---------- Forwarded message ----------
Date: Wed, 07 Jul 1999 20:21:45 PDT
From: hank hank <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Hankman-Wanita Tionghoa Sebagai Korban Persembahan

Wanita Tionghoa Sebagai Korban Persembahan
==========================================

Suatu hari ketika saya sedang berdiskusi dengan ayahku, tiba tiba air
mukanya berubah dan menyampaikan sebuah berita yang memilukan.
Seorang rekan kerja ayah saya, yang beretnis tionghoa dan kebetulan
kenal baik dengan keluarga kami, sedang mengasingkan diri bersama
keluarganya di Amerika, Karena ketika meletusnya kerusuhan Mei 13-14
rumah mereka dibakar habis dan yang paling menjijikan adalah putri
mereka diperkosa secara masal.

Darah saya mendidih dan emosipun hampir tak tertahan, rasa marah,
sedih dan kecewa tercampur aduk. Ingin rasanya menghabis nyawa para
binatang pemerkosa untuk membayar luka dan penderitaan keluarga yang
malang ini.

Semalam suntuk saya duduk merenungkan hikmah dibalik mimpi buruk yang
menimpa teman keluarga kami ini. Perasaan pedih sangat menusuk jika
salah satu korban malapetaka adalah teman sendiri.

Saya teringat ketika meletusnya kerusuhan Mei 13-14,1998 banyak sekali
hujatan, tuduhan dan serangan terhadap saudara kita beretnis Tionghoa,
yang katanya "Cina itu ekslusif, Cina bermoral KKN, Cina sebagai
penyebab kehancuran ekonomi, dan sebagainya". Bahkan anak kecil
pribumi berumur 10 tahun pun tidak mau ketinggalan "Matiin tuh.. Cina
Cina". Media surat Kabar ikut memanas manasi suasana, dan tulisan tak
berprikemanusian seperti " Cina pantas diperkosa, dibantai, dijarah
karena dosa mereka".

Dimana letak kesalahan warga Tionghoa sehinga harus menerima perlakuan
keji sepeti ini? Katakan Bob Hasan, Salim (Liem Siu Liong) dan kroni
Suharto etnis Tionghoa lain bertanggung jawab atas kehancuran ekonomi
negara, tetapi apakah semau rakyat Tionghoa biasa juga harus memikul
tanggung jawab tersebut?

Warga Tionghoa memang dieksklusifkan oleh rezim ORBA, dimana warga
Tionghoa hanya diperbolehkan berkecimpung dibidang ekonomi dan
ruang gerak juga dibatasi. Entah bagaimana rezim ORBA berhasil
menanamkan stereotype jika warga Tionghoa itu kaya dan sombong,
sehingga menumbuhkan rasa iri dan dengki dari kalangan pribumi
yang tidak puas dengan situasi ekonomi mereka. Taktik pecah belah
koloni Belanda terus dipertahankan oleh "bapak penghancur" Suharto,
dan bibit SARA dipupuki oleh kelompok radikal (fanatik) Islam sehingga
benih kebencian tumbuh subur di Indonesia.

Setelah dilema Mei 13-14 berlalu, didirikan sebuah organisasi
Tionghoa "INTI" yang digembar gemborkan akan menjadi wadah masyarakat
"Tionghoa nasional". Lalu diikuti oleh berdirinya Partai Bhineka Tunggal
Ika (PBI) yang katanya akan menjadi wakil rakyat Tionghoa di MPR.

Apakah mereka benar benar pejuang Tionghoa atau hanya kepanjangan
tangan dari rezim ORBA. Suara mereka hilang pada saat diperlukan untuk
menangkal hasutan dan fitnah para menteri, bagaimana dengan PBI
sendiri yang dikabarkan dipimpin langsung oleh seorang kroni Suharto
beretnis Tionghoa.

Sedangkan pejuang Tionghoa murni yang tergabung dalam tim relawan,
yayasan Tionghoa dan organisasi lain suaranya tak terdengar karena
kekurangan tenaga dan tekanan dari rezim ORBA (Habibie). Ditambah
mereka mengalami hambatan dari masyarakat Tionghoa sendiri yang entah
takut atau masih terbuai oleh rezim ORBA.

Dari pengalaman saya dicela habis habisan oleh rekan yang beretnis
Tionghoa lantaran saya mengusulkan agar mereka ikut dalam organisasi
memperjuangkan masa depan Tionghoa.

Penderitaan yang notabene dialami oleh warga Tionghoa sepertinya masih
belum cukup. Kesalahan utama mereka adalah tidak menyadari jika mereka
adalah boneka, sapi perah dan tameng pelindung rezim ORBA. Persepsi
"yang penting gua selamat" dan membeli selamat dari aparat keamanan
masih terus dipertahankan secara sadar ataupun tidak.

Tak terbayang penderitaan wanita wanita yang kehormatanya dijarah
oleh binatan binatang tak berprikemanusiaan. Berapa wanita tionghoa
lagi yang perlu dikorbankan agar sejarah hitam ini tak terulang lagi.
Sampai sekarang belum ada kekuataan riil dari warga Tionghoa sendiri
yang berjuang untuk masa depan mereka, masih menggantungkan bantuan
dari saudara mereka diluar Indonesia. Untung masih ada warga pribumi
yang simpati terhadap warga Tiongho Indonesia.

Saya sangat menyesalkan dan turut berduka cita atas aib yang menimpa
rekan kerja ayahku, rasanya pagi tak kunjung tiba. Sidang Umum MPR
sudah dekat, perlukah warga Tionghoa dikorban lagi?

Salam
Hankman


____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke