Sebuah sikap reformis ???

=====================
 ....................Ketika itu, seorang pendemo bernama Adrianus Marundung,
bahkan sempat menyesalkan sikap Mega yang terkesan sombong dan tak sudi
menemui simpatisannya yang telah berhari-hari menunggunya di DPP. ''Apakah
ini merupakan metamorfosis dari rezim yang telah berkuasa selama 32 tahun
dan akan lebih kejam dari rezim tersebut,'' ungkap Marundung, ketua
Solidaritas Masyarakat bagi Penegakan Demokrasi (Somasi) Nias, ketika itu.

Hal serupa terjadi kemarin. Meski sudah jauh datang dari daerah dengan
membawa keluhan, massa PDI-P tersebut tak mendapat perhatian Megawati, yang
sebetulnya sedang berada di kantor DPP. Bahkan, ia justru ngeloyor
meninggalkan kantor, ketika massanya berniat bicara.

Pada saat Mega akan meninggalkan kantornya, para pendemo berteriak-teriak
meminta bertemu dan berbicara dengannya. Tetapi, dengan gaya cuek, Megawati
keluar dari kantornya, lalu masuk ke mobil Toyota Crown B 1 MT yang telah
menunggunya. Tanpa menghiraukan mereka yang berteriak-teriak, mobil yang
ditumpangi Mega itu pelan-pelan meninggalkan kantor DPP
PDI-P...................

==========================================================
Lengkapnya.

Caleg 'Siluman' PDI-P kembali Diprotes


JAKARTA -- Massa PDI Perjuangan dari berbagai provinsi kemarin mendatangi
kantor pusatnya di Kebagusan Jakarta. Mereka memprotes atas hilangnya calon
legislatif dari putra daerah untuk kemudian diganti caleg lain yang tak
mereka kenal alias 'caleg siluman'.

''Kami kemari karena ingin menuntut DPP yang terlalu jauh mengintervensi DPC
dalam soal penentuan caleg,'' kata Paskalis Lesek, yang mengaku sebagai juru
bicara masyarakat Kab Manggarai, NTT, di Kantor DPP Perjuangan di Jakarta
kemarin.

Sekitar ratusan massa PDI-P melakukan demo terhadap katornya sendiri di
Kebagusan kemarin. Mereka tidak cuma datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT),
tapi juga Irian Jaya (Irja), Lampung, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sumatera
Utara (Sumut), Kebumen Jateng, dan Jakarta Timur.

Seolah sebuah koor, mereka datang dengan persoalan yang sama, yakni
munculnya caleg siluman. Karena terlalu menggebunya para pemrotes itu, tak
pelak mereka pun sempat nyaris bentrok dengan Satgas PDI-P yang berpakain
hitam-hitam.

Protes oleh massanya sendiri semacam ini memang bukan pertama kali dialami
DPP PDI-P. Aksi menghujat DPP PDI-P, bahkan jauh lebih garang, juga terjadi
pada Rabu (15/9) di dua tempat sekaligus -- halaman DPRD DKI dan Lenteng
Agung. Sehari sebelum itu, demo serupa juga terjadi di tempat yang sama.

Ketika itu, seorang pendemo bernama Adrianus Marundung, bahkan sempat
menyesalkan sikap Mega yang terkesan sombong dan tak sudi menemui
simpatisannya yang telah berhari-hari menunggunya di DPP. ''Apakah ini
merupakan metamorfosis dari rezim yang telah berkuasa selama 32 tahun dan
akan lebih kejam dari rezim tersebut,'' ungkap Marundung, ketua Solidaritas
Masyarakat bagi Penegakan Demokrasi (Somasi) Nias, ketika itu.

Hal serupa terjadi kemarin. Meski sudah jauh datang dari daerah dengan
membawa keluhan, massa PDI-P tersebut tak mendapat perhatian Megawati, yang
sebetulnya sedang berada di kantor DPP. Bahkan, ia justru ngeloyor
meninggalkan kantor, ketika massanya berniat bicara.

Pada saat Mega akan meninggalkan kantornya, para pendemo berteriak-teriak
meminta bertemu dan berbicara dengannya. Tetapi, dengan gaya cuek, Megawati
keluar dari kantornya, lalu masuk ke mobil Toyota Crown B 1 MT yang telah
menunggunya. Tanpa menghiraukan mereka yang berteriak-teriak, mobil yang
ditumpangi Mega itu pelan-pelan meninggalkan kantor DPP PDI-P.

Ketika mobil itu keluar dari kantor itulah, bentrokan hampir terjadi antara
Satgas dan massa PDI-P sendiri. Para pendemo ingin mengejar mobil Mega, tapi
dihalangi Satgas. Namun, bentrokan itu bisa dilerai. Para pendemo pun
meneruskan orasi sambil bernyanyi-nyanyi, di bawah matahari yang sangat
terik.

Di tengah aksi orasi, sempat terjadi pemukulan yang dilakukan seorang
simpatisan PDI-P Sumut terhadap Wakil Ketua DPD Sumut Bastami Ginting di
depan gerbang kantor. Namun, itu pun tak berlangsung lama, sebab Ginting
langsung dibawa masuk kantor. Menurut si pemukul yang tidak mau menyebutkan
namanya, hal itu dilakukan sebagai akumulasi kekecewaan dan kemarahannya
atas perlakuan DPD Sumut dalam soal penggantian caleg.

Kekecewaan seperti itulah yang juga dialami Lesek asal NTT. Menurutnya,
dalam penentuan caleg yang disampaikan ke Panitia Pemilu Indonesia (PPI),
caleg jadi putra daerah tidak dimasukkan. ''Malah diganti dengan nama lain
yang bukan asal putra daerah,'' katanya.

Dikatakannya pula, caleg jadi putra daerah bernama Cyprianus Aoer tidak
tertera dalam daftar yang diusulkan DPP PDI-P ke PPI dengan surat nomor
461.20/EX/DPP/1999. Menurut kabar yang mereka dengar, ucap Lesek, caleg itu
diganti dengan Yunus Bobo. Lalu, Yunus pun diganti oleh Yacob Nuawea. ''Itu
langsung saya dengar dari Jacob Tobing, ketua PPI,'' tegasnya.

''Tindakan sepihak itu bagi kami merupakan satu bentuk ungkapan
pengkhianatan terhadap hak, aspirasi rakyat, keadilan, dan kebenaran,''
lanjutnya. Secara de facto, paparnya, suara PDI-P di Kab Manggarai terbesar,
128.575 suara. ''Dengan perolehan tersebut, Manggarai harus diwakili oleh
Bapak Aoer yang asli putra daerah,'' paparnya.

Mereka yang berasal dari daerah-daerah lainnya juga menyatakan
ketidakpuasannya atas pergantian caleg-caleg jadi yang putra daerah. Selain
dialami NTT, hal itu juga dialami warga PDI-P Sulsel, Lampung, Sumatera
Utara, dan DKI Jakarta yang diwakili warga simpatisan PDI-P Jakarta Timur.
Pada umumnya mereka meminta caleg jadi putra daerah untuk tetap tidak
diganti dengan caleg titipan DPP.

Dari Lampung, seperti yang dikatakan juru bicaranya Subadrayana, caleg jadi
putra daerah Kabupaten Lampung Timur tiba-tiba hilang diganti dengan nama
dropping dari pusat. Caleg putra daerah yang dimaksud, ucapnya, bernama
Shahibun Nursalim. Tidak hanya soal itu, dari enam caleg jadi, hanya satu
orang yang benar-benar putra daerah.

''Lainnya titipan DPP PDI-P,'' tandas Subadrayana. Untuk itu, tegasnya,
keputusan penggantian itu harus dianulir dan dibatalkan.

Sedangkan puluhan warga yang mengaku simpatsisan PDI-P Jakarta Timur dengan
dipimpin Ichwan Anwar, mendatangi kantor DPP PDI-P sehubungan dengan
gagalnya kader PDI-P menjadi ketua DPRD DKI. Menurut Ichwan, gagalnya kader
PDI-P menjadi ketua DPRD DKI dikarenakan adanya konspirasi politik yang
dilakukan Roy B Janis dan Maringan Pangaribuan. ''Kami menuntut agar kedua
orang itu dibatalkan pencalonannya, baik di DPR maupun di DPRD,'' teriak
Iachwan.

Roy B Janis memang lolos menjadi anggota DPR RI periode mendatang, sedangkan
Maringan Pangaribuan jadi caleg DPRD DKI.

Kekecewaan juga tidak dapat disembunyikan simpatisan dari Sulsel. Kasus yang
mereka alami, menurut juru bicaranya, Cornelis, juga sama seperti yang
dialami daerah-daerah lainnya

Kirim email ke