Analisa dalam memperingati ulang tahun kedua jatuhnya
nilai Thai Baht tanggal 2 Juli 1997.

--------
Tanggal 2 Juli lalu kita memperingati ulang tahun kedua
dari jatuhnya nilai Thai Baht yang dianggap awal dari
Asian Financial Crisis. Satu ulang tahun yang mungkin
hanya sedikit yang masih ingat menilai ekonomi yang
sudah ke arah perbaikan ini.

Francis Fukuyama, yang menulis 'The End of History,'
pada masa-masa kritis dalam 'Asian Financial Crisis'
menyatakan bahwa krisis ini hanyalah sebuah 'hiccup'
dalam sejarah. Ini disebabkan oleh situasi dunia yang
sudah lebih terbuka dimana free market sudah berkembang
meliputi seluruh dunia dan akhirnya krisis ini hanya akan
berlalu dan ekonomi akan kembali 'booming.' Waktu
itu pada saat saya membaca wawancara dengan dia, saya
terus terang sangat skeptik dan menganggap dia terlalu
optimis.

Sekarang kita melihat juga bahwa 'Bull Market' terus 'bullish'
dan ekonomi Asia mulai membaik. Thailand sudah mendekati
'level'-nya sebelum krisis ini terjadi dan Korea Selatan sendiri
sudah mendekati level semulanya. Di Philipina, Presiden
Estrada optimis tentang masa depan ekonomi dan di Taiwan
sibuk menghadapi demand untuk barang-barang elektronik
untuk diexport ke Amerika. Jepang menyatakan bahwa
mereka sudah mencapai titik terdalam dari resersi mereka
dan ekonomi mereka mulai maju kembali. Singapore
melakukan deregulasi besar-besaran kepada sistem
perbankannya dan menyatakan goal mereka sebagai pusat
financial di Asia. Nilai Rupiah sendiri sudah berangsur-angsur
menguat dan BEJ naik sekitar 120% dalam 6 bulan terakhir.
Suku bunga perbankan sudah turun dan reformasi politik sudah
mulai. Semua bukti ini mendukung thesis bahwa Fukuyama
ternyata benar dan the 'Global Contagion' sudah berakhir
dengan baik.


Namun saya sendiri masih meragukan bahwa 'Asian Crisis'
dan 'Global Contagion' sudah berakhir. Walau kita memang
sudah melewati masa-masa terburuk dari krisis ini, tapi saya
rasa masih terlalu pagi untuk menyatakan bahwa krisis ini
sudah selesai, terutama untuk Indonesia sendiri.

Ada banyak faktor domestik dan internasional yang
menyebabkan krisis ini justru bisa muncul kembali dan
berkembang lebih parah dari sebelumnya. Pertama-tama
dari segi internasional, sudah hilangnya rasa optimis kaum
investor kepada 'Asian Miracle.' Walau ini hanya bentuk
psikologis, tapi seperti pepatah 'keledai tak mungkin jatuh
ke lubang yang sama,' investor tak akan se-confident masa
lalu dalam melakukan investasi. Pada masa 'Asian Miracle,'
investor tak merasa terlalu kuatir dan yakin bahwa Asia
memang terus berkembang, karena itu mereka juga tak
menghiraukan tanda-tanda bahaya dari bidang politik dan
ekonomi. Tapi 'the Crash' menghancurkan psikologis ini,
dan kaum investor pasti akan langsung menarik kembali
uang mereka begitu muncul tanda-tanda buruk seperti
kondisi politik.

Permasalahan kedua dari segi internasional muncul dalam
segi demand. Ketika 'Asia Miracle' terus berlangsung,
demand kepada barang-barang terus tinggi. Kehancuran
ekonomi setelah 'the Crash' menghilangkan banyak demand,
sehingga sekarang di dunia demand tertinggi hanya ada di
Amerika dan Eropa. Melemahnya demand dari 2 region
tersebut akan mengganggu kembali usaha rekonstruksi Asia.
Karena itu akhir dari krisis ini terus dipengaruhi oleh bagaimana
situasi ekonomi di Amerika dan Eropa. Begitu terjadi slowdown

di Amerika, Asia bisa kembali ke jaman resersi.

Permasalahan ketiga dari segi internasional adalah dari China
yang sangat unpredictable. Walau China sampai sekarang
masih mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi,
tapi dalam kenyataannya, mereka sudah mengalami 'slow
down in demand' karena saingan dari negara-negara Asia lain
yang baru recover dan memiliki nilai mata uang yang
terdepresiasi dan menyebabkan harga barang mereka menjadi
murah. Sedangkan China sampai sekarang berusaha untuk
tidak mendevaluasi mata uang mereka. Masalahnya, slow
down dalam ekonomi China menyebabkan kenaikan angka
pengangguran yang sekarang saja sudah mencapai 100 juta
orang. Kenaikan lagi akan menyebabkan terjadi krisis politik
di China, karena itu para pemimpin partai China akan terus
berusaha meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi mereka.
Namun dengan mata uang Yuan yang cukup kuat, sulit sekali
mempertahankan pertumbuhan ekonomi mereka; karena itu
ada kemungkinan China akan mendevaluasi mata uang mereka.
Masalahnya, devaluasi China akan menyebabkan 'Chain Reaction'
kepada negara-negara lain yang bisa menyebabkan negara-negara
lain juga melakukan devaluasi. Di sini yang terjadi adalah
Contagion II yang jauh lebih parah.

Permasalahan internasional ini jika digabungkan dengan
permasalahan domestik akan menjadi cocktail yang parah
karena permasalahan domestik ini sangat menentukan survival
dari perekonomian Asia. Dari segi domestik, hampir semua
negara-negara yang terkena krisis mengalami guncangan
struktural. Kondisi politik sangat tidak stabil seperti di Russia
dan Indonesia. (Saya akan lebih memfokuskan tulisan ini kepada
Indonesia). Walau Indonesia baru menghadapi pemilu yang
cukup aman (dibuktikan dengan naiknya confidence kaum investor
dan menyebabkan Rupiah menguat), tapi masalah SARA dan
koalisi politik yang belum selesai menyebabkan kita tak bisa
sangat optimis dalam melihat masa depan Indonesia. Ini ditambah
lagi dengan posisi militer di Indonesia yang masih merupakan
'king maker.' Walau banyak yang menyatakan militer sudah
habis, tapi jika kondisi politik di Indonesia tidak membaik, ada
kemungkinan militer akan melakukan kudeta dan membentuk
pemerintahan seperti di Turki.

Dari segi ekonomi, banyak negara Asia yang sudah kehabisan
cadangan devisa yang bisa digunakan untuk mempertahankan
nilai mata uang. IMF sendiri keadaannya kurang bagus dan sangat
diragukan kalau IMF bisa 'bail out' negara-negara Asia jika terjadi
contagion kedua dalam waktu dekat ini. Reformasi perbankan di
Indonesia juga masih belum seefektif yang diduga. Bank-bank
di Indonesia walau sudah mulai pulih, namun kondisinya masih
lemah. Ini juga disebabkan oleh hukum bisnis dan perbankan
Indonesia yang belum efektif. Kondisi makro ekonomi
ini jika diikuti kondisi mikro ekonomi seperti tingginya angka
pengangguran (di Indonesia sekitar 30-50 juta orang) menyebabkan
stabilitas politik dan ekonomi sangatlah rawan. Selain itu juga,
walau confidence di Indonesia mulai menguat, tapi orang-orang
masih menguatirkan jika terjadi kembali keributan seperti peristiwa
Mei tahun lalu. Jika peristiwa Mei terjadi kembali, saya terus terang
ragu kalau Indonesia masih bisa bertahan.

Dari enam masalah yang saya bahas diatas, terlihat bahwa walau
ekonomi Asia sudah mulai pulih di kertas, namun dalam kenyataannya
kita masih dalam kondisi yang kurang bagus. Karena itu masih
terlalu pagi untuk menyatakan bahwa krisis ekonomi Asia sudah
selesai dan Indonesia akan pulih dengan cepat. Fukuyama mungkin
benar bahwa krisis ekonomi ini hanyalah sebuah 'hiccup' dan saya
ingin memiliki 'confidence' yang sama. Tapi hanya waktu yang bisa
membuktikan apakah cegukan ini sudah selesai atau akankah terjadi
'hiccup' kedua.


YS

Kirim email ke