Bagi yang belum baca....
Kamis, 15 Juli 1999
EDITORIAL
BERITA UTAMA
Diamnya Seorang Mega?
''DIAM itu emas,'' kata orang-orang bijak. Itulah kata-kata mutiara yang
dianggap pas untuk diberikan kepada seorang Megawati Soekarnoputri atas
kesetiaannya menutup mulut sampai dengan detik ini.
Membisu sejuta bahasa dari seorang Mega, bisa dipahami ketika dia
menjadi wanita tertindas dan terkalahkan di era Orde Baru. Simpati
publik, termasuk harian ini, begitu tinggi pada penderitaannya. Dan,
simpati khalayak itulah yang pada akhirnya mengukuhkan dia (PDI
Perjuangan) sebagai pemenang pemilihan umum mengalahkan Golkar yang
merajai selama 32 tahun.
Akan tetapi situasi telah berubah. Mega sekarang bukanlah Mega dua tahun
lalu. Mega sekarang bukan lagi Mega yang tertindas. Mega sekarang adalah
Mega yang menang. Mega yang didukung dengan histeria euphoria, dan,
bahkan, dengan stempel darah.
Kalau begitu dengan preferensi dan penalaran apa lagi yang masih membuat
akal sehat kita bisa dibawa untuk memahami emas di balik diamnya Mega
itu? Berdiam diri karena kekalahan dan penderitaan, masih masuk akal.
Tetapi, diam sejuta bahasa ketika menjadi pemenang, sulit bisa
dimengerti.
Soalnya, Mega adalah pemimpin sebuah partai politik, sekali lagi: partai
politik. Bukan seperti kepala lembaga penelitian yang harus
menyembunyikan rahasia temuannya. Terlepas dari kegagalan meraih
mayoritas, PDI Mega adalah peraih suara terbanyak dari 48 kontestan.
Sebagai pemimpin partai politik, apalagi yang memenangkan pemilu, Mega
seharusnya terikat pada etika-etika politik. Diam setelah menang,
menurut hemat kita, melanggar komitmen dan etika politik.
Tidak mengherankan, dan aneh bin ajaib, panggung politik kita akhirnya
didominasi oleh orang-orang kalah yang tidak merasa tersisih.
Orang-orang kalah akhirnya menganggap diri memiliki kekuasaan untuk
mengatur dan memasang syarat.
Maka terjadilah elitisme teknorat. Kalau sang calon adalah profesor,
maka karisma dianggap tidak perlu. Kalau sang calon adalah orang pendek,
maka orang-orang tinggi dianggap tidak berguna. Kalau sang calon atletis
dan langsing, maka yang gemuk dianggap tidak pantas.
Itu, adalah salah satu akibat disfungsi peran individu maupun pranata
sosial. Pemimpin politik yang seharusnya rajin bicara mengampanyekan
ide, justru membisu. Scientist yang sepatutnya lebih banyak diam dan
merenung, malah keranjingan bicara. Organisasi cendekiawan yang
sesungguhnya memberi masukan impersonal, ikut bicara tentang politik dan
kekuasaan.
Kita tidak setuju ketika Mega seolah-olah mau disiksa lagi dengan
syarat-syarat gender, agama, dan pendidikan. Tetapi kita sangat gemas,
ketika Mega membisu di tengah lingkungan yang sedang bergolak. Mega
seakan tidak tersentuh sensitivitasnya ketika Aceh mencekam, Ambon
berperang, dan Sambas bertikai.
Jangan-jangan Mega hanya seekor singa di belantara yang mampu membunuh
kijang, tetapi ditinggalkan buat pemuas lapar dan dahaga burung nazar.
Jangan-jangan Mega terkungkung oleh kompleksitas diri. Dan, berbagai
jangan-jangan lainnya.
Karena itu, sebagai sahabat, harian ini mendesak Mega untuk keluar dan
berbicaralah. Beri tahu publik tentang gagasan, alternatif, dan berbagai
pilihan pemecahan terhadap masalah bangsa ini. Ini tuntutan etika
politik, karena Anda adalah calon presiden dari partai yang memenangkan
pemilu.
Kalau Anda tetap diam, maka dengan segala hormat, kita sarankan agar
Mega mengembalikan mandat calon presiden kepada partai Anda. Dan,
setelah itu, nikmatilah emas dalam kebisuan Anda.
Hak cipta � 1997-1998 Media Indonesia
--
"Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung"