Halo Mas Jupri (maaf, saya nih orang Jawa yang nggak bisa basa Inggris), Kalau Anda mau melakukan wawancara imajiner kayak itu adalah hak Anda. Anda adalah bukan yang pertama. Anda juga bisa menulis surat resmi (bukan surat kaleng) kepada gereja untuk mengkritik habis gereja. Gereja akan menerima segala kritik Anda dengan tangan terbuka tanpa harus menaruh dendam seperti dengan membakar rumah Anda. Menyoal fasis memang dari sisi lain hal-hal yang Anda sebutkan juga bisa disebut fasis. George Washington? Saya kok nggak melihat itu. Malah ia memberi contoh yang baik kepada militer agar tak tamak untuk berkuasa. Brawijaya? Yang jelas Prabu Brawijaya alias Eyang Troy itu salah satu anggota milis ini. Terus terang saya lupa siapa Prabu Brawijaya yang Anda maksudkan. Yang beken zaman itu yang saya ingat Kertanegara, RW, Hayam Wuruk/Gadjah Mada, dan tentu yang paling beken adalah Arya Kamandanu :-) dengan pedang nagapuspa-nya. Saya kok nggak pernah berpikir kalau RI itu cikal-bakalnya adalah Sriwijaya-Majapahit. Setahu saya RI itu ya bekas India-Belanda (karena ada India-Inggris). Mengingat kebesaran masa lampu membuktikan bahwa kita terlena dan mabuk. Bukti terakhir saat SEAG lalu di Brunei. Memang sedikit banyak pola kehidupan kita ada kemiripan dengan Sriwijaya-Majapahit. Setidaknya cara menguasai Indonesia. Wassalam, Efron -----Original Message----- From: Jeffrey Anjasmara [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Wednesday, 29 September, 1999 21:46 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: Christianto Wibisono sang rasist >From: "Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)" <[EMAIL PROTECTED]> >Mas Jupri, >Adalah hak orang Kristen (termasuk CW) menggunakan/mencatut nama >malaikat >Jibril. Kalaupun ada kesamaan nama dengan agama orang lain >mengapa mesti >pusing. Toh Tuhan-nya juga sama (kalo soal yang ini >saya mau berdiskusi >dengan Anda secara terpisah dari subjek di atas. Akan saya buktikan kalo >Tuhan itu satu dan sama). Okay, sebelum kita terjebak diskusi agama di milis ini mending saya berhenti. Tapi next time saya akan meniru gaya CW dengan melakukan wawancara imajiner dengan Yesus. Toh subjeknya sendiri diakui di ajaran Islam kan? Let's see bagaimana reaksi orang-orang. >Gaya menulis orang berbeda-beda. Jadi jangan salahkan CW kalau >menulis >seperti itu. Kalau bosan...yach jangan dibaca. Gampang 'kan? CW >menganalogikan irama kehidupan sekarang dengan masa lampau bagi saya masih >paut (relevant). Bagi banyak orang Raden Wijaya (RW) dkk adalah pahlawan. >Namun dari satu sisi mereka (RW dkk) adalah fasis yang ingin menguasai >daerah orang lain. Apakah ini salah? Bergantung pada cara pandang orang >seperti halnya Timtim. Okay.... tapi ingat...kebebasan cara memandang bukan berarti menohok cara pandang umum. Bila para pemersatu wilayah disebut fasis, lalu bagaimana sejarah dunia ini mau dipelajari? Bagaimana Alexander The Great, bagaimana George Washington? bagaimana dengan kaisar-kaisar yg mampu menyatukan Jepang yg sebelumnya wilayah yg berdiri sendiri-sendiri? Bagaimana dengan Inggris, Perancis, dlsb yang menyebarkan kekuasaan ke seluruh dunia? Apakah mereka fasis? Hmmm, sungguh aneh kalau Inggris, perancis, portugis tidak dibilang fasis, sementara orang seperti R. Wijaya adalah fasis. Bagaimana pula dengan AS yg menanamkan pengaruh ke seluruh dunia? Bener-bener paham keblinger nih.... >Anda juga keliru kalau nama RW/Majapahit dijadikan nama Kodam atau >universitas. Saya kok belum mendengar info ini. Kalau Gadjah >Mada memang iya tempat saya ngangsu kawruh. Mas-mas.... Kodam Brawijaya sama universitas Brawijaya diambil dari mana? Masak nama Kodam diambil dari nama raja-raja terakhir Majapahit yg nggak beken? Memang buku sejarah kita menyatakan bahwa nama tersebut merupakan raja terakhir. Sebetulnya diambil dari kata bra-wijaya. Wijaya merefer ke pendiri kerajaan Majapahit ini, sedangkan 'bra' berarti agung. Semoga menjadi jelas. >Lagi pula sejak kapan RW mengukir kejayaan Indonesia? Lha wong istilah >"Indonesia" saat itu belum terdengar je. Hehehe.... jangan suka memungkiri bahwa keberadaan RI juga diinspirasi oleh keberadaan kerajaan-kerajaan masa lalu sejak Sriwijaya, Mataram, Majapahit dlsb. Bendera Merah Putih juga diinspirasikan oleh bendera (panji-panji) kerajaan-kerajaan itu. Memang Majapahit bukan satu-satunya kerajaan yg mempunyai bendera merah-putih (gula kelapa), masih ada beberapa kerajaan besar di Indonesia yg punya bendera semacam. Tapi jangan dipungkiri bahwa arti merah=berani, dan putih=suci diambil dari kerajaan-kerajaan itu. Ingat mas, bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya sendiri. Bukan memburuk-burukan seperti CW itu. Asal tahu saja, Thailand juga ikut mengklaim bahwa Sriwijaya sebetulnya berada di wilayah mereka, bukan di Sumsel. >Juga, kapan saya menentang orang yang menyoal pribadi MSP? Kalau saya >lupa >tolong berikan arsipnya. Ah.... gitu ya? Yah, sudahlah saya ngalah. Ngapain saya simpen. Bisa bengkak harddisk saya. >-----Original Message----- >From: Jeffrey Anjasmara [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] >Sent: Wednesday, 29 September, 1999 8:52 AM >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: Christianto Wibisono sang rasist > >Lho mas, kalau umat Kristen mau mengadili para pendeta sih masa bodo amat. >Lagipula siapa yang ngomongin pendeta? Masak malaikat disamakan dengan >pendeta....;) > >Kalau Umat Kristen mau mencatut nama seorang malaikat ya silakan asal >dilakukan di dalam gereja. Itu kalau malaikatnya kebetulan sama dengan >malaikat dari umat yang lain. Kalau punya malaikat sendiri lalu dicatut >sendiri sih silakan saja. Yang lain sih bakalan cuek bebek dong. Jadi >pembelaan anda nggak ada sangkut pautnya dengan statemen saya bahwa CW >nggak >peka dengan umat lain. > >Coba, kenapa mesti wawancara imajinernya dengan malaikat jibril yang >mendapat tempat khusus di dalam ajaran lain? Kenapa nggak bikin wawancara >dengan Yesus saja? Atau dengan Nabi Samuel? Habis ini mau bikin wawancara >imajiner dengan siapa lagi? Mau dengan Muhammad SAW? Dengan Budha Gautama? > >CW nggak bisa melakukan hal ini di depan publik! Biarpun koran SP membawa >bendera kristenpun, bila dijual ke publik harus dipertanyakan apa >tujuannya. >Kecuali bisa juga diberi label, tidak ditujukan untuk umat X, dilanjutkan >dengan keterangan blah-blah... Nilai-nilai yang ditanamkan berbeda. Mungkin >parodi di tempat lain aman-aman saja, tapi tentunya jangan disama-ratakan >untuk memparodikan milik yg lain dong (bilapun milik bersama). > >Saya sih tidak anti CW, nyatanya saya juga baca. Cuman bosan saja dengan >istilah Ken Arokisme dan Brutusisme. Ken Arok adalah pendiri Kerajaan >Singasari yang megah. Masa lalunya yg buruk mungkin dapat diterima deh. >Tidak demikian dengan R. Wijaya. Dia adalah pendiri kerajaan Majapahit yg >jauh lebih berjaya daripada RI. Namanya sampai sekarang dinobatkan menjadi >nama Kodam, universitas, dll. Masak tokoh sejarah yg mengukir kejayaan >Indonesia di masa lampau ini dihujat-hujat? > >Dalam artikel terakhir CW memberi contoh bagaimana strategi R. Wijaya yg >menggunakan tangan tentara Kubelei Khan untuk mengalahkan musuh sebagai >tindak pengkianat. Kita tidak dapat men-judge bahwa hal