Dear rekan permias@ yth.,
Dari diskusi di KSNP'99 Washington D.C. terjadi beda pendapat juga
antara Faisal Basri dan Didik J Rachbini serta Bungaran Saragih tentang
Hutang Luar Negeri Indonesia. Didik J Rachbini terlihat mewakili
kelompok yang 'pesimis' terhadap kemampuan Indonesia membayar
hutang-hutangnya sehubungan dengan situasi yang belum bisa dipastikan
menuju ke arah yang lebih baik. Sementara Faisal Basri dan Bungaran
Saragih lebih berpikir positif dan mewakili kelompok yang 'optimis' bisa
mengatasi masalah hutang luar negeri Indonesia tsb dengan catatan
kondisi di Indonesia dari segi politik harus diarahkan ke perbaikan
bangsa. Sealin itu, Faisal Basri menekankan perlunya keterlibatan dan
tanggung jawab negara pemberi hutang terhadap proses pengembalian hutang
Indonesia tsb., yang ia yakini ini sangat-sangat dimungkinkan untuk
pengaturan pembayaran hutang-hutang Indonesia.
Kalau kita lihat, kata kuncinya adalah 'perbaikan kondisi politik negara
Indonesia'. Kalau yang ini beres, hutang luar negeri kita (yang
kebanyakan berjangka panjang dengan bunga rendah dan sebagian besar
justru dari swasta) bukanlah sesuatu yang perlu 'dikhawatirkan'.
Lalu, bagaimana cara manangani kata kunci tsb.?
Kelihatannya, desakan dan tuntutan dalam kebersamaan untuk menjadikan SU
MPR betul-betul menyuarakan aspirasi rakyatlah kuncinya.
Untuk itu, segala macam rekayasa politik yang mencoba untuk mementahkan
ini harus sebanyak mungkin dibatasi dan dicegah. Namun, masih akan
muncul pertanyaan lain, siapa yang akan melakukannya?, dan apakah mampu?
Sulit untuk dijawab.
Ketika saya punya pikiran nakal yang saya lontarkan ke Munir (Kontras)
di KSNP'99, yaitu: 'Kenapa anda tidak membentuk saja pasukan 'snipper'
untuk nembaki pelaku-pelaku politik jahat di Indonesia?', dia hanya
tersenyum saja dengan kecut.
Salam,
Budi
Jeffrey Anjasmara wrote:
>
> Kalau saya sih menolak keras rencana nomor dua.
> Anda itu tidak mau memikirkan rakyat banyak. Sudah memikirkan dampaknya bila
> bantuan dihentikan? Anda dan PPI Jerman mesti pilah-pilah berita yg berbau
> politik dan yg bukan. Bila bantuan (tegasnya hutang baru) dihentikan, kita
> tidak akan mampu bayar utang yg lama, membiayai pembangunan yg sedang
> berjalan, dlsb. Resiko yg muncul adalah chaos ekonomi terbaru. Semua rakyat
> di dalam negeri tambah sengsara, dan anda yg di Jerman tambah keras
> kaok-kaoknya untuk makin menyalahkan pemerintah, padahal anda-anda juga yg
> menuntut bantuan distop. Duh.... Jerman...Jerman.... teliti dulu deh
> dampaknya. Jangan asal hantam gitu. Sorry saja, saya sih ikut senang kalau
> PPI Jerman vokal, tapi kalau asal hantam gitu sih mending ngikut Permias
> deh....hehe...;)
>
> Ini masukan lho. Didengerin syukur, enggak ya nggak ngaruh.
>
> +anjas
>