From: Arisetiarso Soemodinoto <[EMAIL PROTECTED]> To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]> Date: Sunday, June 20, 1999 11:33 AM Subject: RE: [ITB] Presiden RI terpilih berdasarkan suara terbanyak ? Wah pertanyaan bung Nasrullah "menggigit" juga nich ... mungkin cara partai Demokrat dan Republik di AS dalam memajukan calon akhir untuk diunggulkan jadi presiden bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan anda (kalau tidak salah party caucus). Biasanya kalau terlalu banyak calon akan ada lobby intern dan "broker" (sengaja saya beri tanda kutip karena ini hanya broker yang menghubungkan semua pihak yang 'bertikai' dalam satu partai) yang secara terus-menerus berunding sampai jumlah calon menjadi hanya 2-3 orang ... kalau politik 'murni' mungkin enggak perlu memakai bayar2 an karena pertimbangannya adalah kepentingan politik yang 'menyerahkan' suara untuk calon lain akan terakomodasi atau tidak (maklum di AS calon2 nya biasanya sudah amat sangat sejahtera kehidupannya). Setelah itu baru ada 'final running' dimana 2-3 calon terakhir "diadu" lagi untuk memperoleh tiket terakhir, bisa juga kemudian ada kompromi siapa yang jadi presiden dan wakil presiden kalau partai mereka menang (contohnya, Bill Clinton & Al Gore). Nah untuk kasus Indonesia, mungkin kalau sepuluh calon yang muncul dengan komposisi seperti yang anda tawarkan ... perlu dilakukan lagi pemilihan ulang ... jumlah calon tersebut bisa "diperas" sedemikian rupa menjadi 2-3-4 orang calon (ini dengan asumsi bahwa nanti yang terjadi adalah politik tingkat tinggi yang benar dan baik ... enggak tahu kalau nantinya masih kasak-kusuk gaya politik kaki lima ... he he he) ... paling praktis kalau 'hasil terakhir' adalah dua orang calon, karena secara umum 'warna' ideologi yang muncul di negara kita itu kan "nasionalis" (merah-putih) dan "agama" (hijau) ... nah kalau akhirnya jadi tiga calon, orang ketiga mungkin yang berwarna merah-putih dan hijau ... dan kalau calon akhirnya empat orang, moga2 seimbang dua orang yang berciri merah-putih dan dua orang yang hijau (yang ini bahkan, mungkin bisa jadi pasangan presiden dan wapres). Sebagai penutup, kalau persentase pemilihan presiden seperti yang anda ajukan ... berarti tidak ada suara terbanyak ... gimana mau terbanyak, wong statistically enggak akan significant perbedaannya (coba saja hitung coefficient of variation nya, paling di bawah 20 persen = artinya seragam) ... kalau 'pemenangnya' mau ditentukan berdasarkan suara terbanyak bagi calon J yang 14,5 persen ... sudah terbayang akan gontok2 an terus karena masing2 calon merasa punya jumlah pendukung yang "sebanding" meski tidak riil proporsional ... Kelihatannya sudah terlalu panjang tanggapannya ... Salam, Ari...