ini adalah trade >mark pribumi (silakan baca lagi di bagian terakhir artikelnya). Itulah >politik. Baik dan buruknya jangan disangkut- pautkan dengan kelompok >tertentu. Itu sih belum apa-apa bila dibandingkan teori perangnya SUn Tzu >mas. Kalau R. Wijaya dibilang pengkianat, lalu SUn Tzu tuhannya pengkianat? >Kan tidak tho? > >Yang saya kritik tak kalah kerasnya adalah pernyataan CW bahwa maraknya >demo >anti Australia adalah sisa akibat doktrin Suharto. Lho, orang para pendemo >hanya merespon apa yg dilakukan oleh orang Australia kok yg dikritik malah >mereka. Sekali lagi saya tanya siapa yg memulai bakar-bakaran bendera, >siapa >yg memboikot dagang, siapa yg merusak gedung konsulat duluan, siapa yg >tidak >mampu menjaga keamanan KBRI sehingga mesti tutup? Kok pendemo dalam negeri >lagi yg disalahi. Lagi pula apa urusannya dengan Suharto? Orang Indonesia >sudah dari sononya nggak suka sama 'londo'. Begitu mereka pecicilan >melakukan 'jingoism' lagi jelas secara natural orang akan naik darah dong. >Kok chauvinis. Baru segitu dibilang chauvinis. Artinya yg ngomong yg nggak >punya rasa kebangsaan. Nah, berhubung katanya menghargai perbedaan >pendapat, >hormatilah yg mendemo itu. Masak disangkutkan sama Suharto. Orang pada >jijay >lagi....;) > >Semua hal di atas tentu saja bukan penilaian akhir atas CW. Mungkin saja CW >introspeksi diri, dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan ini. Bila memang >CW mampu memperbaiki statemenya, tentu saja saya akan berubah pikiran lagi, >dan mengubah pandangan bahwa CW adalah rasist. > >Tambahan: >Nah, sekarang anda ikut-ikutan bilang Amien machiavelis. Kemarin ada yg >bilang anda tidak senang karena ada masalah pribadi. Padahal waktu seorang >peserta milis melakukan hal senada kepada Megawati anda juga ikut protes. >Katanya jangan bawa urusan pribadi...Bagaimana tho mas....;) > >Berhubung anda yg memulai men-cc, saya juga men-cc ke CW deh. > > >+anjas > >------------------------- > >From: "Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)" <[EMAIL PROTECTED]> > >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]> > >To: [EMAIL PROTECTED] > >Subject: Re: Christianto Wibisono sang rasist > >Date: Wed, 29 Sep 1999 07:29:47 +0700 > > > >Ha...ha...ha....kasihan Mas Jupri ini. > > > >Jemaat Kristen diperkenankan "mengadili" pendetanya bahkan memecat sang > >pendeta kalo si pendeta memang geblek. Orang juga bebas mengkritik dan > >membuat parodi soal gereja. Anda bisa lihat dalam Mr. Bean misalnya, yang > >ia > >dengan lugunya mengacaukan gereja untuk dibikin lelucon. Coba kalau itu > >terjadi pada agama lain? > > > >Kalau Anda rajin mengikuti "Analisis" (sebenarnya tak tepat disebut >dengan > >analisis) CW setiap Selasa di SP, Anda akan tahu gaya tulisan CW. Saya > >termasuk penggemarnya. Tidak itu saja, saya juga memberikan kritikan > >terhadap tulisannya langsung kepadanya. Bahkan posting inipun saya >bcc-kan > >kepada CW. Bagi saya CW masih tetap konsisten dengan keintelektualannya, > >walau dulu pernah saya kecam habis-habisan saat CW bergabung dengan Amien > >"Machiavelis" Rais dalam PAN. > > > >Wassalam, > >Efron > > > >-----Original Message----- > >From: Jeffrey Anjasmara [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > >Sent: Tuesday, 28 September, 1999 19:56 PM > >To: [EMAIL PROTECTED] > >Subject: Christianto Wibisono sang rasist > > > >Dalam artikel terbaru di Suara Pembaruan Christianto Wibisono >menghembuskan > >lagi nafas SARA, justru dengan dasar anti SARA. > > > >CW yang sejak awal saya curigai kebangsaannya menyatakan bahwa terjadi > >gelombang nasionalisme chauvinis picik di