Apa sih sebenarnya pengertian dari Money Politics itu ? Terus terang saya bingung batasannya. Misal saya punya uang sendiri pribadi, saya pakai untuk kepentingan diri sendiri (yang oleh orang lain dianggap merugikan kepentingan orang lain), kemudian saya dituduh "main kotor". Koq kaya'nya nggak ada logikanya. :-( Karena kelihatannya, kalau mulai ada yang merasa "kalah" mulai dech ditiupkan isu dan jargon "money politics", "dagang sapi" dll Funny ya :-) Soe ========================================================================= Waspadai Politik Uang dan "Dagang Sapi" Jakarta, Kompas Meskipun Sidang Umum MPR (SU MPR) 1999 sudah jauh lebih demokratis dibandingkan SU-SU sebelumnya, namun rakyat tidak boleh melepaskan pengawasannya terhadap pelaksanaan SU MPR. Faktor paling krusial yang perlu diawasi adalah kemungkinan terjadinya politik uang (money politics) dan politik "dagang sapi" (konspirasi untuk jual-beli jabatan). Demikian pemikiran pengamat politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr Barita Efendi Siregar, peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Tommy A Legowo, dan pakar ilmu pemerintahan Unpad Dr Rusadi Kantaprawira, yang dihubungi secara terpisah, Senin (4/10). Mereka dimintai tanggapan mengenai evaluasi pelaksanaan SU MPR yang telah berhasil memilih Pimpinan MPR. Baik Siregar, Legowo maupun Rusadi menilai pelaksanaan SU MPR sudah sangat mencerminkan suasana demokratis, sehingga muncul optimisme bahwa pemerintahan yang terbentuk nantinya benar-benar legitimate, bersih, dan berwibawa. "Itu terbukti dengan terpilihnya Amien Rais sebagai Ketua MPR secara langsung dan terbuka. Apalagi tokoh yang terpilih adalah sosok reformis, jauh sebelum Soeharto lengser," ujar Rusadi. Namun, kata Siregar, demi terbentuknya pemerintahan yang reformis sejati, masyarakat harus terus melakukan kontrol terhadap pelaksanaan SU MPR. Bukan cuma praktik politik bagi-bagi uang (money politics) yang perlu diwaspadai. "Taktik "dagang sapi" para petualang politik pun bisa merusak tatanan reformasi yang sudah mulai menemukan relnya," ujar Siregar. Konspirasi "dagang sapi" yang dimaksudkan Siregar adalah terjadinya kesepakatan-kesepakatan di kalangan petualang politik untuk memperoleh jabatan tertentu, jika mitra lobinya kelak mencapai posisi dalam jabatan tertentu. Bahkan bukan tidak mungkin konspirasi mengarah pada aspek bagi-bagi jabatan di kabinet, jika elite tertentu terpilih jadi presiden. Hal senada dilontarkan Legowo. "Secara umum, pelaksanaan SU MPR sudah sesuai harapan. Persidangan dilakukan relatif demokratis. Dari segi materi terbuka untuk dinilai oleh masyarakat pula. Tetapi harus diingat, apa yang terjadi saat ini di gedung MPR/DPR baru merupakan tahap awal. Ada tahap berikutnya yang perlu dikontrol masyarakat, yakni kemungkinan terjadinya money politics maupun 'politik dagang sapi'. Ini harus tetap diawasi masyarakat," ujarnya. Legowo mengingatkan, praktik money politics masih mungkin akan terjadi di MPR/DPR, terutama ketika pemilihan presiden. "Kalau tidak diawasi, ini akan mencemari SU, dan membuat hasil SU MPR berlawanan dengan tuntutan masyarakat. Karena itu, proses SU MPR harus terbuka," tegasnya. Masih belajar demokrasi Baik Siregar, Legowo maupun Rusadi mengatakan, dari segi teknis berdemokrasi, sebagian besar peserta SU MPR masih terlihat kebablasan dalam menggunakan hak interupsi. Siregar mencontohkan, banyak peserta SU MPR yang mengadakan interupsi tanpa didukung argumen dan logika yang kuat. "Mereka cenderung menginterupsi hal-hal teknis, sehingga alur agenda sidang jadi terhambat. Terlebih lagi dengan tidak tegasnya pimpinan sidang (pimpinan sementara MPR). Diharapkan, pimpinan sidang yang terpilih sekarang bisa memilah-milah mana interupsi yang perlu dilayani maupun yang tidak," kata Siregar. Legowo mengakui ada hal yang "lucu" selama pelaksanaan SU MPR, seperti terjadinya teriakan cemoohan dari anggota, dan keputusan tak berdiri saat Kepala Negara tiba atau meninggalkan ruang sidang. Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa Indonesia sedang berada dalam tahap permulaan mengembangkan budaya politik yang lebih etis. "Selain itu, kita sedang da-lam masa eforia politik yang kadang tidak dapat meninggalkan faktor emosional. Dalam proses transisi ini 'kan masih campur baur antara yang pro reformasi maupun yang membawa ciri status quo. Tetapi saya percaya masyarakat akan makin dewasa, sehingga demokrasi akan berkembang," kata Legowo. (nar/tra)
