rekan Anjas (Jeffrey),
Two wrongs doesn't make one right!......rejim militer dan rejim
(seolah-olah) sipil Habibie telah membawa negeri ini ke titik yang sangat
memprihatinkan.

ancaman militer (juga trium viratnya)
jend. Wiranto, ex letjen. syarwan hamid dan ali alatas juga bahaya.
Tapi Gus dur, mega dan amien harus buktikan bahwa mereka bisa dan mau
bargaining dg militer. Partai-partai mereka juga telah menolak RUU KKN
.Inipun spekulasi kalau BJH mundur (satu bulan sebelum waktunya?).

Tapi, Fakta adalah: Terjadi tragedi kemanusiaan luar biasa di Timor timur
(seperti di Aceh, ambon, jkt dan di mana-mana di indonesia).

Fakta adalah:Militer tetap ng�y�l untuk menggolkan RUU KKN (PKB).

beraksi untuk sikap anti kekerasan !.....
nasib mereka (dan kita) BUKAN sekedar ego apalagi komoditi !



wass.
deddy priadi
ps: untuk menimbang segala implikasinya tentu adalah saran yang sangat
bijaksana, namun saya berkeyakinan kebenaran harus disuarakan meskipun
pahit.
saya bersikap independen dan terlepas dari opini pers internasional.





---- Original Message -----
From: Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, September 09, 1999 1:34 PM
Subject: Re: Sikap PERMIAS terhadap perkara Tim-Tim apa?


> Bila Permias Portland hendak berdemo silakan tulis dengan
> besar-besar sebagai Permias LOKAL PORTLAND. Dengan demikian Permias lokal
> yang lain yang hendak memakai bentuk lain untuk menolong rakyat Timtim
tidak
> perlu ikut kena getah.
>
> Yang mesti mendapat garis bawah adalah BJH mengakui referendum,
> semua kandidat presiden juga mengakui referendum. Yang sekarang
> menjadi masalah berat bagi Indonesia adalah bagaimana keluar
> dari Timtim tanpa kehilangan muka baik ke luar maupun ke dalam.
>
> Indonesia ingin menjaga martabat untuk dinilai mampu menangani
> masalah dalam negeri. Bila anda meminta UN Troops masuk ke
> Timtim maka langsung akan berhadapan dengan pemerintah RI.
> AS sendiri bahkan sudah menyebutkan untuk tidak mengirim pasukan.
> Sidney Morning Herald yang biasanya demikian getol melakukan
> agitasi, bahkan hendak memusuhi Jakarta, sudah mengubah warna
> pemberitaannya. Silakan baca deh.
>
> Kita harus cukup bijak dan mampu memahami bahwa kekuatan seperti
> Australia dan AS - pun tidak akan mampu masuk ke Timtim tanpa
> ijin Jakarta. Australia getol untuk masuk dan menyiapkan sebuah fregate
> modern (dan satu fregate modern dari Inggris), kedua fregate ini diklaim
> berklasifikasi jauh di atas unit kapal Indonesia manapun. Bagaimanapun
juga
> kata kunci ada di Jakarta. Dibilang 'No UN Troops', berarti tidak ada
kapal
> asing yang akan mendarat di bagian manapun di bumi pertiwi. Tidak ada
negara
> bahkan Australia yg punya concern cukup besar untuk mengirim pasukan tanpa
> ijin Jakarta. Ada lebih dari 4 artikel di SMH yang membahas hal ini hari
> ini.
>
> Satu hal yang paling penting, dan tidak pernah ditulis oleh media
> manapun adalah potensi militer memegang kendali pemerintahan lagi
> bila sampai terjadi konflik internasional di Timtim. Dengan
> demikian perjuangan dan harapan kita dengan munculnya pemerintahan
> sipil yang berwibawa tidak akan pernah kesampaian. Ingat, seburuk-
> buruknya pemerintahan BJH, itu merepresentasikan pemerintahan
> sipil pertama setelah 32 tahun. Bila BJH turun sebelum waktunya
> baik dikudeta atau dengan cara baik-baik, saya rasa hasil akhirnya adalah
> pemerintahan militer.
>
> Perlu diingat bahwa CNN-pun menulis bahwa situasi di Timtim sudah mereda.
>
> Untuk itu rekan-rekan lebih baik mengevaluasi kembali serpihan- serpihan
> berita baik DN dan LN, dan menimbang implikasi-implikasi
> jika UN nekad memasukkan pasukan tanpa ijin. Sebetulnya saya rasa
demo-demo
> oleh Permias lokal juga akan sayup-sayup basah sampai ke telinga yg
dituju.
> Tapi silakan deh ditimbang-timbang, kalau memang dirasa perlu silakan
> ditindaklanjuti. Siapa tahu manjur.
>
> +anjas
>

Kirim email ke