Ini ada masukan, saya yakin pasti mental dari Permias@ dan IDS@.... Barangkali
ada yang dapat diambil dari jawaban rekan ini.



Sdr FNU yang terhormat,

Saya mau mengomentari tentang pendapat anda terhadap balance budget,
terlepas ini adalah GBHN PDI-P atau bukan :

Realitas kedaan ekonomi Indonesia saat ini dalam keterpurukannya ada dua
sebab besar :

1. Kebanyakan Hutang.
2. Kebanyakan Investasi baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Akibat dari dua hal diatas, untuk menghidupkan roda ekonomi memang kita
perlu pinjaman dari IMF, tentu dengan adanya tambahan perolehan dari IMF,
APBN kita tidak bisa disebut sebagai balance budget, yang betul karena sisi
penerimaan bukan dari riil hasil usaha, kita katakan defisit budget. Dalam
seminar yang kebetulan pembicaranya Kwik Kian Gie saya juga pernah
menanyakan hal ini, dia menjawab bahwa untuk beberapa tahun pertama kita mau
tidak mau harus memanfaatkan dana IMF untuk itu kita harus jujur mengatakan
bahwa APBN dinyatakan sebagai defisit budget. Upaya berikut yang dilakukan
mengendalikan defisit budget tiap tahun harus diusahakan jumlah defisit
menurun sampai pada satu sasaran bahwa betul-betul neraca pembayaran kita
seimbang. Upaya yang lebih rinci dalam agar sasaran lebih akurat, dilakukan
dengan melakukan skala prioritas penggunaan anggaran pembangunan kepada
peningkatan ekspor semaksimal mungkin terutama sektor agro bisnis dan agro
industri yang memiliki sedikit kandungan impornya. Untuk itu sebelum
ditetapkan anggaran pembangunan disektor Agro bisnis dan agro industri
diperlukan suatu penelitian yang lebih konkrit agar pemakaian duitnya yang
notabene adalah duit pinjaman tidak dipakai ngawur seperti dana JPS.

Soal pajak, dalam seminar itu ddikatakan pula oleh KKG bahwa diperlukan
restrukturisasi pajak progresif, yang menjadi sasaran adalah PPh (Pajak
Penghasilan perorangan), Batas penghasilan bebas pajak (BPBP) diturunkan
sampai pada tingkat penghasilan yang mampu dinyatakan layak bagi rata-rata
penduduk Indonesia (untuk menyatakan ini diperlukan suatu survey dengan
standarisasi tertentu), saat ini PTKP wajib Pajak per-bulan Rp 170,000,-
kalau punya istri tidak kerja dan dua anak yang belum kerja dihtung
masing-masing tambahan per-orang bebas pajak 50% x Rp 170.000,-( nilai ini
sangat jauh dari realitas hidup layak di Indonesia), dalam bahasa lainnya,
belum lagi bisa menikmati KFM (kebutuhan hidup minimal) sudah harus bayar
pajak,
Sementara bagian yang kena pajak diatur :

kelebihan Rp 1,- s/d Rp 10.Juta/tahun        10 %
Diatas Rp 10 Juta s/d Rp 50 Juta             20 %
Diatas Rp 50 juta s/d berapa saja            30 %

Komposisi ini sangat tidak wajar, KKG ingin merubah struktur pajak ini
dengan menaikkan BPBP sekaligus merubah komposisi tabel tsb.

Dengan perubahan ini, didukung dengan sistem pemungutan dan administrasi
yang baik serta SDM yang memadai dan juga pemerintahan yang bersih, keadilan
atas paja bisa terwujud sekaligus perolehan penerimaan atas PPH peorangan
meningkat.

Begitu ceritanya mas............

