Repotnya bangsa kita adalah bangsa yang SUKA NGUTANG......ya
dengan gampang dipermainkan bangsa lain yang notabene KAYA RAYA...

Lihat Malaysia tidak sebegitu mudah diploroti karena walau
bagaimanapun pemimpin mereka tau dan dapat meprediksi apa
akibat dari banyaknya utang.......toh kita sendiri tau apa sih
akibatnya berhutang ....ya terjerat lintah darat.......tul

Kita ingin naik Mercy, tinggal di apartemen, makan di Maxis and soon
tapi dengan ngutang............ya akibatnya begini distir oleh
orang lain.

Toh hal itu bukan hal baru, malah US pun merekrut banyak orang Indonesia
disana untuk memberikan info mengenai perilaku/kebiasaan kita, termasuk
kebiasaan kita mengutang.......jadi jelaslah

OK jadi mulai sekarang rajinlah menabung dan berhemat.....jangan
suka ngutang ehhh masih konsumerisme lagi...............alias boros...




At 21:48 11.06.1999 +0700, you wrote:
>From: idris syafiee <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Friday, June 11, 1999 6:52 PM
>Subject: INTERVENSI AMERIKA ATAS NAMA DEMOKRATISASI
>
>
>INTERVENSI AMERIKA ATAS NAMA DEMOKRATISASI
>
>Pemilu yang "jurdil" usai sudah. Perhitungan sementara suara pemilih banyak
>diraih oleh PDI-P.
>Berbagai media massa simpatisan partai itu secara atraktif menonjolkan
>kemenangan itu,
>sekalipun hasilnya masih satu persen.
>
>Oleh karena itu, ulah KPU ini menimbulkan protes berbagai pihak yang merasa
>dirugikan. Golkar
>misalnya, melihat pengumuman KPU dan hasil laporan yang diperolehnya sangat
>berbeda.
>Menurut pengakuan Ketua Golkar Akbar Tanjung, dari berbagai daerah hingga
>Selasa 8 Juni 1999
>pukul 19.23 WIB, Golkar mendapatkan suara 2,08 juta sementara PDI-P 2,7
>juta. Suara yang
>berimbang. Namun, pada saat yang hampir bersamaan KPU mengumumkan Golkar
>tertinggal dari
>PDI-P, yakni PDI-P 437.596 suara sedangkan Golkar 145.893. Cara pemberitaan
>KPU seperti itu
>menurut Sekjen PPP Ali Marwan Hanan adalah shock therapy terhadap partai
>lain yang biasa
>dilakukan rezim orde baru. Menurut Presiden PK Nur Mahmudi, apa yang
>diumumkan KPU itu tidak
>fair, yakni belum diumumkannya hasil di Jakarta sementara daerah lain yang
>jauh sudah.
>Keanehan ini juga disorot Ketua PBB Fadli Zon yang merasa aneh bahwa suara
>dari TPS di Bali
>dan di Lampung bisa masuk datanya lebih awal dari TPS di Menteng, Jakarta.
>Oleh karena itu,
>perlu dilacak kenapa KPU mengeluarkan data demikian (Republika, 9/6/1999).
>
>Namun ketua KPU Rudini mengatakan, hambatan di KPU semata-mata faktor teknis
>dan tak ada
>motif politis (Republika, idem).
>
>Bagaimana pun juga itu menunjukkan pemilu ini memiliki kekurangan dan
>kelemahan prosedur
>yang justru bisa menyulut persengketaan baru lantaran ada yang merasa
>dicurangi. Padahal
>pemilu di luar negeri lebih sederhana dan hasilnya cepat diperoleh.
>
>Yang merasa puas kelihatannya adalah para pemantau dari luar negeri,
>khususnya mantan
>Presiden AS Jimmy Carter yang sudah sejak lama ingin mengikuti dari dekat
>pemilu yang
>membatasi kekuasaan Habibie cuma sekitar setahun ini. Carter mengatakan, ia
>dan beberapa
>anggota dari Carter Center telah meninjau 15 hingga 20 lokasi tempat
>pemungutan suara di
>Jakarta.
>
>Pertanyaan kita, kenapa pemilu ini harus diurusi begitu rupa oleh pihak
>asing yang jumlahnya
>sampai 300 ribu orang? Ada apa sebenarnya? Sejauh mana keterlibatan asing
>dalam hal ini AS?
>Apa tujuan mereka melakukan intervensi sebegitu jauh? Tulisan ini mencoba
>mengurainya agar
>diketahui dan disadari oleh kaum muslimin.
>
>Amanat Demokratisasi Kongres AS
>
>Adalah Jeffrey Winters, tokoh yang beberapa waktu lalu mengguncang
>pemerintah Indonesia
>dengan mengungkap keterlibatan Menteri Ginanjar dalam KKN di PT Freeport,
>dalam pemilu kini
>pun ikut hadir sebagai pengamat asing dari AS di Joint Operation Media
>Center (JOMC) Hotel
>Aryaduta, Jakarta dan meninjau langsung perolehan suara demi suara. Menurut
>Winters, baru
>dalam pemilu 1999 ini Indonesia berpeluang menciptakan demokratisasi setelah
>selama lebih
>dari 40 tahun dibungkam, khususnya tidak diberi kesempatannya rakyat
>Indonesia memilih
>pemimpinnya. (Kompas, 8/6/1999).
>
>"Demokratisasi", itulah kata kunci dari seluruh hiruk-pikuk kejadian politik
>yang menimpa negeri ini
>sejak menjelang lengsernya Soeharto. Kata itulah yang ingin diwujudkan oleh
>para pengamat
>asing seperti Winters, Carter, dan ratusan ribu lainnya. Bahkan untuk itu
>sebelumnya Winters hadir
>dalam sebuah kampanye partai. Padahal kehadiran pengamat politik asing dalam
>kampenya
>sebuah partai, dalam peraturan dilarang. Inilah yang menurut Faisal Basyir
>dari PPP adalah bagian
>intervensi AS yang nampak sekali. Bahkan, mereka melakukan pendekatan
>terhadap
>kelompok-kelompok tertentu dan cara tertutup. Misalnya, sekitar 12 jam
>menjelang pelaksanaan
>Pemilu, bekas presiden AS, Jimmy Carter, memberi pesan khusus kepada dua
>capres RI,
>Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum PDI Perjuangan), dan Amien Rais (Ketua
>Umum Partai
>Amanat Nasional) di sebuah hotel berbintang di Jakarta.

Kirim email ke