lah? kalau konsisten
bukannya BJH hanya dicalonkan oleh Golkar ?
salah ya saya...???



At 10:46 AM 6/30/99 +0700, Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) wrote:
>Bung Ridwan,
>
>Kalau dikatakan MS sudah tentu mendapat suara terbanyak pada SUMPR masih
>terlalu dini. Memang PDIP meraih kursi terbanyak namun bukan suara terbanyak
>dan mayoritas (351). Dapat saja MS terhadang oleh koalisi PGK dan
>sempalannya.
>
>Yang masalah mengapa mesti meributkan pencalonan MS. Sekalipun PDIP
>mencalonkan MS (ini sah-sah saja, lha wong MS itu big boss-nya PDIP) belum
>tentu dapat menyaingi suara untuk BJH. Setiap partai berhak mencalonkan
>siapa saja termasuk saya. Kemudian tinggal diadu saja lewat voting.
>Sederhana bukan? Tidak bakal terjadi "deadlock" yang saya anggap sangat
>mengada-ada. Lagipula untuk apa mencalonkan orang lain yang tak memeras
>keringat dalam hingar-bingar kampanye.
>
>Wassalam,
>Efron
>
>-----Original Message-----
>From:   bRidWaN [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent:   Tuesday, 29 June, 1999 23:14 PM
>To:     [EMAIL PROTECTED]
>Subject:        Re: Hantu Deadlock (RE: Ulama NU menegaskan kesetujuannya
>akan presiden wanita)
>
>Kalau setiap Partai 'konsisten' menjagokan Capresnya,
>ya sudah tentu MS yang akan mendapat suara terbanyak.
>Cuma belum apa-apa Capres dari PPP sudah menjilat ludahnya
>sendiri....:)
>
>Salam,
>bRidWaN
>
>
>At 09:02 AM 6/29/99 +0700, Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) wrote:
>>Akur deh Bung Blucer. Banyak orang sudah ketakutan pada hantu deadlock.
>>Padahal pemilihan presiden adalah barang yang SANGAT-SANGAT SEDERHANA.
>>Belum-belum sudah takut kalau buntu. Di UUD (1945) jelas disebutkan
>>"presiden dipilih dengan suara terbanyak". Voting-lah jawabannya.
>>
>>Terserah si badut Hamzah Haz kalau mau menolak MS. Lha kalau PDIP
>>mencalonkannya, mengapa tidak? Ya diadu saja dengan calon lainnya lewat
>>voting. Sangat sederhana. Lagi pula peluang MS masih 50-50.
>>
>>Wassalam,
>>Efron
>
>
>>-----Original Message-----
>>From:   Blucer Rajagukguk [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>>Sent:   Tuesday, 29 June, 1999 8:36 AM
>>To:     [EMAIL PROTECTED]
>>Subject:        Re: Ulama NU menegaskan kesetujuannya akan presiden wanita
>>
>>Jalan terakhir adalah voting. Yang terpenting yang kalah voting harus bisa
>>menerima yang menang, bukan malah marah. Kalau tidak, mending tidak usah
>>pemilu, tidak usah ada wakil rakyat. Fatwa MUI ini sudah jelas
>>inkonstitusional
>>dan tidak menghargai kesepakatan nasional. Hamzah Haz selaku ketua PPP juga
>>jelas tidak mengerti UUD 1945. Kesian itu lembaga non-muslim, meringkuk
>>pucat
>>ketakutan tidak berani bersuara.
>>
>>Nasrullah Idris wrote:
>>
>>> Semakin jelas bahwa di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat
>>> tentang"boleh tidaknya" wanita jadi presiden.
>>> Apakah bisa sampai menjelang SU-MPR mereka memperoleh kesepakatan
>pendapat
>>> dalam hal ini ? Kalau tidak ya bagaimana jalan keluarnya ? Apakah
>>diabaikan
>>> saja salah satu kelompoknya ?
>>>
>>> Salam,
>>>
>>> Nasrullah Idris
>>
>>
>
>

Kirim email ke