Terus terang, akhir2 ini saya mulai mengkhawatirkan
ucapan2 Amien Rais yg tampaknya mulai keluar dari
janji semula.

Saya kutipkan saja dua paragraf terakhir dari berita di
harian Berita Buana yg selengkapnya dapat anda
baca di:
http://www.beritabuana.co.id/10061999/10061999_26.html

----kutipan----
Ketika ditanya kembali kesediaannya untuk menjadi wakil presiden,
Amien menjawab akan melihat dulu substansi dari jabatan itu.
"Kalau saya menjadi wapres hanya untuk meresmikan pembukaan
turnamen badminton atau menemui tamu luar negeri untuk sekadar
basa-basi, saya pikir menjadi khotib di Mesjid Syuhada di Yogya
itu lebih bermakna," katanya.

Menyinggung masalah oposisi, Amien mengatakan, pada prinsipnya
PAN bisa bekerja sama dengan siapa saja, asal tujuannya untuk kebajikan.
"Kita bisa bekerja sama dengan kekuatan atau partai mana pun, asal
reformasi jalan terus," katanya. Saat para wartawan menanyakan apakah
PAN mungkin berkoalisi dengan Golkar, Amien mengatakan mungkin saja,
tapi  itu akan menjadi pilihan yang terakhir.
--------------------------------

Irwan:
Dua paragraf di atas memuat dua pernyataan yg menurut
saya bertentangan dengan janji2 pada kampanyenya yg lalu.
Masih segara dalam ingatan saya bagaimana Amien Rais
mengatakan bahwa dia maunya jadi presiden, kalau ngga
bisa jadi presiden lebih baik dia menjadi oposan. Sikap
seperti ini saya dukung karena memang kita membutuhkan
tenaga2 yg dapat melakukan kontrol terhadap jalannya
pemerintahan kelak. Tapi ucapan diatas yg menyatakan
kesediaannya sebagai wapres atau orang kedua?
Ah...bung Amien, semoga anda tidak menghianati
janji2 kampanye anda.

Paragraf berikutnya menurut saya juga sudah melanggar
janji kampanye yg mengatakan tidak akan berkoalisi
dengan Golkar (tolong saya dikoreksi kalau dia tidak
menyatakan demikian). Sayangnya, koq sikap dia berubah
dengan mengucapkan kata2 di atas.
Saya jadi bertanya, kenapa harus membuka kemungkinan
berkoalisi dengan Golkar? Tujuan koalisi nantinya untuk apa?
Kalau koalisi untuk menjadi oposan, menurut saya sangat
aneh dan sangat tidak bisa dimengerti mengingat setelah
pemerintahan terbentuk, maka para anggota DPR nantinya
akan menyuarakan suara rakyat dan bukan suara partai.
Karenanya, bisa saja terjadi peristiwa anggota PDIP
tidak menyetujui peraturan/UU yg diusulkan oleh pemerintahan
kabinet dari PDIP sendiri. Kalau untuk menjadi oposan
dengan berencana berkoalisi di awal sebelum kejadian
masalah atau kebijakan pemerintah yg akan datang yg akan
ditentang itu apa, khan jadi aneh  kedengarannya.

Itu saja pendapat saya kali ini. Semoga rekan2 dari
PAN bisa mengingatkan garis perjuangan reformasi
kita. Jangan sampai Amien Rais yg sudah kadung mendapat
julukan salah satu tokoh reformasi jadi rusak karena
berkoalisi dengan Golkar yg diperanginya selama
kampanye kemarin. Menurut saya, kesalahan
melangkah Amien Rais kali ini akan berakibat fatal
karena akan menghancurkan karir politik dia selamanya.
Padahal dari pengamatan saya, tampaknya ada pendapat2
yg mengatakan bahwa Amien Rais itu akan punya peluang
yg besar menjadi presiden RI periode 2004-2009 asalkan
dia bisa konsisten dengan garis perjuangannya.
Mereka umumnya beranggapan PAN adalah partai baru
yg masih tumbuh dan butuh waktu untuk mendapat
pengakuan dan dukungan dari rakyat. PAN adalah salah
satu partai yg punya potensi besar di masa mendatang.
Mereka akan memantau sepak terjang PAN dalam tahun2
mendatang apakah akan konsisten dalam garis perjuangan
ataukah tidak.

Menyadari hal ini, karenanya akan sungguh berbahaya
sekali bila Amien Rais melakukan manuver2 politik yg
bisa menghancurkan karir politiknya di masa mendatang.

Semoga mendapat perhatian dari Amien Rais dan rekan2
seperjuangan simpatisan PAN.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke