Islam tidak pernah menyuruh umatnya untuk memusuhi orang non Islam, tidak
pernah melarang perdagangan dengan non Islam, tidak pernah menyuruh merampas
harta orang orang non Islam dan hal hal lain diluar kemanusiaan. 

Islam meminta umatnya agar mengatur pemerintahan, politik, ibadah dll sesuai
dengan aturan Islam. Akan tetapi tidak berarti harus memusuhi orang orang non
Islam yang berada di bawah pemerintahaan atau politik yang Islami, justru
harus menghormati kebesaran hati non Islam yang bersedia mengikutinya. 

Jadi kalau ada kerusuhan di Indonesia seperti itu, jangan bawa bawa deh nama
Islam, itu hanyalah individu indivu yang mengaku ngaku Islam. Kepala kepala
yang teriak Islam namun berlaku tidak Islami. Mereka orang orang yang
bersembunyi dibalik kedok keIslamannya. 

Orang orang seperti itulah yang wajib ditatar. Itu tugas kaum ulama Indonesia,
untuk memintarkan pengikutnya memberitahu mana jalan keluar yang terbaik
secara Islami, apabila ada masalah. 

Sewaktu di Surabaya saya punya teman asal Perancis saya diperkenalkan kepada
temannya yang asalnya dari Mesir, saya kira waktu itu dia Muslim, akan tetapi
ternyata dia kristen. Kami sempat diskusi ngalor ngidul tentang agama, dan
dari penjelasannya tidak ada kesulitan apapun bagi warga non muslim yang hidup
di negeri Muslim seperti Mesir. 

Itulah kalau pemahaman keagamaannya untuk hubungan antar manusia itu benar, ya
segala hubungan dengan agama lain akan lancar. Tetapi tentu saja ada batasan
batasannya, yaitu mentang mentang untuk menghormati agama lain kemudian rela
"mengorbankan agamanya" sendiri itu juga nggak benar. Jangan karena lapar
agama dijadikan senjata atau kambing hitam. 

Kalau misalnya saya sebagai  orang non Muslim di Indonesia dan mendapat
perlakuan tidak adil seperti itu maka saya akan tuntut para ulamanya agar
membawa mengajarkan umat berlaku adil dan menghormati umat lain, teriak yang
lantang sehingga kuping mereka merah, kalau memungkinkan bawa mereka ke meja
hijau. Memang biasanya sulit untuk menarik orang orang yang terlibat kerusuhan
massa ke meja hijau, akan tetapi paling tidak cari sela sela hukum atau
berbagai kemungkinan yang ada untuk menindak orang orang yang terlibat, atau
paling tidak pentolannya.  

yuni  






CP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,

Kalau banyak orang yang mengatasnamakan Islam
menolak Megawati (hanya krn alasan yang juga khas Islam)
apa gunanya PEMILU?   Pamer mahal dan merepotkan saja.

Minta maaf, saya pikir,
jika tidak setuju orang non muslim / wanita jadi pemimpin, ketua RT, misalnya,
harap aturannya dibakukan, agar semua yang non muslim menjauh dari negeri ini.
Paling nggak aturan itu terbit sebelum  orang bikin partai, kampanye, dan
PEMILU.

Kasus;
Di Jakarta, sewaktu musim penjarahan, banyak yang menulis 'MILIK MUSLIM
PRIBUMI' agar
aman.  Punya toko/supermarket yang laris, perusahaan yang maju tidak boleh,
jadi ketua RT diprotes,
jadi presiden harus yang sesuai keinginan, dll.  Lalu orang2 tsb harus jadi
apa?

Aturan yang baku bisa diwujudkan mengingat sebagian besar penduduk negeri ini
termasuk anggota DPR, para hakim dan jaksa, profesor mahaguru, caleg-caleg
adalah Muslim.

Aturan yang baku tsb juga menjadi semacam pengumuman untuk kaum non muslim
untuk tidak membuka usaha di negeri ini.


Tapi lucu ya? Ini contoh sangat ekstrim dan spekulatif, tidak hanya di bid.
pemerintahan;
Jika planet Earth seluas ini, kemudian, mayoritasnya, jika Tuhan ijinkan,
beragama Islam, lha yang tidak memilih untuk menjadi Islam harus jadi apa?

Saya pernah membaca majalah dgn nama yang,
hampir mirip dgn e-list tsb yaitu 'Sabili', hmm isinya seram krn
menyinggung2 agama lain atau tokoh2 yang kebetulan beragama lain tsb.
Hampir di setiap edisinya memuat singgungan ini.  Saya heran, kalau memang
(majalah) untuk ummat Muslim, kenapa isu utamanya selalu ttg agama lain?

salam, maaf saya hanya ingin diskusi.
CP.

