Akhirnya Australia secara politis sudah kalah. Si Howard yang memang waktu kecil benar-benar coward setelah tuapun masih coward. Hari ini SMH menurunkan berita "PM firm: we follow no-one, By PETER COLE-ADAMS, MARK RILEY and BERNARD LAGAN". Di sini Si Coward menyangkal ucapannya bahwa Australia ingin menjadi deputy dari sheriff dunia AS, dan menimpakan kesalahan kepada reporter yg meng-interview-nya. Di bawah ini cuplikannya: ----------------------- The Prime Minister, Mr Howard, yesterday sought to bury the idea that Australia should play the role of understudy to the United States in ensuring South-East Asian security. "I make it clear that the Government does not see Australia as playing the role of a deputy for the United States, or indeed any other country in the region," he told Federal Parliament. "Neither does the Government see the United States itself playing a role as a regional policeman, although continued American involvement in the region is vital to our security." He said the reference to a "deputy" role, which has been heavily criticised by regional governments, had been made not by him but by an interviewer. "I want to make it clear, therefore, that it does not accurately reflect my position," he said. Given the breakdown of security in East Timor with "the most appalling violence", his view had been that the region could not wait for the United States to take the lead. "It was a regional problem, but the region itself should take the lead in managing," he said. ----------------------------- Baru kali ini SMH menyampaikan 4 artikel yg menyodok Si Coward, setelah berhari-hari menyembunyikan sodokan para politisi dan akademisi Australia sendiri kepada Howard, eh, Coward. Dalam artikel "No retreat, but the 'Howard doctrine' needs doctoring" oleh MICHELLE GRATTAN", disampaikan berbagai inkonsistensi Coward dalam melaksanakan program megalomanianya (dengan modal 4 juta orang layak tempur, dibandingkan 65 juta Indonesia layak tempur). Statemen yg saling bertabrakan disampaikan hanya dalam hitungan hari. Masih mending politisi Indonesia yg mengambil waktu untuk ngeles lebih lama dari si Coward ini. Hari ini pula SMH menurunkan artikel yg memuat pernyataan dari pejabat Indonesia (setelah berminggu SMH memotong statemen pejabat Indonesia untuk sekedar digunduli saja). Ucapan-ucapan Dubes S. Wiryono yg sudah mengakhiri tugasnya beberapa hari yg lalu baru sekarang ini di-appreciate oleh PETER COLE-ADAMS sebagai foreign affairs correspondent. [Terus terang saya heran dengan munculnya artikel dari beberapa foreign affairs correspondents yang begitu mendadak hari ini. Kemarin-kemarin pada ke mana ya? Kok kemarin cuma wartawan provokator doang]. Lalu apakah RI perlu memperbaiki hubungan dengan Aussie yg dari dulu kurang ajar ini? Sebagai tetangga sih boleh-boleh saja. Tetapi dengan mengingat kelakuan Aussie yg menyodok Indonesia yg sedang ditimpa kemalangan ekonomi ini, maka hubungan 'Say Hi' sudah lebih dari memadai. Bukan tidak mungkin di kemudian hari Aussie akan main tusuk dari belakang lagi. Bagaimanapun juga, walaupun sering ribut bila ada acara olahraga, berhubungan dengan sesama asia jauh lebih menyenangkan. Untuk itu, hubungan ekonomi perlu diarahkan kembali ke negara-negara di utara kita yg lebih bersahabat. Sangat tidak nyaman bersahabat dengan bangsa yg merasa diri lebih hebat dan terhormat berdasarkan kulitnya yg putih ini. Biarkan Australia dan NZ dalam kesendirian di selatan sana. Silakan mereka membangun hubungan dagang dengan rekan-rekan sesama putih yg terhormat di Eropa dan Amerika Utara sana. Toh ada internet ya? Nggak perlu tetangga miskin beranak banyak seperti RI ini....;) Sedangkan untuk RI sendiri, ibarat rumah, bangunlah rumah menghadap ke utara, dan halaman belakang perlu dibangun tembok yg tinggi. Ingat saja, anggaran belanja AB mereka tak kurang dari $6.9 billion (1.9% GDP versi data Factbook CIA atau 1.8% GDP versi Sidney Morning Herald, bukan 1.8% GNP yg saya sebut sebelumnya), sangat banyak dibandingkan $0.9 billion (1% GDP, versi Factbook CIA) dari Indonesia. Banyak hal yg dapat mereka lakukan dengan uang sebanyak itu, misal dengan membiayai separatis RMS atau OPM. Jangan banyak berharap dari tetangga yg tidak pernah secara tulus bersahabat lah......;) Sudah cukup penghinaan-penghinaan yg RI terima. +Jeffrey Anjasmara ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
