978. Tidak apa apa, saya
 >sudah melakukan tugas sebagai wartawan sejati yang prihatin dengan kondisi
 >bangsa dan negara saat ini.
 >

--
Salam,
Jaya


--> I disapprove of what you say, but I will
    defend to death your right to say it. - Voltaire

               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke