Salam,
Sejak awal saya sudah memperkirakan ini. Tidak selamanya orang bule itu 
disanjung. Sebab bagi sebagian asli Timtim, bule itu tak lebih tukang peres, 
provokator, perusak dan senang lihat oang hantem-anteman.

Ini bahaya juga. Pasalnya, orang bule yang baek-baek kan banyak juga. 
Gara-gara pukul rata seperti kasus yang saya paste di bawah ini, gawat 
jadinya. Siapa salah?

salam,
ramadhan pohan
(pengennya, cinta semua manusia)

http://www.jawapos.com/8sep/de8i17.htm

Rabu, 8 September 1999



PROMOSI DI SINI

Timtim Kian Menakutkan

Dili, JP.-

Diberlakukannya keadaan darurat militer di Timtim sejak pukul 00.00 kemarin 
menyebabkan suasana makin menakutkan. Letusan senjata di sana sini masih 
terdengar. Dan, kepulan api dari rumah-rumah pendukung kemerdekaan yang 
dibakar masih terlihat di beberapa sudut kota.

Sementara itu, ancaman Falintil untuk merebut kota Dili, Baucau, dan Bobonaro 
dalam tempo tiga hari ini hingga kemarin tidak menjadi kenyataan. 

Milisi Aitarak yang prootonomi masih tetap menguasai kota Dili. Kelompok 
Makikit masih tetap berkuasa di Baucau dan kelompok Halilintar juga tetap 
mengontrol wilayah Bobonaro sepenuhnya. 

Sedangkan Falintil tetap bersembunyi di Waemori Viqueque. Kemungkinan mereka 
akan keluar sarang setelah pemimpin mereka Xanana Gusmao, yang telah 
dibebaskan kemarin, tiba di Timtim.

Seiring dengan situasi Timtim yang makin tak menentu, kegiatan pemerintahan 
juga lumpuh total. Kantor-kantor pemerintah, perbankan, dan usaha-usaha 
swasta tutup. Persediaan bahan bakar menipis, listrik kadang-kadang padam, 
hubungan telepon sulit, dan suplai air makin berkurang. 

Beberapa kantor pemerintah telah memindahkan kegiatannya ke NTT seperti 
Ditjen Anggaran, PLN, Dolog, PU, dan beberapa instansi vital lainnya.

Dalam suasana panik, tiga orang staf Kantor Pos Dili berhasil menyelamatkan 
uang negara Rp 600 juta lebih dengan membawanya ke Kupang. Ketiga pekerja itu 
Sharon Ilona Upamahu, Christian, dan Marthen. Menurut Sharon, Kantor Pos Dili 
diancam dibakar sehingga ia berinisiatif bersama rekan-rekannya lari ke 
Kupang dengan kapal laut sambil mengamankan uang tersebut. Ketiga pegawai itu 
kini ditampung di Kantor Pos Kupang. 

Sementara itu, untuk mengendalikan situasi keamanan yang masih mencekam, TNI 
telah mengedrop tambahan tiga batalyon pasukan yang segera melakukan operasi 
pembersihan terhadap pengacau keamanan, baik dari kelompok Falintil maupun 
kelompok prootonomi.

Dua kekerasan terjadi di Kupang dan menimpa tiga wartawan asing yang ingin 
meliput pengungsi di Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang. Ketika mereka sedang 
memotret pengungsi dan mencoba melakukan wawancara, beberapa pengungsi 
meneriakkan kata-kata yang nadanya provokatif.

Beberapa orang yang terpengaruh provokasi itu mengejar ketiga wartawan itu 
dan melempari taksi carteran dengan batu. Untunglah, Danramil Kupang Lettu 
TNI S.A. Lomi segera tiba di lokasi kejadian dan meminta para pengungsi 
menahan diri. Meski demikian, warga tetap merangsek dan menghantam wartawan 
bule dengan kepalan tangan.

Sore harinya, dua orang staf UNHCR (badan PBB yang mengurusi pengungsi) 
mendatangi lokasi pengungsi di Noelbaki. Didampingi Kakanwil Depsos NTT 
Bambang Soebroto, petugas itu mewawancarai para pengungsi. Entah apa 
sebabnya, kedatangan dua staf itu akhirnya memancing amarah warga Timtim.

Para petugas polisi dan anggota TNI serta pengungsi lain yang mencoba melerai 
nyaris menjadi korban serangan batu para pengungsi asli Timtim itu. Untuk 
menghindari pengeroyokan terhadap kedua bule itu, aparat keamanan mencoba 
melindungi dengan memasukkan mereka ke mobil. Namun, mobil itu pun dihajar 
dengan batu hingga kacanya pecah

Amukan ratusan pengungsi Timtim makin menjadi-jadi. Karena itu, mereka 
diungsikan dengan pengawalan ketat anggota polisi, TNI, dan pengungsi lain 
yang merasa iba melihat wajah kedua orang staf itu babak belur terkena batu. 
Bahkan, seorang terluka di kepala bagian kiri. Kedua staf UNHCR itu akhirnya 
diselamatkan Danramil Kupang Lettu TNI S.A. Lomi dengan kendaraannya. Namun, 
kendaraan yang tadinya mereka pakai itu ludes dilahap api yang disulut 
pengungsi Timtim.

Kapolres Kupang Letkol Pol Agus Kusnadi mengimbau agar wartawan asing jangan 
mendekat ke tempat pengungsi karena situasi masih sangat panas. Di Kupang, 
saat ini terdapat puluhan wartawan asing yang sebelumnya bertugas di Dili.

Manuel, salah seorang pemuda tanggung prootonomi, mengatakan sudah muak 
melihat orang bule. ��Karena merekalah, Timtim menjadi seperti saat ini; 
hancur-hancuran dalam perang saudara. Aparat keamanan di lokasi pengungsian 
tidak boleh lagi mengizinkan orang bule mendekati mereka.��

Manuel juga mengingatkan agar Megawati Soekarnoputri yang menurut rencana 
hari ini akan berkunjung ke tempat-tempat pengungsi di NTT tidak perlu 
membawa serta orang atau wartawan asing. ��Wartawan asing dan orang-orang 
UNAMET itu telah merusak keadaan di Timtim. Orang UNAMET melakukan penipuan 
dan kecurangan dalam jajak pendapat. Jadi, kami tidak suka sama orang bule,�� 
tandas Manuel yang didukung kawan-kawannya.

Sementara itu, arus pengungsi yang menyelamatkan diri ke wilayah-wilayah NTT 
hingga kemarin mencapai 50 ribu orang. Jumlah ini, menurut Gubernur NTT Piet 
A. Tallo, diperkirakan akan terus bertambah karena situasi Timtim yang masih 
memanas. (wu/jus)

Kirim email ke