>Subject: [Sabil] HAMPIR DIPASTIKAN ULAMA NU SEJAWA AKAN MENOLAK MEGAWATI
>
>
>25 Jun 1999
>
>Ulama NU Soal Capres Wanita
>
>
>SURABAYA -- Sejumlah ulama di kalangan NU (Nahdlatul Ulama) di seluruh
>Jawa akan membuat kesepakatan bersama untuk menolak Ketua Umum PDI
>Perjuangan (PDI-P) Megawati menjadi Presiden RI keempat. Penolakan
>tersebut, menurut Ketua Syuriah Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jatim, KH
>Imron Hamzah bukan masalah gender tapi soal kapabilitas figur kandidat
>presiden.
>
>Hingga kini masalah presiden wanita memang masih dibahas oleh sejumlah
>ulama NU. Namun, para ulama cenderung menyikapi pembahasan kandidat
>presiden bukan hanya soal gender saja. ''Jadi, masalah kualitas dan
>kapabilitas dari para calon presiden juga menjadi pertimbangan yang
>sangat penting,'' tandas Kiai Imron kepada Republika di Surabaya,
>kemarin (22/6).
>
>Kiai Imron mengungkapkan bahwa adanya pro-kontra tentang boleh-tidaknya
>wanita menjadi presiden memang tidak bisa selesai, jika tidak segera
>dituntaskan melalui perspektif hukum agama serta kajian para ulama.
>''Berdasarkan empat Madzhab, yakni Imam Suafi'i, Hambali, Maliki, dan
>Hanafi, jelas melarang seorang wanita menjadi pemimpin negara,'' ujarnya
>memberi alasan.
>
>Namun demikian, katanya, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa
>kalangan perempuan bisa menjadi pemimpin dengan persyararatan kondisi
>dan situasi sangat darurat. ''Nah, yang menjadi persoalan, sejauh mana
>arti darurat tersebut. Namun ukuran darurat itu kan sangat nisbi. Untuk
>itu para ulama sebenarnya tidak hanya menyoal tentang presiden wanita,
>tapi kini telah mengarah pada pembahasan soal kemampuan calon pemimpin
>itu,'' papar pengasuh Pondok Pesantren 'Ngelom' Sepanjang, Sidoarjo,
>Jatim ini.
>
>Ia memberi penilaian bahwa calon presiden mendatang harus punya
>intelektual bagus dan tentunya harus mendapat legitimasi dari rakyat.
>''Negara kita saat ini kan dilanda krisis. Itulah sebabnya, saat ini
>sangat dibutuhkan seorang pemimpin yang punya kapasitas intelektual
>bagus,'' urainya.
>
>Saat ditanya secara pribadi soal kapabilitas dan intelektualitas Mega,
>''Secara jujur saya mengakui bahwa Mbak Mega itu tidak punya kemampuan
>untuk menjadi pemimpin. Tapi kalau soal kejujuran dan komitmen
>kerakyatannya, saya tidak meragukan lagi,'' tukasnya.
>
>Seorang mantan anggota MPR dari NU bahkan mengungkapkan, bahwa Mega
>selama duduk sebagai anggota DPR-MPR dari FPDI memang terkesan tidak
>mempunyai kapabilitas memadai. ''Saya tahu persis ketika sama-sama duduk
>di MPR, Mbak Mega ternyata terbukti tidak bisa apa-apa. Saya buktikan
>itu ketika bersama-sama duduk semeja dan saya pancing untuk berbicara
>tentang beberapa hal,'' kata seorang mantan anggota MPR yang keberatan
>disebut jatidirinya.
>
>Secara terpisah, Wakil Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jatim,
>KH Fuad Amin Imron mengemukakan, para ulama pengasuh pondok pesantren
>se-Jawa kini tengah melakukan pembahasan tentang boleh-tidaknya wanita
>menjadi presiden. ''Pembahasan masalah wanita presiden memang bukan hal
>yang utama. Namun, yang sangat penting adalah soal kemampuan calon
>presiden itu. Pembahasan para ulama ini diharapkan selesai pada 10 Juli
>mendatang,'' kata Kiai Fuad yang juga pengasuh Ponpes Syaichona Cholil,
>Kademangan Bangkalan, Madura.
>
>Menurut Kiai Fuad, kebanyakan ulama NU secara tegas menyatakan menolak
>wanita menjadi presiden. Namun demikian, sambungnya, para ulama tetap
>menunggu keputusan Ketua Umum PB NU Gus Dur yang kini masih berada di
>Singapura.
>
>Pengamat sosial dari Universitas Airlangga Surabaya, Dr Dede Oetomo
>mengakui, dalam beberapa hal Habibie justru lebih mampu menarik simpati
>pengamat ketimbang Mega. ''Kita harus jujur mengakui, paling tidak dalam
>retorika politik, Habibie lebih baik daripada Mega. Tapi itu bukan
>berarti saya mendukung Habibie,'' tutur Dede.
>
>Ia memberi contoh sikap Habibie, yang setuju diadakannya referendum bagi
>masyarakat Timtim, amandemen UUD 1945 dan tawaran pemilihan presiden
>secara langsung, memiliki bobot politik yang positif. Sedangkan sikap
>Mega, yang beranggapan bahwa Timtim merupakan bagian sah dari Indonesia
>serta cenderung apriori amandemen UUD 1945 dan usulan pemilihan presiden
>secara langsung, dianggap tak responsif terhadap tuntutan masyarakat. n
>afa/yon
>
>
>( sumber Republika )
>
>------------------------------------------------------------------------
>SIGN UP NOW FOR FREE HOME IMPROVEMENT HOW-TO'S
>Receive seasonal how-to's and climate-specific advice via e-mail.
>http://clickhere.egroups.com/click/131
>
>
>eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/sabili
>http://www.egroups.com - Simplifying group communications
>
>
>____________________________________________________________________
>Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at
http://webmail.netscape.com.
>
>


____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at 
http://webmail.netscape.com.

Kirim email ke