Jadi ingat jaman-nya "Kebulatan Tekad" dulu .......
Semua jadi pada ikut-ikutan.....!

Sekarang banyak juga yang mau tergiring, untuk
memilih Habibie menjadi Presiden....

yah.....nasib......:(


Salam,
bRidWaN


At 11:36 AM 6/25/99 MDT, Pandir Ontohod wrote:
>Aduuuuuuuh, kok jadi begini....
>Kalau saya sih melihatnya sebagai kebebasan mengeluarkan pendapat......
>dan itung-itung ujian buat Megawati....... 'tul nggak?
>Kalau perlu gaya nusantara juga bikin pernyataan menolak megawati ya nggak
>bang efron.......
>Yang lainnya boleh ikut-ikutan, ya namanya juga baru belajar
>berdemokrasi......
>Dari pada kayak dulu lagi waktu musim kebulatan tekad, dengernya aja udah
>pusing.....ya mendingan kayak sekarang ini....... bebas tapi bertanggung
>jawab...
>Soal mengatas namakan islam, toh itu juga hak seseorang sebagai muslim, yang
>non-islam tentu juga boleh bikin pernyataan.  Yang ndak boleh kalau sudah
>menjurus ke kekerasan atau yang negatif......
>
>Setuju?
>
>Pandir


>CP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Salam,
>
>Kalau banyak orang yang mengatasnamakan Islam
>menolak Megawati (hanya krn alasan yang juga khas Islam)
>apa gunanya PEMILU?   Pamer mahal dan merepotkan saja.
>
>Minta maaf, saya pikir,
>jika tidak setuju orang non muslim / wanita jadi pemimpin, ketua RT,
misalnya,
>harap aturannya dibakukan, agar semua yang non muslim menjauh dari negeri
ini.
>Paling nggak aturan itu terbit sebelum  orang bikin partai, kampanye, dan
>PEMILU.
>
>Kasus;
>Di Jakarta, sewaktu musim penjarahan, banyak yang menulis 'MILIK MUSLIM
>PRIBUMI' agar
>aman.  Punya toko/supermarket yang laris, perusahaan yang maju tidak boleh,
>jadi ketua RT diprotes,
>jadi presiden harus yang sesuai keinginan, dll.  Lalu orang2 tsb harus jadi
>apa?
>
>Aturan yang baku bisa diwujudkan mengingat sebagian besar penduduk negeri ini
>termasuk anggota DPR, para hakim dan jaksa, profesor mahaguru, caleg-caleg
>adalah Muslim.
>
>Aturan yang baku tsb juga menjadi semacam pengumuman untuk kaum non muslim
>untuk tidak membuka usaha di negeri ini.
>
>
>Tapi lucu ya? Ini contoh sangat ekstrim dan spekulatif, tidak hanya di bid.
>pemerintahan;
>Jika planet Earth seluas ini, kemudian, mayoritasnya, jika Tuhan ijinkan,
>beragama Islam, lha yang tidak memilih untuk menjadi Islam harus jadi apa?
>
>Saya pernah membaca majalah dgn nama yang,
>hampir mirip dgn e-list tsb yaitu 'Sabili', hmm isinya seram krn
>menyinggung2 agama lain atau tokoh2 yang kebetulan beragama lain tsb.
>Hampir di setiap edisinya memuat singgungan ini.  Saya heran, kalau memang
>(majalah) untuk ummat Muslim, kenapa isu utamanya selalu ttg agama lain?
>
>salam, maaf saya hanya ingin diskusi.
>CP.


