Harap jangan terjebak dulu dengan istilah "pendudukan" Mesjid Al Aqsa oleh
Israel. Mungkin cuplikan artikel ini bisa membuat kita lebih objektif.
(Terima kasih buat Bung Piter H. Winata).

Wassalam,
Efron
======
PERDAMAIAN  ISRAEL - ARAB
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB  242, tanggal 22.11.1967, intinya sebagai
berikut :
*       Penarikan mundur militer Israel dari teritori yang didudukinya dalam
konflik terakhir (perang 6 hari 1967).
*       Penghapusan keadaan perang & sikap bermusuhan, menghormati &
mengakui kedaulatan _ integritas teritori _ kemerdekaan politis _ SETIAP
negara di Timur Tengah (termasuk Israel) dan hak mereka untuk hidup damai _
bebas dari ancaman & kekerasan _ dalam perbatasan yang diakui internasional.

        Negara negara Arab TIDAK memperdulikan resolusi tsb di atas, dan
terus mengaktifkan permusuhan sampai akhirnya meletus perang Yom Kipur 1973.
Sebaliknya Israel  menegaskan siap mundur dari seluruh Sinai & jalur Gaza,
siap menyerahkan 90% tepi barat sungai Jordan & dataran tinggi Golan _ 10%
lagi dipertahankan atas alasan keagamaan - keamanan - ekonomis, mengenai
Jerusalem Timur Israel siap merundingkan hak Jordania & Palestina mengelola
tempat suci Islam _ tetapi kedaulatan penuh atas kota suci tersebut tidak
dapat diganggu-gugat _ tetap di tangan Israel.
        CATATAN:
        Angka 90% menyangkut penarikan dari Tepi Barat (Judea-Samaria)
adalah "janji" Partai Buruh Israel dan kelompok kiri lainnya, sedangkan
Partai Likud dan kelompok kanan hanya berhasrat men-yerahkan 40% - 50%.
        Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB  338, tanggal 22.10.1973, intinya
sebagai berikut  :
*       Penghentian segera  tembak menembak & semua gerakan militer
*       Pelaksanaan  segera  resolusi DK PBB  242  (1967)
*       Perundingan segera demi terciptanya perdamaian yg langgeng & adil.

        November 1977  atas usaha baik Presiden Carter,  PM Menahem Begin
(Israel) mengundang Presiden Anwar Sadat (Mesir) berkunjung ke Jerusalem
guna membicarakan perdamaian secara langsung, Sadat menyanggupi meski
ditentang banyak pemimpin Arab lainnya.
        26.03.1979  Israel dan Mesir menanda-tangani perjanjian Camp David
dan menjalin hubungan diplomatik penuh, Israel mundur dari seluruh
semenanjung Sinai, imbalannya Mesir menjamin keamanan transportasi Israel
lewat terusan Suez dan menjual minyak dengan harga pasaran.
        11.04.1987  tercapai saling pengertian antara Israel dan Jordania,
yang menyepakati issue2 dasar.
        25.07.1994  Israel dan Jordania sepakat berdamai dan menjalin
hubungan diplomatik penuh, Israel menghormati peran khusus Jordania atas
tempat2 suci Islam di Jerusalem Timur, tetapi tetap menegaskan kedaulatan
atas kota suci itu seutuhnya ada di tangan Israel.
        09.09.1993 pemimpin PLO, Yasser Arafat, atas nama rakyat Palestina
menyurati PM Yitzhak Rabin (Israel) yang menegaskan:
*       Palestina mengakui negara Israel untuk hidup damai & aman
*       PLO menerima resolusi DK PBB 242 & 338
*       Penolakan terhadap terorisme & kekerasan
*       Pasal dari Piagam Palestina yang menyerukan pemusnahan negara Israel
dibekukan, lewat sidang Majelis Nasional Palestina (Parlemen) akan
dibatalkan.

        CATATAN:
        Pasal dari Piagam Palestina yang menyerukan penghancuran negara
Israel SAMPAI SEKARANG INI (Nov 98) masih BELUM dihapuskan!
        09.09.1993  PM Yitzhak Rabin membalas:
*       Israel mengakui PLO sebagai wakil sah bangsa Palestina
*       Israel siap memulai negosiasi dengan PLO.

        13.09.1993 disepakati Deklarasi Prinsip (perjanjian Oslo I )
        Israel-Palestina mengenai issue issue dasar seperti:
*       Penarikan segera militer Israel dari jalur Gaza & Jericho,
pembentukan pemerintah otonomi sementara Palestina di dua daerah tersebut
*       Penarikan militer Israel dari 7 kota lainnya, pemilihan umum untuk
pemerintah otonomi & parlemen Palestina, penarikan militer Israel dari desa2
& jalan2 utama di tepi barat sungai Jordan, akan disepakati dalam perjanjian
Oslo II (penarikan dari Gaza, Jericho & 7 kota sudah dilaksanakan Israel)
*       Masalah pelik seperti :  Jerusalem Timur, pengungsi, batas akhir dll
akan disepakati dalam perjanjian Oslo III  (belum pernah terlaksana!).
==============

-----Original Message-----
From:   Mardhika Wisesa [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent:   Friday, 11 June, 1999 8:17 AM
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        Re: [Rencana Hubungan  Diplomatik RI-Israel melukai Ummat
Islam di Indonesia]

Mungkin memang masih terlalu dini bagi Indonesia untuk
dapat segera membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Pertama, memang dikarenakan Israel masih menduduki
Mesjid Al-Aqsa di Yerusalem, dan kedua masih belum
seratus persen diselesaikannya masalah dengan Israel,
apalagi dengan adanya Pemerintahan baru yang baru saja
menggantikan PM. Benjamin Netanyahu.
Mungkin PDIP dapat mempertimbangkan kembali niat tersebut,
atau setidaknya menunggu setelah Pemerintahan RI yang baru
terbentuk, dan tentunya melihat perkembangan respon dari
masyarakat kita sendiri.
Jangan hanya untuk mendapatkan popular vote dari Pemerintahan
barat, PDIP mengkorbankan suara rakyat dan akhirnya PDIP
malah akan kehilangan suara rakyat itu sendiri.


Mardhika Wisesa


Nasrullah Idris <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
     Adanya pernyataan salah satu tokoh PDI-P pada media massa Israel
tentang kemungkinan pembukaan hubungan diplomatik RI - Israel memperoleh
reaksi keras dari para tokoh/cendekiawan di tanah air.
     Di antarannya dari salah seorang tokoh Partai Amanat Nasional.
Katanya, pernyataan itu akan melukai ummat Islam di Indonesia.
     Reaksi keras pun muncul dari Sri Bintang Pamungkas.
     Belum terjalinnya hubungan RI-Israel bukan sekedar masalah politis.
Juga agama. Ini berkaitan dengan masih didudukinya Masjid Al-Aqso (tempat
persinggahan Rasulullah SAW dalam Isra' Mir'raj) oleh Israel.
     Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

Salam,

Nasrullah Idris


____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke