Salah satu trend yang semakin menjadi-jadi di Indonesia terjadi selama
tahun ini  adalah "PEMERAN INTELEKTUAL". Tampaknya hampir setiap hari bisa
kita saksikan lewat media massa, bagaimana cendekiawan/politisi berbicara
dekat microphone sambil mengkrenyitkan dahi, memegang kepala, mengacungkan
tangan atau lainnya.
     Akan lihat pula di antaranya mereka (tentu tidak semua lho!) :
     * Cendekiawan/politisi yang merasa jagoan kalau sudah menghujat pihak
lain.
     * Cendekiawan/politisi yang mencari muka ke dunia luar melalui kritikan
tajam yang terjadi di dalam negeri.
     * Cendekiawan/politisi yang menganggap statement lawan politiknya
adalah salah semua
     * Cendekiawan/politisi yang menjadikan media massa untuk semakin
melegitimasi dirinya sebagai sosok selebritis politik.
     * Cendekiawan/politisi yang begitu meyakinkan menyatakan apa secara
kodrati itu "begitu" adalah "begini" dalam rangka memperbesar peluangnya
untuk menggolkan misi politiknya.
     * Cendekiawan/politisi yang menyesuaikan isu korupsi dengan
"perasangka" dirinya sebelum isu itu mencuat.
     * Cendekiawan/politisi yang memimpikan adanya korupsi yang dilakukan
lawan politiknya, agar bisa menjadi bahan untuk melakukan manover politik
dengan berlindung pada supremasi hukum.
      Pokoknya dalam pemeran intelektual itu akan banyak ditemukan
perilaku, dari yang menggelikan, menyejukan, sampai menjijikan.
      Silakan mau pilih yang mana?

Salam,

Nasrullah Idris

Kirim email ke