Itulah yang kita perdebatkan selama ini.....

Kalau Deklarasi Ciganjur dan Komunike Paso tetap pada
komitmennya, sudahlah jelas bahwa 'status-quo' akan
terhadang, dan keadaan ini sesuai dengan yang kita ribut-
ributkan sejak tahun lalu. Bukannya semua orang termasuk
rekan Permias@ dulu juga meributkan masalah Orde baru
dan status quo ??????

Tetapi sekarang, setelah melalui Demonstrasi Mahasiswa secara
besar besaran selama beberapa bulan, yang telah memakan
korban jiwa yang begitu besar, ternyata keadaannya akan
'kembali' lagi seperti dahulu (sebelum Pak Harto lengser).

Amit-amit, mudah-2an dugaan saya salah ! Tetapi kalau
betul yang akan menjadi Presiden adalah Orang ex Orba,
maka dunia akan bertanya : "Ada apa di-Indonesia?".


Salam,
bRidWaN


At 10:34 AM 6/22/99 +0800, Rama Indrayana wrote:

Kompromi

Peta politik pasca pemilu (dgn asumsi hasil pemilunya OK lho) menurut saya sbb:

1. Aspirasi politik bangsa Indonesia ternyata cukup beragam.
Ini terlihat dari pola dukungan thd banyak parpol2 dan pola keberagaman pokoknya
terlihat pada perolehan suara 5 parpol teratas.


2. Krn secara kuantitatif tdk ada yg dominan, maka tdk ada aspirasi/parpol yg bisa
'maju sendiri' di tahap berikutnya.


3. Bagi parpol yg berkeinginan utk maju ke tahap berikutnya (mencalonkan presiden,
membentuk kabinet, menjalankan pemerintahan, dst) tentu memerlukan tambahan
dukungan dari parpol(2) lainnya atau 'pemegang' suara lain (TNI/Polri dan 'Utusan2').


4. Bila suatu parpol 'mengajak' atau 'memperoleh dukungan' parpol/pihak lain, normalnya
akan terjadi 'kompromi politik' (krn aspirasi2 parpol/pihak yg berbeda itu harus 'digalang').


Jadi kunci keberhasilan proses politik pasca pemilu adalah: 'Kompromi politik'

(Note: keliatannya memang 'akan' atau 'harus' terjadi kompromi, tinggal kita liat saja
kompromi yg kayak apa.....)


RI


Kirim email ke