Hehe...kalo yg dulu-dulu bohong sih jelas.... cuma nggak 100 persen juga...
Jumlah parte yg cuman tiga itu juga punya kontribusi ya....selain itu kalopun
nggak bohong Golkar tetep menang kala itu....
Software dan operator komputer seharusnya bukan masalah besar....cuman
300 rebuan data entry. Data segitu bisa dikerjain 3 orang selama satu minggu.
Berarti koordinasi petugas TPS, Kecamatan yg payah.
Sekarang ambil contoh misal TPS di ... Tanjung Puting....Kalimantan.... udah
cukup terpencil ndak? Dari situ proses sana-sini stempel sana-sini karena 48
partai saling longok....habis satu hari .... Day 1 habis...
Ambil waktu pengiriman dari TPS-TPS ke kecamatan terdekat adalah 100 km,
pake speedboat 5 jam.... Sempet diproses di kecamatan karena masih siang,
jadi sempet direkapitulasi sekalian..... Day-2 habis....
Nah, dari kecamatan terus ke mana sih? Apa perlu ke kabupaten? Okay lah
asumsi ke kabupaten dulu.... Day-3 habis....
Dari kabupaten mestinya udah bisa online.... apa perlu pengiriman berbentuk
hardcopy? ....okay.....asumsi hardcopy harus ada berikut segala macem stempel.
Habis waktu 1 hari lagi untuk sampe ke propinsi....Day-4 habis....
Sampe di propinsi mestinya prosesnya sudah on-line juga.... Paling perlu waktu
5 jam untuk verifikasi data dari berbagai kabupaten... ...okay....asumsi Day-5
habis pula....
Nah, hari ke-enam sudah ada hasil akhir ndak?
Yang di atas berasumsi ndak ada lembur ya... Mbaca-mbaca sih justru para
saksi yang lamban, datangnya siang. Sementara panitia ndak bisa jalan kalo
belum lengkap... ini repot..... kalo sudah sok penting gini ini ya udah deh...
Ke lauuuttttt..... Pantes ndak ada yg protes wong salahe bareng-bareng...
'--------------
Yusuf-Wibisono wrote:
> Kang Jaya:
>
> >Memang KPU harusnya ganti nama jadi KPA (awut-awutan). Apa sih susahnya
> >bikin program yg mampu menampilkan angka-angka per TPS.
>
> Yw: Emang bikin programnya sih nggak ada susahnya.
> Nggak usah anak kecil, Jaksa Agung pun (mungkin) bisa. (Eh,
> nggak mungkin ding).
>
> Tapi bikin ribuan TPS yg mampu menjamin datanya sampe ke program
> itu dg akurat dari suatu tempat yg jauhnya ratusan kilometer dari
> terminal data entry setempat, ini luar biasa. Susahnya justru
> menjamin akurat-nya itu.
>
> Justru kejadian sekarang ini menunjukkan betapa bo'ongnya pemilu
> yg lalu-lalu. Setengah hari udah muncul di Jakarta.
>
> Pernah denger nggak cerita rudini (waktu dia ketua LPU).
> Dia bilang di banyak desa terpencil (di Kalimantan), pemilu
> cuma terjadi sekitar 2 menit. Caranya: pertama speed-boat lewat,
> sekilas sambil halo-halo (nyuruh semua orang jejer di pinggir
> kali). Lalu di ujung berhenti, terus diteriakkan: "Ada yg
> milih PPP?!!!" Dijawab hiruk-pikuk (nggak tahu apa, ada yg bilang
> ada, ada yg bilang nggak ada, dsb). Terus: "Ada yg milih
> PDI?!!" Sama juga. Disimpulkan, tanpa verifikasi, Golkar menang
> 100%. Ya, gimana nggak cepet...
>
> ...
>
> Jadi kelambatan yg sekarang ini, justru lebih masuk lesus
> dari pada yg cepet (tapi bo'ong) kayak dulu. Dan kejadian ini
> (bagi yg mau mikir masa lalu) membuktikan, betapa dulu itu
> sampeyan dibo'ongin... (biarpun mungkin dulunya 'gak kroso).
>
> ;-)
--
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)