Salam PERMIAS
September 8'99

Tiga hari setelah KSNP'99 berakhir, di depan komputer kesayangan saya yang
selama ini tidak terurus selama keberadaan saya di Washington, DC, saya
meniatkan diri untuk merenungkan diri secara detail, dengan disertai itikad
positif, dalam baik segi positif dan negatif untuk memberikan ulasan saya
mengenai KSNP yang baru saja berakhir. Kiranya ulasan/tulisan ini akan
menambah wawasan kita semua dan meningkatkan kualitas kongres2 dimasa yang
akan datang.
Pertama-tama tentu saja seperti rekan-rekan yang sudah menuliskan pendapatnya
dimilis ini, saya mengucapkan gratifikasi yang setinggi-tingginya kepada
PERMIAS Washington DC yang tlah mencurahkan tiga bulan terakhir ini guna
menyelenggarakan Kongres dan Seminar yang sukses dan berkenan. Sangat banyak
hal-hal positif yang perlu ditiru dalam pelaksanaan event ini, selain tentu
saja perbaikan disana-sini yang aka saya ulas dibagian terakhir ulasan ini.
Penyediaan tempat sangatlah strategis yang mana tempat tinggal dan tempat
penyelenggaraan seminar dan kongres di lokasikan sedekat-dekatnya. Belum lagi
dengan smoking environment yang ada ... personally sangat impressive.
Selanjutnya adalah penyediaan konsumsi yang berkecukupan dan tentu saja
memenuhi selera umum para anggota seminar/kongres. Kesigapan dn ketangkasan
para panitia juga patut diacungi jempol dengan persiapan yang hanya
berlangsung selama 3 bulan. Ada sedikit kesan otoriter terhadap waktu (dalam
seminar terlebih) yang nanti saya uraikan lebih lanjut dibagian berikut dari
surat ini. Official bidang transportasi memegang kendala sangat besar dalam
hal ini ... minim sekali komplain yang saya dengar sehubungan dengan
pelaksanaan urusan antar jemput selama event berjalan. Overall, apa yang
sudah diberikan PERMIAS DC patut dijadikan standard pelaksanaan kongres dan
seminar di PERMIAS wilayah2 lainnya. Berikut adalah sedikit kekurangan2 yang
saya yakin sudah disadari oleh PERMIAS DC sendiri.

MENGENAI SEMINAR :Saya sangat menghargai itikad DC dalam mengundang banyaknya
pembicara2 berkaliber national/international dari Indonesia dan sekitarnya.
Walaupun demikian para pembicara seperti Faisal Basri, Munir SH, Dr. Sjahrir
dan lain lain tidak sempat termaksimumkan kemampuannya disini. Hal ini
disebabkan karena kurang kesiapan panitia dalam mengedarkan makalah2 (atau
menyediakan makalah sebelum pembicara berorasi) atau menyediakan waktu yang
cukup supaya ada dialog antara pembicara dan audience. Potensi pengetahuan
dan ilmu seperti ini sangat langka didapatkan. Berapa sering sih pembicara
seperti Munir dan Dr. Syahrir berdiri didepan kita dan memberi info-info dari
dalam negeri ? Pertanyaan2 banyak sekali yang perlu di lontarkan tapi sessi
hampir selalu dibatasi karena seminar dimulai terlambat dan akan ada seminar
berikutnya di tempat yang sama.  Para mahasiswa kita pun terkadang di potong2
masa pembacaan makalahnya. I.e saudara Janson yang menulis makalah sebanyak
lebih dari 10 halaman dengan bibliography yang berjubel hanya diberikan waktu
5 menit dalam mengantarkan pendapatnya. Sessi terakhir mengenai otonomi
daerah pun dibatasi untuk satu sessi tanya jawab semata. Perbincangan di
rehat kopi tidak dapat dianggap sessi tanya jawab yang serius seperti yang
dianjurkan oleh moderator2 :)  Saya pribadi tidak merasa puas dengan keadaan
tsb.
SOLUSI :
1. Pemberian waktu yang lebih dari 3 jam untuk maksimum 3 pembicara .
2. Penyediaan makalah sedini mungkin, yang juga akan menuntut pembicara untuk
menyiapkan diri lebih baik (dapat dimaafkan disini bahwa persiapan
penyelenggaran KSNP hanya kurang lebih 3 bulan) plus memberikan pengetahuan
tambahan kepada para audience.
3. Dalam mewakili TNI, ada baiknya panitia mendapatkan seorang wakil yang
datang langsung dari pusat. Saya rasa keberadaan pak Dadi tidak dapat di
anggap valid karena beliau lebih sering menghabiskan waktu menjabat bidang
luar negeri/diplomatik bukannya diinternal markas besar sendiri.
4. Sessi seminar sangat disesalkan bila dipilah2 sebagaimana yang terjadi.
Saya membayar $100 plus tiket untuk melihat semua pembicara2 bukan hanya
setengahnya. Dalam sidang komisi IV akhirnya tidak semua bisa memasukkan
pendapatnya dalam merumuskan hasil seminar.

KONGRES :
Jumlah peserta kongres sangat terbatas sekali.  Ini berhubungan dengan
kurangnya komunikasi yang bisa terjadi selama masa persiapan KSNP. Hal ini
menyebabkan kekurangan suara yang sangat drastis sehingga kita tidak dapat
memungkinkan diri untuk merubah atau meng-amendemen anggaran dasar sesuai
yang sebenarnya dikehendaki oleh seluruh peserta. Kemudian, dalam membahas
komisi2 kerja terjadi konflik bila suatu PERMIAS lokal hanya diwakili oleh
satu orang. Terjadi kebingungan dan kekurangan pendapat dan suara setiap
kali. Keseriusan para peserta pun perlu dipertanyakan disini sebab beberapa
peserta hanya jadi penonton dan tidak aktif sama sekali.
SOLUSI :
1. Penjalanan tap anggaran dasar yang telah dibahas bersama
2. Pelaksanaan tugas secara dedikatif oleh para KPK
3. Persiapan kongres yang lebih panjang waktunya.

PERSONAL OPINION
Saya harap kemandirian kita sebagai suatu organisasi memberikan kita
kebebasan dalam mengadakan demonstrasi atau mengkritik segala jenjang
pemerintahan di Indonesia tanpa kecuali. Kemandirian ini akan menetapkan kita
kepada suatu posisi sulit dimana kita akan berdiri seperti posisi opposan
dari pada konservatif. Mahasiswa, orang muda diharapkan menjadi pengkritik
kronis buat pemerintah saat ini. Kita tidak boleh menjadi penurut semata,
maka dari itu kita menetapkan bahwa Permias adalah unsur yang mandiri, satu,
sigap, dan berguna bagi anggotanya. Aspirasi setiap orang sedianya bisa
diwakili oleh Permias. Penegasan sikap adalah penting buat permias, apalagi
disaat-saat genting seperti kejadian di ET dsb.

OK lah... saya rasa ulasan dan reflection saat ini sudah lumayan panjang.
Semoga berguna buat kita semuanya

Selamat berjuang,
Donald Saluling (PS: Bukan Shaolin ... Saluling)

Kirim email ke