In a message dated 8/31/99 3:45:16 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Anda bilang mendukung PAN dan PKB, nyatanya anda sibuk menjelekkan Amien,
AM
> Fatwa dlsb. karena mereka tidak mendukung PDIP.
Irwan:
Anda ini bener2 ngga bisa nangkep tulisan atau pura2 bego?
Seperti dalam tulisan gue sebelumnya, silahkan buktikan
kalau perlu copy paste khan tulisan saya atau bahkan
tulisan bRidwan yg menjelek2an orang2 PKB atau PAN
sebelum pencoblosan pemilu.
Catat kata2 penting, SEBELUM PENCOBLOSAN.
Saya masih ingat kata2 Amien Rais sebelum pencoblosan yg
sedikit "mengancam" dua partai reformasi lainnya yaitu
PKB dan PDIP untuk dengan ksatria mendukung salah
satu partai yg paling banyak suaranya diantara mereka
(PAN, PKB, PDIP). Tapi apa yg terjadi setelah penghitungan
suara dan kini? Amien Rais menjilat ludahnya sendiri.
Kesepakatan Paso diberakinya, pernyataan yg dia keluarkan
sebelum pencoblosan dianggap angin lalu.
Jelas, saya akan mempertanyakan sikapnya.
Soal AM Fatwa? Ah, biarkan saja, dia toh baru bikin
humor kemarin2 ini yg sudah saya kutipkan disini.
Saya tidak menjelek2an mereka, Amien Rais dan AM Fatwa.
Tapi mereka sendirilah yg telah menjelekkan diri
masing2.
Jelas, disini anda salah karena fakta membuktikan
saya tidak menjelek2kan Amien Rais & AM Fatwa
sebelum pencoblosan.
Anda memfitnah saya di milis ini.
Anjasmara:
> Anda angkat Hasan Basri
> sebagai pahlawan dari PAN yg sejati, hanya semata-mata dia mencalonkan
> Megawati.
Irwan:
Salah lagi. Bukan Hasan Basri tapi Faisal Basri.
Hal2 sepele begini saja anda sudah salah. Tampaknya
anda menulis hanya berdasarkan emosi saja tanpa
nalar yg bagus dan data2 yg kuat.
Saya masukkan Faisal Basri sebagai salah satu orang
hebat karena dia menyadari betul apa itu demokrasi
dan konsekuensinya. Demokrasi tidak hanya dibibir
saja, tapi juga harus nyata dalam tindakan.
Faisal Basri konsisten dengan itu. Jadi tidak ada hubungannya
dengan memilih Megawati. Faisal Basri bukan pendukung
Megawati, dia pendukung demokrasi yg benar.
Lagi2 anda salah dalam hal ini.
Anda memfitnah saya di milis ini.
Anjasmara:
> Kesimpulan yang dapat ditarik dari posting-posting anda kan semua
> yang tidak mendukung PDIP bukan reformis, mau anda tutup-tutupi bagaimana
> lagi sih? Kalau ngomong jangan diputar-putar ah.
Irwan:
Anda kembali memfitnah saya. Saya tidak pernah mengatakan
yg tidak mendukung PDIP bukan reformis. Bisa dibuktikan
dari posting2 yg telah saya tulis di milis ini.
Anda tampaknya termasuk tipe yg suka bikin2 pernyataan
yg tidak sesuai dengan fakta seperti pernah ada di milis
ini yg suka belok2in tulisan orang.
Anjasmara:
> Setelah gerombolan anda
> BRidwan-Efron sibuk kasak-kusuk menjelekkan Amien, sekarang diperkuat oleh
> Saluling. Rupanya benar bahwa Permias@ dapat menipu peserta dengan berbagai
> jalinan tanya jawab yang rapi sehingga dapat menjerumuskan peserta.
> Penyusunan tanya-jawab ini mengingatkan pada acara dari desa ke desa.
Irwan:
Anda salah lagi.
bRidwan tetap konsisten dengan suara reformasinya.
Bung Efron mungkin memang dari awal sudah tidak
suka dengan Amien Rais karena punya pengalaman pribadi
dengan Amien Rais semasa kuliah dulu di UGM.
Donald Saluling? Dia punya garis sendiri. Terkadang saya
dan dia berseberangan dalam topik2 tertentu.
Saya tidak menjelekkan Amien Rais, apa yg saya
katakan adalah fakta lapangan. Silahkan buktikan
kata2 saya tentang Amien Rais yg tidak sesuai
dengan fakta lapangan.
Amien Rais lah yg telah menjelekkan dirinya
sendiri. Anda mungkin pendukung Amien Rais, tapi
sebaiknya anda tetap obyektif dan melihat permasalahan
dengan pikiran tenang. Jauhkan emosi, lihat fakta
lapangan.
Seperti yg sudah sering saya tuliskan. Saya bukan
pendukung fanatik Megawati. Saya pendukung gerakan
pembaharuan di Indonesia, kali ini bentuknya adalah
gerakan reformasi. Dukungan nyata saya berikan kepada
PDIP dengan Megawatinya karena saya lihat mereka
yg paling konsisten memperjuangkan nasib rakyat kecil
sama seperti apa yg saya perjuangkan.
Rekan2 di milis ini saksi matanya. Anda yg baru bergabung
seharusnya tahu diri dan lihat2 dulu sebelum memberikan
komentar yg hanya membuat orang lain makin jelas
seperti apa anda orangnya.
"Teguran" dari bung Donald seharusnya bisa jadi masukan
untuk anda. Jangan asbun bung! Ini milis permias.
Anjasmara:
> Dari dulu anda sebut-sebut rakyat terus. Sekarang bagaimana anda
menjelaskan
> posisi anda terhadap sistem pemilu model berjenjang yang dianut Indonesia
> saat ini? Apakah perlu diubah atau tidak?
Irwan:
Sejak tahun lalu saya sudah ingatkan masalah
pengangkatan anggota MPR yg menurut saya tidak wajar
dan harus dihapuskan.
Saya termasuk pendukung pemilihan presiden secara langsung.
Saya termasuk pendukung pembentukan negara federal
tapi tidak untuk periode mendatang ini. Pembentukan
negara federal paling cepat menurut saya baru bisa dimulai
tahun 2004 mengingat prioritas sekarang adalah pembenahan
hukum dan ekonomi. Ini sering saya sebutkan sebelum
pencoblosan karena memang saya bukan pendukung fanatik
PDIP tapi pendukung fanatik demokrasi.
Anjasmara:
> Sekarang begini, suara 35% apakah dapat dianggap mewakili keseluruhan suara
> rakyat? Bagaimana bila yang 65% kemudian mengumpulkan suaranya dengan cara
> menggalang persatuan pendapat dari wakil-wakil rakyat terpilih?
Irwan:
Makanya kemarin2 tuh saya kasih contohnya soal ini,
soal demokrasi lucu ala Indonesia. Dan ini bisa menjadi
trend baru walau nanti pemilihan presiden dilakukan
secara langsung. Baca lagi deh contoh lucu yg sudah
saya tulis cukup panjang. Mbok ya sebelum ngomentarin
ya dibaca dulu tulisannya.
Anjasmara:
> Pertanyaan
> selanjutnya, suara 35% apakah bukan suara kelompok, yaitu suara kelompok
> pendukung Mega dan PDI-P. Bukan suara rakyat! Enak saja main klaim-nya.
> Sudah mengklaim tidak memakai dasar masih pakai ngotot lagi. Aneh bener
deh.
Irwan:
Anda ngerti demokrasi ngga sih? Suara terbanyak adalah suara
rakyat. Anda tahu yg milih Clinton dan juga presiden2 AS lainnya
itu sebenarnya berapa persen dari rakyat?
Kenapa walau kurang dari 50% tapi rakyat AS tetap mengakui
dan ngga pakai galang2 menyatukan suara buat ngalahin
pemenang pemilu? Ini karena rakyat AS tahu benar apa itu
demokrasi dan konsekuensinya. Bukan seperti elit politik
Indonesia dan sebagian masyarakat yg seperti anda ini.
Segala cara dipakai untuk menjegal pemenang pemilu.
Ngakunya reformis, punya semangat untuk mengamandemen
UUD 45 tapi mentalnya masih tetap status-quo, cari celah2
untuk bisa menggolkan kepentingan pribadi. Mbok ya
suara rakyat itu diperhatikan.
Baca lagi pemaparan saya akan hal tersebut.
Anjasmara:
> Nih, biar anda tidak asal njeplak bibit anti demokrasi. Justru anda yang
> hendak menanamkan bibit anti demokrasi. Anda kan yang hendak memaksakan
> kehendak agar Mega menjadi presiden. Kok melangkahi suara wakil-wakil
> rakyat. Bung, anda cuma 1 orang dari 100 juta pemilih. Anda tidak berhak
> mengklaim bahwa pendapat anda yang paling benar.
Irwan:
Lagi2 anda salah. Saya tidak sendirian. Makanya bung, baca
dan baca. Jangan nulis berdasarkan kemauan sendiri.
Yang pengin Megawati jadi presiden bukan saya tapi
mayoritas pemilih dalam pemilu kemarin. Itu fakta, ngga
bisa disangkal. Saya ini hanya ingin menegakkan demokrasi
secara benar. Kalau pemilu kemarin yg menang PAN,
maka saya akan perjuangkan Amien Rais jadi presiden
karena memang begitu sudah komitmen saya dari awalnya.
Makanya, kalau baru bergabung jangan sembarangan
ngecap ya.
Anjasmara:
> Masih banyak yang juga
> meluangkan pikiran dan waktu untuk mengevaluasi kejadian-kejadian di
> Indonesia. Makanya berkaca dulu sebelum mengklaim pihak lain pembawa virus
> demokrasi, bibit anti demokrasi. Anda ini yang justru tidak demokratis.
Irwan:
Belajar lagi gih sana tentang demokrasi dan konsekuensinya.
Jangan ngomong demokrasi tapi hanya sesuai dengan pilihannya
saja. Itu bukan demokrasi namanya. Udah ngerti sekarang?
Kalau belum, mending loe tanya lagi deh sama rekan2 lainnya
di milis ini yg ada di AS, bagaimana mereka melihat demokrasi
dijunjung tinggi di negeri ini dan bagaimana enaknya hidup
di alam dimana demokrasi sangat dijunjung tinggi. Mereka
mengerti betul apa itu demokrasi serta konsekuensinya
dari demokrasi. Kedaulatan tertinggi ada ditangan rakyat.
Suara rakyat adalah suara final.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu