Ane kok pas banget nih sama pendapate Arief Budiman.
Pas 100 persen ndak pake diskon, rebate, atau apa lagi dah....

http://kompas.com/kompas-cetak/berita-terbaru/1364.html

--
Salam,
Jaya


Title: Jika Mega Jadi Presiden atau Kalau Golkar Kembali Berkuasa... - Rabu, 9 Juni 1999, 19:05 WIB - Kompas Online
We Care IndonesiaIklan Baris
KOMPAS Online
  Kompas Cyber Media
Koran Daerah
Rabu, 9 Juni 1999, 19:05 WIB
Arief Budiman:
Jika Mega Jadi Presiden atau Kalau Golkar Kembali Berkuasa...

Solo, Kompas

Mengandaikan PDI Perjuangan kelak memegang kekuasaan setelah meraih suara mayoritas, maupun justru Partai Golkar yang ternyata muncul sebagai pemenang -- mengingat penghitungan suara sampai hari ini masih berlangsung, dalam pandangan dan prediksi pengamat politik pembangunan Prof Dr Arief Budiman, keduanya mengandung optimisme serta pesimisme.

Kepada wartawan di Solo, Selasa (8/6) malam, Prof Arief Budiman yang kini mengajar di Melbourne University, Australia memaparkan asumsi-asumsinya terhadap hasil (sementara) Pemilu 1999, serta prospeknya ke depan. Ia menunjukkan kekuatan sekaligus titik-titik lemah pada setiap parpol besar. Termasuk sifat kepemimpinan parpol bersangkutan.

Dari perolehan suara sementara Prof Arief memperkirakan, PDI Perjuangan akan mendapatkan suara antara 25-30 persen. "Yang menarik dari sukses PDI Perjuangan ini, isu agama Islam (yang sempat bertiup) terhadap peminat PDI Perjuangan, rupanya tidak berpengaruh. Islam sebagai isu ternyata tidak bisa dimainkan lagi," katanya.

Ia menyatakan optimis, kalau PDI Perjuangan berkuasa, agendanya akan reformis karena Megawati punya penasihat-penasihat yang bagus seperti Kwik Kian Gie, Laksamana Sukardi, Sabam Sirait. Hanya ia melihat masalah atas keberadaan Theo Syafei yang berunsur militer.

Kekuasaan besar
Arief Budiman yang mantan pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, juga menyampaikan pandangan kritisnya terhadap kepemimpinan Megawati Soekarnoputri.

Menurut dia, Megawati memiliki kekuasaan yang sangat besar,
tapi kapasitasnya sebagai pemimpin dan pengetahuannya terbatas.
"Jadi ada gap. Namun di negeri ini orang tidak mau empersoalkan,
apakah seseorang itu punya kapasitas memimpin atau tidak dikaitkan dengan kekuasaan dan legitimasinya," ungkapnya.

Prof Arief mengatakan, karena daya tangkap dan persepsinya
dalam berpolitik terbatas, keputusan-keputusan yang diambil Mega
bersifat instinktif daripada hasil suatu analisa yang tajam. Selama ini keputusan-keputusannya lebih banyak dipengaruhi oleh para penasihatnya yang tampaknya terdiri dari fraksi-fraksi pula.

Ia mengakui, syarat pertama menjadi presiden RI adalah moral, bukan soal korup. Eksyus (faktor pemaaf) orang terhadap Megawati, katanya, walau Mega tidak pintar tapi moralnya kuat. Namun itu saja tidak cukup, sebab kelak akan banyak keputusan politik yang diambil.

Arief juga menilai, sifat kepemimpinan Megawati bersifat mistis -- seperti juga Gus Dur di PKB. Selain itu, Megawati tampak sangat berkuasa di antara pengurus teras PDI Perjuangan. Hubungannya dengan fungsionaris lainnya feodalistis, karena tidak ada perdebatan.

Kalau Golkar berkuasa
Prof Arief Budiman berpendapat, PAN sebenarnya lebih
menjanjikan, karena sebagai partai modern dan programnya jelas.
Amien Rais berusaha membuat paradigma partai politik baru dengan
melakukan koalisi antara unsur Islam, agama-agama lain dan
sekularisme. "PAN adalah partai yang keluar dari kandang-kandang
primordial (Islam), dan mencoba merangkul kelompok sekuler, termasuk warga keturunan Cina," katanya.

Tetapi PAN ternyata tidak mencapai hasil yang memuaskan.
"Mungkin orang belum percaya pada Amien Rais karena masa lalunya
yang sektarian. Para pemilih di bawah bingung, mereka mau melihat warna yang jelas," Arief menduga.

Dari perhitungan suara yang berubah-ubah, ia melihat suara
Partai Golkar nampaknya masih akan bertambah, dan tak tertutup
kemungkinan Golkar akan muncul sebagai pemenang dalam perhitungan akhir nanti.

Prof Arief berasumsi, kalau Gokar menang, maka kemenangan itu hanya bersifat legal, atau resmi menang dalam perhitungan suara. "Tapi Partai Golkar tidak akan punya legitimasi. Rakyat mungkin akan menolak, karena mereka berpikir, Golkar yang telah merusak negara ini selama 30 tahun kok memerintah lagi?" ujarnya.

Kalau Golkar berkuasa kembali, lanjutnya, maka akan banyak
timbul instabilitas politik. Apalagi massa PDI Perjuangan, mereka pasti akan "mengganggu".

Ia memprediksi, seandainya nanti Golkar menang (berkuasa),
Golkar memang akan tetap menjalankan agenda reformasi. Bukan atas kemauannya, tapi karena dipaksa oleh kekuatan-kekuatan rakyat. Ia juga yakin, kalau Golkar berkuasa, mereka tidak akan berani membredel pers lagi.

Lebih jauh ia memperkirakan, andaikata Golkar berkuasa, maka Golkar tidak mau berkuasa sendirian, tetapi akan berkoalisi dengan salah satu partai reformis untuk membuat wajah pemerintahan yang reformis.

"Bukan tidak mungkin," katanya, "kalau Golkar berkuasa dia akan menawari Amien Rais menjadi presiden, lalu di bawahnya Golkar, jadi kombinasi. Maksudnya, supaya image pemerintah yang ini tidak berarti kembalinya rezim lama."

Koalisi Partai Golkar itu, lanjutnya, juga mungkin dilakukan dengan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, Ketua PBNU). Namun koalisi serupa tak mungkin dengan Megawati, karena lukanya terlalu "keras". Tapi bisa juga terjadi, karena politik bersifat pragmatis. (asa)



Arief Budiman:
Jika Mega Jadi Presiden atau Kalau Golkar Kembali Berkuasa...

