Dear Sidang Permias@ nyang berbahagia,

Di bawah ini ane cut & paste posting seorang rekan dari milis laen,
nyang berisi GBHN milik PDIP. Diambil dari Asiaweek July 2 1999.
Berhubung ane seleranya selera nusantara, ya ndak ngecheck sendiri
ke majalahe. Ya liat sendiri lah ke majalahe itu, ndak tahu kalo yg persi
online ada atau endak.

*Politics*

Maintain seperation between relegion and state.
BJ: Berhubung ini bahasa pulitik, ane mau komentarin dg sipat paranoid
     ane. Saat inipun sudah ada sistem keparatisme, eh, separation antara
     religion dan state. Dengan menjamurnya parte-parte Islam (dan juga
     munculnya parte kristen dan katulik) nyang temtunya hendak meng-
     hembuskan napas Islam, maka think tank PDIP hendak menjawab
     naiknya pamor agama ke kancah pulitik dengan menambah kadar
     sekulerisme yg sudah dianut rikiplik kita ini. Mungkin untuk menegesken
     judule parte adalah parte nasionalis.... mungkin....

Decentralize authority and regional development
BJ: Walopun ane rada bingung makna dari judul di atas, ya kira-kira
    mangsude desentralisasi kekuasaan dan pengembangan pembangunan
    daerah yah..? Ya....endak ada nyang istimewa. Semua parte tereak nyang
    sama.

Strenghtens checks and balance among government branches
BJ: Sumprit deh, ane ndak mudheng mangsudnya...

Restore rule of law
BJ: Ya kalau restore kan artine 'mengembalikan' ya? Atau udah ganti?
     Dengan demikian think tank PDIP hendak mengembalikan hukum. Artine
     kita sudah pernah punya... Mangsude mau mengembalikan hukum jaman
     Belanda? Wong undang-undang cuman tambal sulam dari hukum kuno
     kok mau di-restore. Mending bikin nyang baru dong...

Maintain freedom of the press, of association assembly and opinion
BJ: Ya bagus lah. Cuman perlu dibikin rambu-rambu yang jelas sehingga press
      ndak keblablasen. Mentang-mentang dibilang free lalu dengan enteng masuk
      sidang tertutup KPU, bikin artikel poto telanjang, dlsb. Kayaknya UU jurnalistik
      perlu diperbaiki.

*Economics *

Have a balance budget without foreign borrowing
BJ:  Lha ini nyang dari kemaren ane bingung. Sayang ndak ada nyang mau njawab.
      Wong mentang-mentang ane kuli nyang ndak ngerti ekonomi lalu
      dibiarin ndak ngerti. Kata orang penerimaan terdiri dari tax dan ekpor minus
      impor. Lalu ditambah utangan dari Camdessus dan cs-nya sebagai pelengkap.
      Tax ndak mahi berhubung majak orang kaya ndak bisa.... wong barang korupsi...
      Kalo nyang miskin ditarik pajak mbayarnya pake seekor ayam. Ya susah...
      Lalu ekspor nyang dari dulu cuman lengo, lalu kayu dan gombal (eh tekstil..itu 
dulu),
      dan beberapa produk macam sendal cap Nike. Kayaknya ekspor ndak bisa di-boost,
      kecuali setelah dipoles Harmoko tiap hari itu.

      Kalo dulu waktu Suharto pengen dipuji bisa mbangun ini itu, maka utangan yang
      digedein. Lha kalo dibilang balance budget tanpa hasil utangan lalu kepriben tho?
      Otomatis cuman dari APBN dan APBD. Lha kedua AP ini rak hasil dari tax dan (X-M)
      doang tho? Masak negoro punya pendapatan sampingan dari sektor inpormal?
      Memangnya keluwarga indonesinia sing hidupe dari sektor inpormal melulu...
      Dengan logika kuli sederhana ane, satu-satunya cara untuk membuat balance ya
      dikurangi lah expenditure negara dan komponen impor ya? Berhubung impor ndak
      bisa dikurangi secara signipikan, otomatis nyang jadi bulan-bulanan expenditure
      negoro ya? Berhubung PNS pinggangnya sudah sebesar lidi, ndak mungkin dikurangi
      gajine ya? Berarti yg dikurangi adalah porsi pembangunan ya? Did I miss something
      here? Mangkane dasare cuman kuli, ane jadi bingung bagaimana kiat KKG sebagai
      pentolan think tank PDIP ngatur masalah ini.

      Kalo pembangunan dikurangi atau dihentikan, otomatis pemerintahan PDIP bakal
      kegusur. Sopo sing mau keadaan stagnan gitu... Kan everybody loves development.
      Apa mau meningkatkan ekspor? Modale opo? Aku tambah bingun, katanya nilai
      tukar rupiah yg menyedihkan itu bagus untuk ekspor. Lha buat mbangun tetep pake
      dollar, bisa ekspor sandal jepit cap Nike dan Reebok 1000 kali lebih banyak 
dengan
      biaya buruh 100 kali lebih murah rak ndak mbantu apa-apa. Memang membantu
      roda perekonomian dalam negeri sih. Si Pariyem jadi dapat kerjaan.... tapi 
peniti aja
      made in china...lha mbayare pake dollar. Jadine selisih biaya buruh jadi mbalik 
tai
      lagi... Belum urusan lipstik, bedak nyang juga mesti didatangken pake dollar.
      Wis...embuh ah... Ada nyang mau mbantu ane meluruskan logika seprul ane ini?