Indonesia dengan saling bakar > >bendera antara Indonesia dan Australia. Si 'Picek' Christianto Wibisono > >hanya menuding orang Indonesia saja tanpa melihat bahwa hal ini merupakan > >respon warga Indonesia yg masih punya rasa kebangsaan terhadap pembakaran > >bendera Merah Putih di Australia. CW telah berat sebelah dalam menuding > >aksi > >bakar membakar ini. > > > >Dalam satu bagian yaitu : > > > > Sekarang setelah Soeharto lengser dan Habibie ingin memerdekakan, > > malah timbul gelombang nasionalisme Kumbokarno, chauvinisme model > > Hitler yang tidak berperikemanusiaan untuk tetap ingin menjajah > > Timtim. Ini adalah penyakit kriminal dan fasis yang dipelihara > > rezim KKN Soeharto, yang telanjur jadi kanker genetik, penyakit > > turunan. Rasialis baik terhadap Cina, bule, maupun keturunan hitam > > Melanesia. Oknum-oknum penguasa arogan di Jakarta sudah terlalu > > sering mengeksploitasi soal etnis dan SARA untuk melestarikan > > kekuasaan biadab mereka secara keji. > > > >menunjukkan bahwa CW selalu aktif meniupkan masalah SARA untuk segala >macam > >permasalahan dengan tujuan-tujuan tertentu. Sungguh mengherankan bila >kita > >berbicara tentang Timtim tiba-tiba berbelok ke masalah SARA. Rupanya > >kapabilitas CW sebagai penulis benar-benar tersumbat sebagaimana yang dia > >klaim sendiri. > > > >Sebagai penganut agama Non-Islam si Christianto Wibisono juga tidak > >sensitif > >dengan para penganut Islam di Indonesia. Malaikat Jibril, sebagaimana > >malaikat yg lain di dalam Islam tidak boleh dimain-mainkan hanya untuk > >sekedar mencari sesuap nasi dari gaji sebagai kolumnis. Kedurhakaan CW > >melebihi si Arswendo Atmowiloto yg berani-beraninya mendudukkan Nabi > >Muhammad SAW dengan Suharto, Ainstein, dlsb. > > > >Dalam bagian: > > Jadi setan itu memang bisa gentayangan. Jadi setan seperti busa > > napas Dasamuka menurut legenda wayang bisa masuk ke orang siapa > > saja di seluruh muka bumi. Dasamuka bisa muncul di tubuh Li Peng > > waktu memerintahkan tank menggilas mahasiswa di Tiananmen, > > juga bisa muncul di EGP menyedot duit Bank Bali, lalu di kalangan > > pribumi penuh dengan praktik KKN dan Hitler, Nero, Pol Pot, saling > > tikam, saling fitnah, saling jegal, saling bunuh seperti Ken Arok. > > > >CW telah keluar dari garis batas dalam membakari sentimen SARA, dan > >menunjuk > >langsung kelompok pribumi yang mempunyai sifat Hitler, Nero, Polpot, dan > >lain-lain. Sungguh memalukan orang yg selalu menyuarakan anti SARA >akhirnya > >termakan sendiri untuk melakukan tindakan-tindakan rasist. > > > >http://www.suarapembaruan.com/News/1999/09/280999/index.html > > > >______________________________________________________ > >Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com > >______________________________________________________ >Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
Re: Christianto Wibisono sang rasist
Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) Wed, 29 Sep 1999 16:47:09 -0700
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Jeffrey Anjasmara
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Jeffrey Anjasmara
- Re: Christianto Wibisono sang rasi... Sri T Arundhati
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Irwan Ariston Napitupulu
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Jeffrey Anjasmara
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Faransyah Jaya
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)
- Re: Christianto Wibisono sang rasi... Sri T Arundhati
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)
- Re: Christianto Wibisono sang rasist Jan P. Anggirta