Solo, Kompas
Mengandaikan PDI Perjuangan kelak memegang kekuasaan setelah
meraih suara mayoritas, maupun justru Partai Golkar yang ternyata
muncul sebagai pemenang -- mengingat penghitungan suara sampai hari
ini masih berlangsung, dalam pandangan dan prediksi pengamat politik
pembangunan Prof Dr Arief Budiman, keduanya mengandung optimisme
serta pesimisme.
Kepada wartawan di Solo, Selasa (8/6) malam, Prof Arief Budiman
yang kini mengajar di Melbourne University, Australia memaparkan
asumsi-asumsinya terhadap hasil (sementara) Pemilu 1999, serta
prospeknya ke depan. Ia menunjukkan kekuatan sekaligus titik-titik
lemah pada setiap parpol besar. Termasuk sifat kepemimpinan parpol
bersangkutan.
Dari perolehan suara sementara Prof Arief memperkirakan, PDI
Perjuangan akan mendapatkan suara antara 25-30 persen. "Yang menarik
dari sukses PDI Perjuangan ini, isu agama Islam (yang sempat
bertiup) terhadap peminat PDI Perjuangan, rupanya tidak berpengaruh.
Islam sebagai isu ternyata tidak bisa dimainkan lagi," katanya.
Ia menyatakan optimis, kalau PDI Perjuangan berkuasa, agendanya
akan reformis karena Megawati punya penasihat-penasihat yang bagus
seperti Kwik Kian Gie, Laksamana Sukardi, Sabam Sirait. Hanya ia
melihat masalah atas keberadaan Theo Syafei yang berunsur militer.
Kekuasaan besar
Arief Budiman yang mantan pengajar di Universitas Kristen Satya
Wacana (UKSW) Salatiga, juga menyampaikan pandangan kritisnya
terhadap kepemimpinan Megawati Soekarnoputri.
Menurut dia, Megawati memiliki kekuasaan yang sangat besar,
tapi kapasitasnya sebagai pemimpin dan pengetahuannya terbatas.
"Jadi ada gap. Namun di negeri ini orang tidak mau mempersoalkan,
apakah seseorang itu punya kapasitas memimpin atau tidak dikaitkan
dengan kekuasaan dan legitimasinya," ungkapnya.
Prof Arief mengatakan, karena daya tangkap dan persepsinya
dalam berpolitik terbatas, keputusan-keputusan yang diambil Mega
bersifat instinktif daripada hasil suatu analisa yang tajam. Selama
ini keputusan-keputusannya lebih banyak dipengaruhi oleh para
penasihatnya yang tampaknya terdiri dari fraksi-fraksi pula.
Ia mengakui, syarat pertama menjadi presiden RI adalah moral,
bukan soal korup. Eksyus (faktor pemaaf) orang terhadap Megawati,
katanya, walau Mega tidak pintar tapi moralnya kuat. Namun itu saja
tidak cukup, sebab kelak akan banyak keputusan politik yang diambil.
Arief juga menilai, sifat kepemimpinan Megawati bersifat mistis --
seperti juga Gus Dur di PKB. Selain itu, Megawati tampak sangat
berkuasa di antara pengurus teras PDI Perjuangan. Hubungannya dengan
fungsionaris lainnya feodalistis, karena tidak ada perdebatan.
Kalau Golkar berkuasa
Prof Arief Budiman berpendapat, PAN sebenarnya lebih
menjanjikan, karena sebagai partai modern dan programnya jelas.
Amien Rais berusaha membuat paradigma partai politik baru dengan
melakukan koalisi antara unsur Islam, agama-agama lain dan
sekularisme. "PAN adalah partai yang keluar dari kandang-kandang
primordial (Islam), dan mencoba merangkul kelompok sekuler, termasuk
warga keturunan Cina," katanya.
Tetapi PAN ternyata tidak mencapai hasil yang memuaskan.
"Mungkin orang belum percaya pada Amien Rais karena masa lalunya
yang sektarian. Para pemilih di bawah bingung, mereka mau melihat
warna yang jelas," Arief menduga.
Dari perhitungan suara yang berubah-ubah, ia melihat suara
Partai Golkar nampaknya masih akan bertambah, dan tak tertutup
kemungkinan Golkar akan muncul sebagai pemenang dalam perhitungan
akhir nanti.
Prof Arief berasumsi, kalau Gokar menang, maka kemenangan itu
hanya bersifat legal, atau resmi menang dalam perhitungan suara.
"Tapi Partai Golkar tidak akan punya legitimasi. Rakyat mungkin akan
menolak, karena mereka berpikir, Golkar yang telah merusak negara
ini selama 30 tahun kok memerintah lagi?" ujarnya.
Kalau Golkar berkuasa kembali, lanjutnya, maka akan banyak
timbul instabilitas politik. Apalagi massa PDI Perjuangan, mereka
pasti akan "mengganggu".
Ia memprediksi, seandainya nanti Golkar menang (berkuasa),
Golkar memang akan tetap menjalankan agenda reformasi. Bukan atas
kemauannya, tapi karena dipaksa oleh kekuatan-kekuatan rakyat. Ia
juga yakin, kalau Golkar berkuasa, mereka tidak akan berani
membredel pers lagi.
Lebih jauh ia memperkirakan, andaikata Golkar berkuasa, maka
Golkar tidak mau berkuasa sendirian, tetapi akan berkoalisi dengan
salah satu partai reformis untuk membuat wajah pemerintahan yang
reformis.
"Bukan tidak mungkin," katanya, "kalau Golkar berkuasa dia akan
menawari Amien Rais menjadi presiden, lalu di bawahnya Golkar, jadi
kombinasi. Maksudnya, supaya image pemerintah yang ini tidak berarti
kembalinya rezim lama."
Koalisi Partai Golkar itu, lanjutnya, juga mungkin dilakukan
dengan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, Ketua PBNU). Namun koalisi
serupa tak mungkin dengan Megawati, karena lukanya terlalu "keras".
Tapi bisa juga terjadi, karena politik bersifat pragmatis. (asa)




Kompas Cyber Media
KOMPAS Online
© C o p y r i g h t   1 9 9 8   Harian KompasD e s i g n e d  b y  Agrakom

Kirim email ke