From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sunday, June 20, 1999 12:28 PM
Subject: Re: Suara terbanyak vs Suara mayoritas
> Nasrullah Idris
>  ---------------
>       Wah, berarti tidak didukung oleh 60%.
>       Bagaimana pula kalau ada sepuluh calon presiden :
>       A didukung 5,5% anggota MPR
>       B didukung 6,5% anggota MPR
>       C didukung 7,5% anggota MPR
>       D didukung 8,5% anggota MPR
>       E didukung  9,5% anggota MPR
>       F didukung  10,5% anggota MPR
>       G didukung  11,5% anggota MPR
>       H didukung  12,5% anggota MPR
>       I didukung  13,5% anggota MPR
>       J didukung  14,5% anggota MPR
>
>  Tentu menurut Lae Irwan, yang berhak adalah J. Lae Irwan mungkin akan
>  berkata, supaya pendukung A sampai pendukung I harus menerimanya dengan
>  lapang dada meskipun presiden itu tidak didukung oleh 85,5% anggota MPR.
>
>  Mohon penjelasan lebih lanjut!
>
>  Salam,

Irwan:
Betul, A sampai I harus menerimanya dengan lapang dada meskipun J hanya
didukung oleh 14.5%.

Nasrullah Idris:
Wah berarti harus ada program kampanye "supaya lapang dada" kepada seluruh
rakyat Indonesia. Tul, nggak!
Bagaimana untuk mengkampanyekan itu secara efektif/efisien? Misalkan dalam
tempo singkat. Soalnya kalau terlalu lama bisa menghambat jalannya
pemerintahan.

*****catatan: ngomong2 itu A-J cuma 90% lho, coba deh jumlahin lagi yg
bener....:)
#####Sudah bener kok!

*****Itulah demokrasi, bung Nasrullah. Suara terbanyaklah yg menang.
Bagaimana tuh hubungan korelasi "presiden yang terpilih berdasarkan suara
terbanyak" dengan "efektivitas/efisiensi dalam pemerintahan? Mungkin bisa
menjelaskan lebih lanjut lagi.

*****Dan yg kalah harus bisa menerima dengan lapang dada

#####Ngomong-ngomong bagaimana tuh kaitan kontrol sosial dan kontrol
antroplogi masyarakat Indonesia terhadap hasil pemilihan presiden dengan
komposisi prosentase seperti yang saya contohkan tersebut? Mungkin Lae Irwan
bisa menanyakan hal itu kepada profesor di bangku kuliah?

*****Kalau mau bicara logika, ya J itu lebih baik ketimbang I karena J
didukung lebih banyak dari yg mendukung I. Juga J lebih baik dari H karena
didukung lebih banyak dari yg ngedukung H, dst.

#####Gus Dur bilang bahwa meskipun presiden didukung 60% tetapi bila 40
persen menolak serta nggak mau diperintah apa bisa pemerintahan berjalan.
Mungkin Lae Irwan menjelaskan maksud tokoh NU ini ? Soalnya Timtim dengan
penduduk kurang dari 1 persen saja sudah membuat duri dalam daging bagi
Indonesia.

*****Anda mungkin terkejut bung Nasrullah kalau mendengar ada presiden AS
terpilih dalam sejarah pernah hanya mendapatkan suara sekitar 30-an persen
saja.

#####Nggak terkejut karena sudah membaca sejarahnya. Tetapi kenapa bisa
ya?Kira-kira bagaimana mengkampanyekan contoh itu kepada rakyat Indonesia
supaya bisa menjadi acuan. Tentu saja dalam waktu singkat. Kalau perlu lebih
singkat ketimbang mengsosialisasikan gambar partai. Soalnya kalau terlalu
lama dikhawatirkan akan menghambat jalannya pemerintahan. Sedangkan kita
dihadapkan pada berbagai persoalan, termasuk persaingan pada era
globalisasi.

*****Satu tambahan lagi, bung Nasrullah. Prosentase tingkat partisipasi yg
ikut pemilu di Indonesia itu sangat tinggi. Kalau tidak salah terakhir saya
dengar mencapai 90% dari jumlah pemilih yg sebenarnya berhak.

#####Memang itu sangat tinggi ketimbang di berbagai negara. Hanya saya belum
tahu, berapa persen dari mereka itu yang mencoblos setelah terlebih dulu
melihat latar belakang caleg dari partai yang dipilihnya? Soalnya mencoblos
dengan pertimbangan matang itu merupakan bagian pendidikan politik juga.
Betul nggak sih?


Salam,


Nasrullah Idris

Kirim email ke