Kalau setiap Partai 'konsisten' menjagokan Capresnya, ya sudah tentu MS yang akan mendapat suara terbanyak. Cuma belum apa-apa Capres dari PPP sudah menjilat ludahnya sendiri....:) Salam, bRidWaN At 09:02 AM 6/29/99 +0700, Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) wrote: >Akur deh Bung Blucer. Banyak orang sudah ketakutan pada hantu deadlock. >Padahal pemilihan presiden adalah barang yang SANGAT-SANGAT SEDERHANA. >Belum-belum sudah takut kalau buntu. Di UUD (1945) jelas disebutkan >"presiden dipilih dengan suara terbanyak". Voting-lah jawabannya. > >Terserah si badut Hamzah Haz kalau mau menolak MS. Lha kalau PDIP >mencalonkannya, mengapa tidak? Ya diadu saja dengan calon lainnya lewat >voting. Sangat sederhana. Lagi pula peluang MS masih 50-50. > >Wassalam, >Efron >-----Original Message----- >From: Blucer Rajagukguk [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] >Sent: Tuesday, 29 June, 1999 8:36 AM >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: Ulama NU menegaskan kesetujuannya akan presiden wanita > >Jalan terakhir adalah voting. Yang terpenting yang kalah voting harus bisa >menerima yang menang, bukan malah marah. Kalau tidak, mending tidak usah >pemilu, tidak usah ada wakil rakyat. Fatwa MUI ini sudah jelas >inkonstitusional >dan tidak menghargai kesepakatan nasional. Hamzah Haz selaku ketua PPP juga >jelas tidak mengerti UUD 1945. Kesian itu lembaga non-muslim, meringkuk >pucat >ketakutan tidak berani bersuara. > >Nasrullah Idris wrote: > >> Semakin jelas bahwa di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat >> tentang"boleh tidaknya" wanita jadi presiden. >> Apakah bisa sampai menjelang SU-MPR mereka memperoleh kesepakatan pendapat >> dalam hal ini ? Kalau tidak ya bagaimana jalan keluarnya ? Apakah >diabaikan >> saja salah satu kelompoknya ? >> >> Salam, >> >> Nasrullah Idris > >