Gatot




>From: FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>CC: IDS <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [siyasah] GBHN persi PDIP di Asiaweek
>Date: Fri, 02 Jul 1999 15:47:31 -0400
>
>Dear Sidang Permias@ nyang berbahagia,
>
>Di bawah ini ane cut & paste posting seorang rekan dari milis laen,
>nyang berisi GBHN milik PDIP. Diambil dari Asiaweek July 2 1999.
>Berhubung ane seleranya selera nusantara, ya ndak ngecheck sendiri
>ke majalahe. Ya liat sendiri lah ke majalahe itu, ndak tahu kalo yg persi
>online ada atau endak.
>
>*Politics*
>
>Maintain seperation between relegion and state.
>BJ: Berhubung ini bahasa pulitik, ane mau komentarin dg sipat paranoid
>      ane. Saat inipun sudah ada sistem keparatisme, eh, separation antara
>      religion dan state. Dengan menjamurnya parte-parte Islam (dan juga
>      munculnya parte kristen dan katulik) nyang temtunya hendak meng-
>      hembuskan napas Islam, maka think tank PDIP hendak menjawab
>      naiknya pamor agama ke kancah pulitik dengan menambah kadar
>      sekulerisme yg sudah dianut rikiplik kita ini. Mungkin untuk
>menegesken
>      judule parte adalah parte nasionalis.... mungkin....
>
>Decentralize authority and regional development
>BJ: Walopun ane rada bingung makna dari judul di atas, ya kira-kira
>     mangsude desentralisasi kekuasaan dan pengembangan pembangunan
>     daerah yah..? Ya....endak ada nyang istimewa. Semua parte tereak nyang
>     sama.
>
>Strenghtens checks and balance among government branches
>BJ: Sumprit deh, ane ndak mudheng mangsudnya...
>
>Restore rule of law
>BJ: Ya kalau restore kan artine 'mengembalikan' ya? Atau udah ganti?
>      Dengan demikian think tank PDIP hendak mengembalikan hukum. Artine
>      kita sudah pernah punya... Mangsude mau mengembalikan hukum jaman
>      Belanda? Wong undang-undang cuman tambal sulam dari hukum kuno
>      kok mau di-restore. Mending bikin nyang baru dong...
>
>Maintain freedom of the press, of association assembly and opinion
>BJ: Ya bagus lah. Cuman perlu dibikin rambu-rambu yang jelas sehingga press
>       ndak keblablasen. Mentang-mentang dibilang free lalu dengan enteng
>masuk
>       sidang tertutup KPU, bikin artikel poto telanjang, dlsb. Kayaknya UU
>jurnalistik
>       perlu diperbaiki.
>
>*Economics *
>
>Have a balance budget without foreign borrowing
>BJ:  Lha ini nyang dari kemaren ane bingung. Sayang ndak ada nyang mau
>njawab.
>       Wong mentang-mentang ane kuli nyang ndak ngerti ekonomi lalu
>       dibiarin ndak ngerti. Kata orang penerimaan terdiri dari tax dan
>ekpor minus
>       impor. Lalu ditambah utangan dari Camdessus dan cs-nya sebagai
>pelengkap.
>       Tax ndak mahi berhubung majak orang kaya ndak bisa.... wong barang
>korupsi...
>       Kalo nyang miskin ditarik pajak mbayarnya pake seekor ayam. Ya
>susah...
>       Lalu ekspor nyang dari dulu cuman lengo, lalu kayu dan gombal (eh
>tekstil..itu dulu),
>       dan beberapa produk macam sendal cap Nike. Kayaknya ekspor ndak bisa
>di-boost,
>       kecuali setelah dipoles Harmoko tiap hari itu.
>
>       Kalo dulu waktu Suharto pengen dipuji bisa mbangun ini itu, maka
>utangan yang
>       digedein. Lha kalo dibilang balance budget tanpa hasil utangan lalu
>kepriben tho?
>       Otomatis cuman dari APBN dan APBD. Lha kedua AP ini rak hasil dari
>tax dan (X-M)
>       doang tho? Masak negoro punya pendapatan sampingan dari sektor
>inpormal?
>       Memangnya keluwarga indonesinia sing hidupe dari sektor inpormal
>melulu...
>       Dengan logika kuli sederhana ane, satu-satunya cara untuk membuat
>balance ya
>       dikurangi lah expenditure negara dan komponen impor ya? Berhubung
>impor ndak
>       bisa dikurangi secara signipikan, otomatis nyang jadi bulan-bulanan
>expenditure
>       negoro ya? Berhubung PNS pinggangnya sudah sebesar lidi, ndak
>mungkin dikurangi
>       gajine ya? Berarti yg dikurangi adalah porsi pembangunan ya? Did I
>miss something
>       here? Mangkane dasare cuman kuli, ane jadi bingung bagaimana kiat
>KKG sebagai
>       pentolan think tank PDIP ngatur masalah ini.
>
>       Kalo pembangunan dikurangi atau dihentikan, otomatis pemerintahan
>PDIP bakal
>       kegusur. Sopo sing mau keadaan stagnan gitu... Kan everybody loves
>development.
>       Apa mau meningkatkan ekspor? Modale opo? Aku tambah bingun, katanya
>nilai
>       tukar rupiah yg menyedihkan itu bagus untuk ekspor. Lha buat mbangun
>tetep pake
>       dollar, bisa ekspor sandal jepit cap Nike dan Reebok 1000 kali lebih
>banyak dengan
>       biaya buruh 100 kali lebih murah rak ndak mbantu apa-apa. Memang
>membantu
>       roda perekonomian dalam negeri sih. Si Pariyem jadi dapat
>kerjaan.... tapi peniti aja
>       made in china...lha mbayare pake dollar. Jadine selisih biaya buruh
>jadi mbalik tai
>       lagi... Belum urusan lipstik, bedak nyang juga mesti didatangken
>pake dollar.
>       Wis...embuh ah... Ada nyang mau mbantu ane meluruskan logika seprul
>ane ini?
>
>Place people at the center of development
>BJ: Ini kayaknya lebih banyak bombas-nya. Tapi boleh lah kita berharap...
>
>Promote industry to support agriculture
>BJ: Lho kok kayak startegi Pelita I? Ini tahun berape sih? 1999 atau tahun
>1972 sih?
>       Weh....jangan-jangan aku mbalik ke jaman batu lewat time tunnel.
>Wong jaman
>       informasi kok mau berkutat di bidang teknologi pangan. Memang bener
>kalo
>       pangan harus dibenerin, tapi kalo penitik-beratan ke sektor
>agrikultur beserta
>       teknologinya ya paling banter kita jadi bawahannya Thailand. Wong
>Thailand
>       aja sudah bergerak ke industry maju kok....wehhhh.... bener-bener
>Pelita I bok....
>       Terus aja gitu....biar ada excuse untuk berkuasa 25 tahun. Kan
>Pelita I harus
>       diikuti oleh Pelita II, III, dlsb... Suharto jilid II dong.
>
>Use market forces to encourage  efficiency
>BJ: Lha ini ane setuju....
>
>Limit government intervention
>BJ: Ya boleh deh...
>
>Eliminate corruption , collution and mepotism
>BJ: Lha ini berlaku untuk umum atau untuk rakyat kecil doang? Mbok Taufik
>Kiemas
>      digusur dulu baru ane percaya ndak ada nepotisme.
>
>Abolish monopolies
>BJ: Iya deh....
>
>Eliminate barriers to both dommestic and international trade
>BJ: Ini lebih enak ngomongnya.... Kalo barrier karena produk indonesia
>nyang cuman
>       sendal jepit pegimana dong? Lha setiap negara juga bikin.... siapa
>yg butuh
>       sendal jepit made in Indonesia? Ya kayak gula itu tho? Kalo harga
>gula impor lebih
>       murah, ngapain petani sibuk nanem dengan margin keuntungan yg minus?
>       Ya itulah kalo kepala kita dijual ke IMF dan WTO ndak pada ngrasa.
>
>*Defense & foreign policy*
>
>Raise military professinalism
>BJ: Iya deh boleh....ndak cuman cuap doang kan? Di masa lalu dengan adanya
>      dwi pungsi, militer jadi propesional dalam ....... doang. Thus,
>saking propesionalnya
>      yg jadi korban cuman Golkar thok. Ah, ane jadi ingat dengan kasus
>Intel
>      nyang mau bikin pabrik di Indonesia. Katane saat itu Sudomo
>      masih jadi Menaker. Lha proposal Intel itu disambut oleh Sudomo agar
>      produksinya menjadi padat karya. Lha wong teknologi tinggi kok pake
>padat
>      karya. Mosok bikin chip pake cangkul? Ya ndak presisi.... Sekarang
>Malaysia
>      yang menikmati hasil dari adanya pabrik Intel di sono. Lha ini
>conto-conto
>      produk dwi pungsi. Wong orang cuman ngerti gimana carane
>ngelus-ngelus
>      bedil di laut dan ngelus-ngelus mbak siska widowati kok dijadikan
>menaker...
>      Yo bubar urusan negoro cak....
>
>Strengthen the navy and air force
>BJ: Iya bagus....
>
>Reduce the military role in day to day government
>BJ: Nah, ini pernyataan nyang lebih berbau pulitik daripada non-pulitik.
>Mangsudnya
>      apa dengan istilah "reduce" di sini. Bila role militer saat ini 90%,
>yang namanya
>      menjadikan role militer 85% juga sudah berarti "reduce" tho? Kenapa
>ndak
>      dibilang eliminate aja? Katanya mau bikin professinalism di bidang
>militer?
>      Jangan-jangan mangsudnya adalah militer lebih profesional dalam
>menangani
>      urusan administrasi kenegaraan, sehingga kuantitas ABRI di jabatan
>sipil berkurang
>      tetapi secara kualitas tetap? Weleh...weleh.....ane jadi bingun
>mangsude opo.....
>
>Reject "superpower domintaion"
>BJ: Nah, nyang ini jelas cuman untuk penutup nyang manis aja.
>
>
>Akhir kata, nyang namanya program mudah diperbaiki. Tapi akibate sering
>berjangka
>panjang. Kalo pungsi kontrol masih dibiarkan terbuka kayak pipa bocor gini,
>mau
>bikin program setinggi langit ya percuma saja.
>
>Monggo,
>Kuli
>
>
>
>'--------------------------------------------
>Sebelum pada bingun, inilah asli ringkasan berita GBHN (?) itu:
>
>Politics
>
>Maintain seperation between relegion and state.
>Decentralize authority and regional development
>Strenghtens checks and balance among government branches
>Restore rule of law
>Maintain freedom of the press, of association assembly and opinion
>
>Economics
>
>Have a balance budget without foreign borrowing
>Place people at the center of development
>Promote industry to support agriculture
>Use market forces to encourage  efficiency
>Limit government intervention
>Eliminate corruption , collution and mepotism
>Abolish monopolies
>Eliminate barriers to both dommestic and international trade
>
>Defense & foreign policy
>
>Raise military professinalism
>Strengthen the navy and air force
>Reduce the military role in day to day government
>Reject "superpower domintaion"
>
>--
>Salam,
>Jaya
>
>
>--> I disapprove of what you say, but I will
>     defend to death your right to say it. - Voltaire
>
>                \\\|///
>              \\  - -  //
>               (  @ @  )
>------------oOOo-(_)-oOOo-----------
>FNU Brawijaya
>Dept of Civil Engineering
>Rensselaer Polytechnic Institute
>mailto:[EMAIL PROTECTED]
>--------------------Oooo------------
>            oooO     (   )
>           (   )      ) /
>            \ (      (_/
>             \_)
>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com



Kirim email ke