Hmmm,

Tema-tema nasional seperti dwifungsi ABRI, UUD45, bagaikan indime rebus
di pagi hari, enak sebagai santapan di saat unjuk diri dalam kancah pro
dan kontra status quo. Pendidikan? No way, sebuah isyu yang sangat tidak
populer. Tidak bisa dijadikan granat yang bisa meledakkan udara
perpolitikan untuk menarik simpati, tidak bisa dipakai sebagai bumbu dan
perekat untuk menarik para pemilih.

Sebenarnya di akhir-akhir pemerintahan Soeharto tema ini mulai digarap.
Dari program Wajar (Wajib Belajar), Kejar Paket A,  B, dll sudah
menggema, walaupun gema hanya terpantul karena lebih merupakan "program
kerja " saja, bukan di anggap sebagai yang memang harus dikerjakan.
Jadilah Wajar bagai tulisan "no smoking" dalam kereta. tanpa arti;
program yang tidak dibarengi dengan "deployment" sarana vital wajar,
yaitu "gratis". Untung saja walaupun hanya namanya saja yang wajib,
kalau tidak melakukan tidak dihukum. Coba bayangkan, ingin semua anak
harus lulus SD atau SMP, tapi biaya terus aja ada. Jangan disangka ini
masalah yang sepele. Biaya pendidikan SD sepertinya sangat kecil
(sebagian orang) tapi justru menjadi yang luar  bagi rakyat kebanyakan
yang notabene adalah target utama program ini..

Saya sebenarnya sangat mengharapkan,  partai-partai yang mendapat kursi
di senayan bisa menggolkan hal ini pada pemerintahan mendatang. Siapapun
itu.
Apapun yang terjadi, saya sangat mengharapkan agar biaya pendidikan
untuk SD dan SMP mulai th 2000 ditiadakan. Gratis!!!

Hmmm, another dream? Yes, a dream is when you're in a sleep. It may come
true if you  wake up.

sumonggo mas,
Pungkas B.A.

Kirim email ke