Ini menanggapi posting sebelumnya tentang pornografi. Efek film-film porno memang luar biasa. Pernah dengan film dengan judul Gigolo? Ini adalah film nasional disekitar tah 94/95. Pernah membaca berita seorang mahasiswi fak Perikanan IPB dibunuh kemudian diperkosa th yang sama? Kedua peristiwa tsb angat berkaitan. Alkisah (tapi ini kisah nyata) seorang pelajar SMA setelah melihat film, tersebut mungkin menjadi sangat terpengaruh, sehingga pulang nonotn film tsb menyatroni kost-kost-an putri. Malang sang korban waktu itu berada dirumah sendirian dan menjadi sasaran si pemuda tadi yang ternyata masih terus memutar film Gigolo tsb di otaknya. Terjadilah tragedi itu. Sangat menyedihkan. Namun kejadian tidak ada pengaruhnya bagi para pengusaha bioskop di Bogor waktu itu. Film-film sejenis tetap diputar, poster-poster seronok terus bergelantungan. Yang menjadi risih kemudian adalah para mahasiswa yang sering melwati bioskop-bioskop itu. Akhirnya para ketua senat se-IPB dan wakil-wakil mahasiswa berkumpul, berembug dan berbagi tugas. Sepekat mereka untuk mengadu (tepatnya) menuntut DRPD Kodya Bogor agar melarang atau menertibkan film-film dan poster seronok tsb (bukan seronok bahasa Malaysia yang artinya senang). Anggota DRPD dihadiah photo-photo poster film dan Ketua DPRD dihadiahi satu album berupa photo-photo poster seronok seluruh bioskop se kodya Bogor. Bahkan ada yang harus dengan terpaksa menonton salah satu film untuk membandingkan antara poster dan isi film-nya (malang nian si mhs yang kebagian tugas tsb). Walhasil, setelah itu poster-poster film seronok hilang. Tidak hilang bener sih. Setiap poster film yang tadinya berpose aduhai, di cat dan didandani rapi. Hingga gambar-gambar cewek aduhai berubah menjadi gambar ibu-ibu dengan rok panjang. Gambar yang sopan. Ini terus berlangsung hingga tahun 97. Setelah itu, wallahu alam. Dengan abad kebebasan baru ini, termasuk didalamnya dengan "freedom of press" (saya lihat bulan April 99, Indonesia belum masuk peta freedom of press di Museum of Press di Arlington,Virginia. Mudah-mudahan tahun depan sudah). Salah satu dampak yang paling ditakutkan adalah menyebarnya pornografi. Kasus majalah Matra dengan .... Ashari (adiknya ayu ashari, siap itu..), dengan cover sangat mencolok adalah bukti makin menyebarnya pronografi. Sesuatu yang tadinya tabu, lambat laun berubah menjadi sesuatu yang harus tahu. Mungkin juga akan muncul-muncul majalah setengah porno, porno dll dengan memanfaatkan alam kebebasan. Menurut saya ini sebuah ekses yang sangat penting untuk diperhatikan. Kontrol pada masyarakat sangat penting. Malangnya kalau masyarakatnya sendiri tidak mau dan mampu, maka alam kebebasan akan menjadi alam kebablasan. Peran mahasiswa (dalam dan luar negeri) juga saya yakin akan sangat lebih penting. walaupun dalam kuantitas tidaklah terlalu signifikan, tapi bagai sebuah mobil, dia adalah busi-nya, yang bisa mengkatalis berbagai perubahan. Bagi mahasiswa yang di LN, yang secara langsung terekspose oleh "cyber-media" yang bisa dengan mudah mengakses gambar-gambar atau tulisan yang berbau porno, jika ingin berpartisipasi aktif dengan menjalarnya wabah prono ini; maka langkah pertama kali adalah dengan menghindari diri dari mengakses "cyber-porno" tadi. Secara psikologis mungkin akan sangat sulit (kecuali memang "bonek"), berkampanye anti porno, bila dirinya sendiri masih belum bebas dari hal-hal yang demikian. Dalam hati kecilnya tentu ada pertentangan. Kasus di atas hanyalah sekedar contoh, betapa mahasiswa mempunyai peran yang sangat siginifikan untuk memerangi prono...eh pornografi. Pungkas B. Ali -- "Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung"
