hallo..lagi semuanya...

pertama-tama, harap dibedakan yah, antara "saya" dan "ppi Jerman"
PPI Jerman bukan saya saja.
Memang saya ketua pusatnya sekarang.
coba diperhatikan mail resmi dan mail pribadi saya.
yang mail kemarin ini, judulnya aja "rancangan kampanye".
Dan kalau dibaca awalnya :
>pengurus pusat mempunyai rencana ....
dan akhirnya :
>Kalau ada ide/kritik/saran, tolong cepetan die-mailin ke gue yahhhhh

Jadi sekali lagi : namanya juga rencana, makanya sekarang lagi digodog.
kalau mail resmi, selalu pake embel-embel jabatan dan nama.
sedangkan kalau mail pribadi, cuma nama doang.


ok, sekarang ttg penghentian bantuan luar negeri.



>
> politik dan yg bukan. Bila bantuan (tegasnya hutang baru) dihentikan, kita
> tidak akan mampu bayar utang yg lama, membiayai pembangunan yg sedang
> berjalan, dlsb. Resiko yg muncul adalah chaos ekonomi terbaru. Semua rakyat
> di dalam negeri tambah sengsara, dan anda yg di Jerman tambah keras
> kaok-kaoknya untuk makin menyalahkan pemerintah, padahal anda-anda juga yg

Kita tuh sekarang dihutangin, bukannya buat pembangunan ekonomi negara,
tetapi untuk BAYAR HUTANG negara yang notabene gara-gara orde baru.

Nah, jadi kalau dibayangin, itu kapital asing masuk, katakanlah dari G-7,
gunanya untuk, yah itu, keluar lagi, untuk bayar hutang ke G-7.

Jadi kalau distop, tidak akan berefek banyak ke ekonomi Indonesia.

Tapi, nah...ada tapinya nih...

kita yang di luar negeri, juga kampanye untuk menghapuskan hutang Indonesia.
(dengan mengambil contoh Jubilee 2000)
Tidak benar-benar dihapus, tetapi begini.
Katakanlah hutang yang harus dibayar per tahun 1 juta US$.
Kapital sebanyak 1 juta US$ TETAP harus dikeluarkan oleh pemerintah,
tetapi BUKAN untuk membayar hutang(ingat di atas, bantuan kapital asing
sudah dihentikan, yang notabene hanya untuk bayar hutang), tetapi pemerintah
HARUS memakai kapital ini untuk memperbaiki sektor-sektor dasar.

Negara-negara donor sebenarnya tidak untung dan tidak rugi.
Sebab kapital dalam bentuk hutang baru, toh tidak keluar.

Tapi luar negeri bagaimana bisa diyakinkan untuk mau melupakan hutangnya ?
di pikiran saya ada beberapa point yang bisa tekankan :

1. Tanggung jawab moral sebagai sesama manusia.
point ini ampuh untuk sayap kiri.

2. Menjamin pasar masa depan, sebab kalau Indonesia kacau, mereka kehilangan
pasar.
point ini ampuh untuk sayap kanan.

3. Stabilitas regional
Mengapa Rusia tetap mendapat kredit dari IMF, padahal Jeltzin sedang kena kasus
korupsi ?
karena kalau Jeltzin mabuk, terus salah pencet tombol, bisa ada jamur gede
banget di angkasa.
Indonesia adalah negara TERBESAR di Asia Tenggara, dan merupakan ANCAMAN
yang jelas bagi Australia, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Mengapa ? karena, katakanlah negara Indonesia hancur, perang saudara di
mana-mana.
Arus pengungsi otomatis akan terjadi ke negara-negara terdekat.
Ini akan mempengaruhi stabilitas ekonomi maupun politik negara-negara tersebut.

Terakhir, mengapa program penghentian hutang baru dari luar negeri perlu
dikampanyekan ?

karena tanpa hutang baru, pejabat-pejabat amoral TIDAK BISA korupsi uang sedunia
lagi.

Mereka akan berdalih, waduhhhh... tanpa hutang baru, tidak bisa bayar hutang
lama.
tidak bisa membangun, dll.

Tapi yang fakta yang JELAS buannnngggeettttt :
berapa sih duit luar negeri yang sampai ke rakyat ?

Benar, tanpa hutang baru, kita tidak bisa bayar hutang lama.
lalu ??? apakah kita akan diisolasi dunia internasional ?
TIDAK MUNGKIN.
Banyak negara-negara Afrika sudah sejak dari dulu-dulu tidak pernah membayar
hutangnya karena memang tidak mampu.
Waktu Mahathir akan menerapkan kontrol mata uang Ringgit, disikat internasional
juga.
Tapi Jeffrey Winter malah muji dia (coba baca deh di the economist).
Dan ternyata toh efeknya bagus.


Juga PPI Jerman dan Permias bisa berperan, untuk meraih simpati rakyat
negara setempat untuk mendukung program penghapusan hutang.

Bantuan luar negeri secara resmi dihentikan. (maksudnya dari pemerintah ke
pemerintah)
Tapi PPI Jerman dan Permias, dll, bisa mengkoordinir bantuan dari LSM2 luar
negeri
untuk LSM2 di Indonesia sehingga efeknya bisa langsung terasa oleh rakyat.
Dan untuk itu kita tidak perlu konsep "ekonomi kerakyatan" ala adi sasono.

yang kita perlukan hanya niat dan waktu

Ayohhhhh
mumpung masih rencana nih...
kita godog rame-rame, biar kalau mateng, enaknya gak ketulungan.

Johnson Chandra

Kirim email ke