Berita ini sangat menarik karena sebetulnya masalah ini sudah
diungkap oleh harian Republika dan Sabili beberapa hari yang
lalu. Yang makin mengherankan sudah beberapa hari ini kedua
harian tersebut kena ulah hackers sehingga sempat black out.
Tidak susah untuk menjaring hal ini bila terdapat kemauan yang
kuat dari pihak kepolisian.
Eh, ane mangsud mengenai masalah penganiayaan. Ulah hooligan
hacker yang menyebabkan dua terbitan online ini tidak bisa diakses
mungkin juga dapat ditelusuri. Ini kalau ada kemauan kuat. Yang jelas
sudah ada bibit-bibit sikap represif.... Moga-moga saja tidak jadi
orde represif babak ke-3 di Indonesia setelah ORLA dan ORBA.
'-----------
Soal Penganiayaan terhadap Sejumlah Ustadz
JAKARTA -- Koordinator Komisi untuk Orang Hilang
dan Tindak Kekerasan
(Kontras), Munir SH, menegaskan tindakan
penganiayaan sejumlah ustadz
(guru agama), apa pun alasannya, tidak bisa
dibenarkan.
''Polisi harus serius mengusutnya. Sebab, bila
dibiarkan berlama-lama
malah hanya akan berdampak negatif. Dan saya
yakin sekali pihak polisi
tahu siapa saja yang melakukannya,'' kata Munir
SH, di Jakarta, kemarin.
Munir menegaskan hal itu menanggapi pengaduan
sejumlah ustadz ke
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Selasa (22/6)
lalu. Kepada MUI, para
ustadz dari Jakarta Utara itu mengaku telah
diculik dan dianiaya oleh
sejumlah orang yang mengatasnamakan satgas PDI-P
menjelang
pemungutan suara lalu, hanya lantaran mereka
menyebarkan seruan MUI
yang melarang umat Islam mencoblos gambar partai
yang calegnya banyak
non-Muslim.
Menurut Munir, tindakan penculikan dan
penganiayaan itu sudah melanggar
hak asasi manusia (HAM). Karena itu, katanya,
siapa pun yang melakukan
tindak kekerasan itu maka harus dikenai sanksi
pidana.
Kepada umat Islam, Munir menyerukan agar bisa
menahan diri. Kekerasan,
menurutnya, tidak usah dibalas dengan kekerasan.
Ia menyatakan jalan
terbaik menangani kasus itu adalah dengan
menyerahkan kepada pihak
keamanan. ''Saya sangat khawatir bila kaum
Muslimin membalas malah
hanya membuat posisi umat Islam tersudut. Akibat
membalas maka kita bisa
dituduh kejam. Dan akibatnya hanya membuat
kerugian besar,'' tegas Munir
lagi.
Munir mengaku pihaknya juga telah mengumpulkan
data tentang penculikan
dan penganiayaan terhadap ustadz yang dilakukan
oleh sejumlah orang
yang memakai seragam satgas PDI Perjuangan itu.
Melalui data yang
dikumpulkan, kata Munir, tindakan penculikan dan
penganiayaan itu
ternyata tidak dilakukan dengan semata-mata hanya
mendatangi rumah
korban belaka. Orang yang berseragam Satgas PDI
Perjuangan itu ternyata
melakukan tindakannya dengan cara menculik korban
ketika mereka tengah
berada di jalan.
''Dari laporan yang ada jumlah korbannya mencapai
puluhan orang. Sekali
lagi kami tegaskan apa pun alasannya perbuatan
ini tidak bisa ditolerir lagi.
Dan seruan saya kepada umat Islam hendaknya
mereka bisa berbuat arif.
Jangan terpancing untuk membuat aksi kekerasan,''
pinta Munir.
Imbauan agar umat Islam bisa menahan diri,
sebelumnya juga telah
disampaikan oleh MUI. Sekum MUI Pusat Drs Nazri
Adlani yang menerima
pengaduan para ustadz tadi meminta agar kekerasan
tidak dibalas dengan
kekerasan serupa.
Hal senada juga telah disampaikan Ketua Umum
Persatuan Islam (Persis)
KH Shiddiq Amien. Menurutnya, penganiayaan oleh
satgas PDI-P terhadap
ustadz yang menyebarkan seruan MUI adalah tidak
pada tempatnya. ''Kalau
memang tidak sepakat dengan isi seruan tersebut,
kenapa tidak langsung
datang ke MUI dan berargumen di sana?'' tukas KH
Shiddiq Amien.
Selasa (22/6) lalu sejumlah ustadz dan pemuda
dari Jakarta Utara
mendatangi kantor MUI. Mereka mengaku menjadi
korban penganiayaan
sejumlah orang yang mengaku satgas PDI-P, karena
telah membagikan
seruan resmi MUI yang melarang memilih partai
yang calegnya banyak
non-Muslim.
Menurut Muhtar Beni Biki, wakil dari pemuda yang
melapor itu,
penganiayaan terhadap 16 ustadz dan pemuda itu
terjadi setelah shalat
Jumat tanggal 4 Juni, tiga hari sebelum
pemungutan suara. Satgas PDI-P
mengangkut lalu menganiaya ustadz dan pemuda yang
telah menyebarkan
seruan ulama yang berisi imbauan kepada umat
Islam agar tidak memilih
partai yang calegnya banyak non-Muslim. Ke-16
korban penganiayaan
satgas PDI-P ini, menurut Muhtar, diculik dari
tempat yang berbeda-beda.
Ada yang diculik di rumahnya dan ada yang dicegat
di jalanan.
Muhtar mengatakan setelah dianiaya, para ustadz
dan pemuda itu lalu
diserahkan ke Polres Metro Jakut yang tak bisa
berbuat apa-apa. ''Mereka
ada yang disundut rokok, dipukuli, diintimidasi,
dan dianiaya. Bahkan,
sampai sekarang para korban dan keluarganya masih
trauma akibat sering
menerima teror,'' katanya. n uba
--
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)