>>Subject: [Sabil] HAMPIR DIPASTIKAN ULAMA NU SEJAWA AKAN MENOLAK MEGAWATI
>>
>>25 Jun 1999
>>Ulama NU Soal Capres Wanita
>>
>>
>>SURABAYA -- Sejumlah ulama di kalangan NU (Nahdlatul Ulama) di seluruh
>>Jawa akan membuat kesepakatan bersama untuk menolak Ketua Umum PDI
>>Perjuangan (PDI-P) Megawati menjadi Presiden RI keempat. Penolakan
>>tersebut, menurut Ketua Syuriah Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jatim, KH
>>Imron Hamzah bukan masalah gender tapi soal kapabilitas figur kandidat
>>presiden.
>>
>>Hingga kini masalah presiden wanita memang masih dibahas oleh sejumlah
>>ulama NU. Namun, para ulama cenderung menyikapi pembahasan kandidat
>>presiden bukan hanya soal gender saja. ''Jadi, masalah kualitas dan
>>kapabilitas dari para calon presiden juga menjadi pertimbangan yang
>>sangat penting,'' tandas Kiai Imron kepada Republika di Surabaya,
>>kemarin (22/6).
>>
>>Kiai Imron mengungkapkan bahwa adanya pro-kontra tentang boleh-tidaknya
>>wanita menjadi presiden memang tidak bisa selesai, jika tidak segera
>>dituntaskan melalui perspektif hukum agama serta kajian para ulama.
>>''Berdasarkan empat Madzhab, yakni Imam Suafi'i, Hambali, Maliki, dan
>>Hanafi, jelas melarang seorang wanita menjadi pemimpin negara,'' ujarnya
>>memberi alasan.
>>
>>Namun demikian, katanya, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa
>>kalangan perempuan bisa menjadi pemimpin dengan persyararatan kondisi
>>dan situasi sangat darurat. ''Nah, yang menjadi persoalan, sejauh mana
>>arti darurat tersebut. Namun ukuran darurat itu kan sangat nisbi. Untuk
>>itu para ulama sebenarnya tidak hanya menyoal tentang presiden wanita,
>>tapi kini telah mengarah pada pembahasan soal kemampuan calon pemimpin
>>itu,'' papar pengasuh Pondok Pesantren 'Ngelom' Sepanjang, Sidoarjo,
>>Jatim ini.
>>
>>Ia memberi penilaian bahwa calon presiden mendatang harus punya
>>intelektual bagus dan tentunya harus mendapat legitimasi dari rakyat.
>>''Negara kita saat ini kan dilanda krisis. Itulah sebabnya, saat ini
>>sangat dibutuhkan seorang pemimpin yang punya kapasitas intelektual
>>bagus,'' urainya.
>>
>>Saat ditanya secara pribadi soal kapabilitas dan intelektualitas Mega,
>>''Secara jujur saya mengakui bahwa Mbak Mega itu tidak punya kemampuan
>>untuk menjadi pemimpin. Tapi kalau soal kejujuran dan komitmen
>>kerakyatannya, saya tidak meragukan lagi,'' tukasnya.
>>
>>Seorang mantan anggota MPR dari NU bahkan mengungkapkan, bahwa Mega
>>selama duduk sebagai anggota DPR-MPR dari FPDI memang terkesan tidak
>>mempunyai kapabilitas memadai. ''Saya tahu persis ketika sama-sama duduk
>>di MPR, Mbak Mega ternyata terbukti tidak bisa apa-apa. Saya buktikan
>>itu ketika bersama-sama duduk semeja dan saya pancing untuk berbicara
>>tentang beberapa hal,'' kata seorang mantan anggota MPR yang keberatan
>>disebut jatidirinya.
>>
>>Secara terpisah, Wakil Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jatim,
>>KH Fuad Amin Imron mengemukakan, para ulama pengasuh pondok pesantren
>>se-Jawa kini tengah melakukan pembahasan tentang boleh-tidaknya wanita
>>menjadi presiden. ''Pembahasan masalah wanita presiden memang bukan hal
>>yang utama. Namun, yang sangat penting adalah soal kemampuan calon
>>presiden itu. Pembahasan para ulama ini diharapkan selesai pada 10 Juli
>>mendatang,'' kata Kiai Fuad yang juga pengasuh Ponpes Syaichona Cholil,
>>Kademangan Bangkalan, Madura.
>>
>>Menurut Kiai Fuad, kebanyakan ulama NU secara tegas menyatakan menolak
>>wanita menjadi presiden. Namun demikian, sambungnya, para ulama tetap
>>menunggu keputusan Ketua Umum PB NU Gus Dur yang kini masih berada di
>>Singapura.
>>
>>Pengamat sosial dari Universitas Airlangga Surabaya, Dr Dede Oetomo
>>mengakui, dalam beberapa hal Habibie justru lebih mampu menarik simpati
>>pengamat ketimbang Mega. ''Kita harus jujur mengakui, paling tidak dalam
>>retorika politik, Habibie lebih baik daripada Mega. Tapi itu bukan
>>berarti saya mendukung Habibie,'' tutur Dede.
>>
>>Ia memberi contoh sikap Habibie, yang setuju diadakannya referendum bagi
>>masyarakat Timtim, amandemen UUD 1945 dan tawaran pemilihan presiden
>>secara langsung, memiliki bobot politik yang positif. Sedangkan sikap
>>Mega, yang beranggapan bahwa Timtim merupakan bagian sah dari Indonesia
>>serta cenderung apriori amandemen UUD 1945 dan usulan pemilihan presiden
>>secara langsung, dianggap tak responsif terhadap tuntutan masyarakat. n
>>afa/yon
>>
>>
>>( sumber Republika )

Kirim email ke