Saya setuju ! Polemik ini memang membawa berkah, karena jadi banyak orang yang mempelajari hal yang diperdebatkan tsb. Namun kalau gara-gara meributkan boleh tidaknya seorang wanita menjadi 'Pemimpin', akan mengakibatkan diteruskannya kekuatan status quo ( hal yang justru didemonstrasikan oleh adik-adik Mahasiswa sejak tahun lalu ), maka hal ini sangatlah disayangkan. Apakah ini yang memang dikehendaki Rakyat ? Saya kira tidak ! Salam, bRidWaN At 09:10 AM 6/22/99 +0700, Nasrullah Idris wrote: >Polemik boleh tidaknya wanita menjadi presiden sungguh menjadi berkah >bagi syiar Islam. Kenapa? >Karena polemik tersebut telah menjadi komoditi berbagai media massa >untuk diangkat. Gilirannya masyarakat Indonesia pun tahu akan adanya polemik >tersebut. >Bukankah kondisi tersebut sama saja dengan meningkatkan rasa ingin tahu >ummat Islam di Indonesia tentang boleh tidaknya wanita memimpin negara >dilihat dari ajaran Islam. Berarti juga semakin mendorong mereka untuk >membaca buku ajaran Islam terkait. >Malah mungkin saja dari kalangan non Islam di Indonesia pun akan >terdorong untuk mengkaji masalah tersebut melalui buku ajaran Islam terkait. >Jadi tidak heranlah kalau dalam ajaran Islam dikatakan bahwa perbedaan >pendapat itu (termasuk polemik) merupakan rahmat. > > >Salam, >Nasrullah Idris
