Dengan probability akibat negatif yang berkisar antara 40% sampai 60%,
tidak ada salahnya kalau kita makan saja itu 'A'. Kenyataannya khan tidak
setiap hari, atau bahkan belum tentu seminggu sekali kita makan 'A'.

Namanya juga orang awam. Nggak perlu musingin itu akibat makanan 'A'. Lha
wong rokok yang punya probability akibat negatif mendekati 95% saja disedot
terus kok. Apalagi yang cuman 40-60% likelihood-nya.

Salam,
Budi


At 07:25 PM 6/24/99 +0700, you wrote:
>     Taroklah :
>     *) Menurut sebagian dokter, "Makanan A jangan dimakan, karena
>dipastikan bisa menimbulkan dampak negatif terhadap pencernaan"
>     *) Menurut sebagian dokter, "Makanan A silakan dimakan, toh dipastikan
>tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pencernaan"
>
>     Jumlah masing-masing kelompok dokter itu sangat signifikan serta sangat
>berimbang. Analisa mereka pun sama-sama berdasarkan intepretasi dan analisa
>ilmiah. Pokoknya kalau diadakan pemungutan suara ala MPR ya paling juga
>berkisar "40 persen berbanding 60%" atau "60 persen berbanding 40%
>
>     Bagaimana sikap kita yang awam menghadapi perbedaan pendapat tersebut.
>Apakah  makanan itu kita putuskan saja melalui ketetapan ala TAP MPR sebagai
>dagangan di sekolah? Atau diganti saja dengan makanan lain yang menurut
>semua dokter, sangat aman terhadap pencernaan.
>
>
>Salam,
>
>Nasrullah Idris
>

Kirim email ke