Place people at the center of development
BJ: Ini kayaknya lebih banyak bombas-nya. Tapi boleh lah kita berharap...

Promote industry to support agriculture
BJ: Lho kok kayak startegi Pelita I? Ini tahun berape sih? 1999 atau tahun 1972 sih?
      Weh....jangan-jangan aku mbalik ke jaman batu lewat time tunnel. Wong jaman
      informasi kok mau berkutat di bidang teknologi pangan. Memang bener kalo
      pangan harus dibenerin, tapi kalo penitik-beratan ke sektor agrikultur beserta
      teknologinya ya paling banter kita jadi bawahannya Thailand. Wong Thailand
      aja sudah bergerak ke industry maju kok....wehhhh.... bener-bener Pelita I 
bok....
      Terus aja gitu....biar ada excuse untuk berkuasa 25 tahun. Kan Pelita I harus
      diikuti oleh Pelita II, III, dlsb... Suharto jilid II dong.

Use market forces to encourage  efficiency
BJ: Lha ini ane setuju....

Limit government intervention
BJ: Ya boleh deh...

Eliminate corruption , collution and mepotism
BJ: Lha ini berlaku untuk umum atau untuk rakyat kecil doang? Mbok Taufik Kiemas
     digusur dulu baru ane percaya ndak ada nepotisme.

Abolish monopolies
BJ: Iya deh....

Eliminate barriers to both dommestic and international trade
BJ: Ini lebih enak ngomongnya.... Kalo barrier karena produk indonesia nyang cuman
      sendal jepit pegimana dong? Lha setiap negara juga bikin.... siapa yg butuh
      sendal jepit made in Indonesia? Ya kayak gula itu tho? Kalo harga gula impor 
lebih
      murah, ngapain petani sibuk nanem dengan margin keuntungan yg minus?
      Ya itulah kalo kepala kita dijual ke IMF dan WTO ndak pada ngrasa.

*Defense & foreign policy*

Raise military professinalism
BJ: Iya deh boleh....ndak cuman cuap doang kan? Di masa lalu dengan adanya
     dwi pungsi, militer jadi propesional dalam ....... doang. Thus, saking 
propesionalnya
     yg jadi korban cuman Golkar thok. Ah, ane jadi ingat dengan kasus Intel
     nyang mau bikin pabrik di Indonesia. Katane saat itu Sudomo
     masih jadi Menaker. Lha proposal Intel itu disambut oleh Sudomo agar
     produksinya menjadi padat karya. Lha wong teknologi tinggi kok pake padat
     karya. Mosok bikin chip pake cangkul? Ya ndak presisi.... Sekarang Malaysia
     yang menikmati hasil dari adanya pabrik Intel di sono. Lha ini conto-conto
     produk dwi pungsi. Wong orang cuman ngerti gimana carane ngelus-ngelus
     bedil di laut dan ngelus-ngelus mbak siska widowati kok dijadikan menaker...
     Yo bubar urusan negoro cak....

Strengthen the navy and air force
BJ: Iya bagus....

Reduce the military role in day to day government
BJ: Nah, ini pernyataan nyang lebih berbau pulitik daripada non-pulitik. Mangsudnya
     apa dengan istilah "reduce" di sini. Bila role militer saat ini 90%, yang namanya
     menjadikan role militer 85% juga sudah berarti "reduce" tho? Kenapa ndak
     dibilang eliminate aja? Katanya mau bikin professinalism di bidang militer?
     Jangan-jangan mangsudnya adalah militer lebih profesional dalam menangani
     urusan administrasi kenegaraan, sehingga kuantitas ABRI di jabatan sipil berkurang
     tetapi secara kualitas tetap? Weleh...weleh.....ane jadi bingun mangsude opo.....

Reject "superpower domintaion"
BJ: Nah, nyang ini jelas cuman untuk penutup nyang manis aja.


Akhir kata, nyang namanya program mudah diperbaiki. Tapi akibate sering berjangka
panjang. Kalo pungsi kontrol masih dibiarkan terbuka kayak pipa bocor gini, mau
bikin program setinggi langit ya percuma saja.

Monggo,
Kuli



'--------------------------------------------
Sebelum pada bingun, inilah asli ringkasan berita GBHN (?) itu:

Politics

Maintain seperation between relegion and state.
Decentralize authority and regional development
Strenghtens checks and balance among government branches
Restore rule of law
Maintain freedom of the press, of association assembly and opinion

Economics

Have a balance budget without foreign borrowing
Place people at the center of development
Promote industry to support agriculture
Use market forces to encourage  efficiency
Limit government intervention
Eliminate corruption , collution and mepotism
Abolish monopolies
Eliminate barriers to both dommestic and international trade

Defense & foreign policy

Raise military professinalism
Strengthen the navy and air force
Reduce the military role in day to day government
Reject "superpower domintaion"

--
Salam,
Jaya


--> I disapprove of what you say, but I will
    defend to death your right to say it. - Voltaire

               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke