Israel, seperti juga bangsa2 lainnya, bebas melakukan bisnis dgn bangsa manapun, termasuk dgn Serbia (jika e-mail tsb benar). Lagipula, mereka yang tidak menyaksikan langsung peperangan di Kosovo- sya pikir, tidak perlu terlalu memihak salah satu pihak. Perang itu, demi apapun, menyedihkan untuk kedua belah pihak dan penonton. Apakah kita akan gembira jika Serbia ganti dikalahkan dan diburu? Kenapa cuma Israel, Serbia yang anda sorot, Bung Nas? Kenapa bukan Saudi Arabia, Kuwait, yang juga hubungan bisnis dan militernya cukup kental dengan "si setan besar"?- Maaf, sepertinya Permias-L ini akan menyegarkan jika tidak diisi e-mail2 pendek yang berisi pancingan untuk diskusi memojokkan SARA dan keyakinan orang lain. Anggota dan pengurus Permias-L ini saya perhatikan sudah cukup toleran (atau nggak peduli?) untuk menerima berbagai jenis tulisan dari siapapun, namun alangkah baiknya jika penulis/calon penulis tidak memanfaatkan toleransi itu untuk mengirimkan tulisan yang membuat "panas". Diskusi ttg kecenderungan kurs rupiah dan kans presiden RI ke-4 adalah diskusi yang menggelitik, santai namun lebih bermanfaat dibanding diskusi mengumpulkan kesalahan negara lain atau keyakinan lain. trims. CP, Indonesia. At 08:21 AM 6/22/99 +0700, Nasrullah Idris wrote: > Baru saja saya mengkaji, bagaimana kiat jitu/kiat halus Jahudi >melakukan konsiprasi untuk menciptakan pertentangan interen di negara >berkembang, eh muncul email yang berisi laporan tentang persetujuan Israel >akan permintaan Serbia berupa perlengkapan militer. > Kalau itu memang benar berarti Israel itu bermuka dua terhadap sang >sekutu : Amerika Serikat. > Seperti diketahui, hubungan militer Israel-Serbia sudah berlangsung >sejak 1992. > Karena itu, harus berpikir dua kali kalau Indonesia ingin melakukan >hubungan diplomatik dengan Israel. > >Salam, > >Nasrullah Idris >
