Benar juga....saya juga bingung, bertambahnya menurut deret ukur bukan deret
hitung, sehingga tampak jelas bahwa perbandingan suara dari awal perhitungan
suara hingga saat ini tetap sama tidak berubah, mungkin pemilu sekarang
sudah lebih canggih sehingga masuknya suara ke KPU bisa seperti itu, jadi
kan terlihat lebih manis. Mudah-mudahan ada ahli matematika atau sistim
informasi yang bisa menjelaskan bagaimana cara agar data-data  suara
tersebut bisa masuk dari segala tempat secara bersamaan dan selalu tampak
sebanding.

> ----------
> From:         Nasrullah Idris[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     Indonesian Students in the US
> Sent:         Wednesday, June 16, 1999 1:49 PM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Irama Rangking Perolehan Suara Pemilu 1999
>
> Rekan-Rekan Yth
> -------------------
>      Apakah rekan-rekan melihat penayangan perhitungan suara PEMILU 1999
> di
> televisi ?
>      Coba perhatikan :
>      Rangking I cenderung mempunyai jumlah suara dua kali lipat daripada
> rangking II
>      Rangking I cenderung mempunyai jumlah suara empat kali lupat daripada
> rangking IV
>
>      Kok bisa begitu ya? Apa karena kebetulan ?
>      Tetapi kalau kebetulan ... kok sering banget ya
>
>      Malah saya perhatikan juga bahwa parpol yang menempati rangking I s/d
> rangking X umumnya
> tidak berubah.
>
>
>
> Salam,
>
> Nasrullah Idris
>

Kirim email ke