Ini si Irwan ?

Ah yang bener, menembus Rp 5000, kenapa nggak sekalian ke Rp 2500 aja biar
wah gitu kelihatannya. Kan Rp 2500 ini obsesinya si Irwan.

Coba dech disertakan sekalian analisa keuangannya dan asumsinya, gue juga
bisa baca koq kalo cuma analisa keuangan aja... bukan tebak manggis kaya
gitu ditambah justifikasi politik segala.

Gue juga bisa kalo cuma kaya nulis dibawah.

Bisa aja akal-akalannya. Masih seperti yang dulu.

Argumen-argumen tentang PDI P dan Megawati nya masih kaya' dulu aja.
Memanfaatkan dan pembuatan opini menyesatkan, yang dia pikir orang lain itu
bodoh

................"Bila ternyata benar Megawati terpilih menjadi presiden
tanpa melalui voting untuk menghargai pilihan rakyat " ........... Woooiii
rakyat nyang elu maksud rakyat yang mana ?????

Kirain S2 bisa membuat orang lebih menghargai intelektualitas dan nilai -
nilai universal ilmu pengetahuan, ini malah berusaha membodohi orang. Atau
memang itu tujuan utama nya.

Soe

========================================================================

Analis Saham, Irwan Ariston Napitupulu:
Mega Tanpa Voting, Dollar Rp 5.000
Reporter: Irna Gustia W

detikcom, Jakarta- Bila ternyata benar Megawati terpilih menjadi presiden
tanpa melalui voting untuk menghargai pilihan rakyat, maka diperkirakan
rupiah akan mencoba menembus Rp 5.000 per dollar. Reaksi invetor positif.
Indeks BEJ akan mencoba terbang ke level 800.

Perkiraan itu dilontarkan oleh analis saham lulusan Fakultas Ekonomui UI
1987, Irwan Ariston Napitupulu. Irwan kini mengambil program S2 di
Cleveland, Ohio, AS. Irwan juga mengasus milis tentang saham dan valas:
[EMAIL PROTECTED] dan [EMAIL PROTECTED]

Kepada detikcom Kamis (7/10/1999), Irwan lebih lanjut memperkirakan, posisi
IHSG dan rupiah menurut perkiraannya itu, akan terjadi pada sekitar 4-8
minggu setelah Megawati secara aklamasi dipilih untuk menghargai pilihan
rakyat pada pemilu Juni yg lalu.

Bagaimana perkiraan pergerakan rupiah menjelang tanggal 20 Oktober nanti?
"Untuk rupiah, saya perkirakan akan memasuki range Rp 6.000-7.500 per
dollar,"kata Irwan. Namun posisi itu akan sangat tergantung seberapa kuat
pasar memperkirakan Megawati yang nantinya akan terpilih.

"Bila semakin kuat sinyalnya, maka tampaknya rupiah besar kemungkinan akan
berada di Rp 6.000-6.800 per dollar. Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHS) akan berkisar di level 640-700,"kata Irwan.

Pasar, menurut Irwan, telah melihat sinyal Megawati akan terpilih sebagai
presiden. Hal itu tercermin melalui manuver-manuver politik yang terjadi
pada pemilihan ketua MPR dan DPR.

Seperti telah diketahui, Amien Rais terpilih sebagai ketua MPR. Akbar
Tandjung terpilih sebagai ketua DPR. Bahwa kemudian Megawati diisyaratkan
lebih kuat kansnya ketimbang Gus Durs, menurut Irwan, sebab jika Gus Dur
yang naik, maka tidak akan ada yang berani mengontrol Gus Dur.

"Amien Rais dan Akbar Tandjung segan dengan Gus Dur,"kata Irwan. "Siapa sih
yg nggak segan dengan Gus Dur. Karenanya Gus Dur saya perkirakan akan lebih
pas pada posisi Bapak Bangsa atau posisi apapun asal di luar sistem agar dia
bisa mengontrol ketiganya dari luar,"kata Irwan.

Sementara untuk memilih Habibie, menurut Irwan, sama saja Indonesia
menceburkan diri ke jurang kehancuran. "Karenanya kemungkinan pilihan ini
saya abaikan mengingat anggota-anggota MPR saat ini lebih banyak yg
berpikiran sehat untuk tidak memilih kembali Habibie yg punya terlalu banyak
masalah baik di dalam negeri maupun di mata internasional,"tandas Irwan.

"Akan sulit mengundang investor asing dan lokal bila Habibie terpilih
kembali. Saya masih percaya anggota MPR kita tidak senekat itu memilih
Habibie,"tambah Irwan.

Itulah sebabnya, menurut Irwan, para investor dalam dan luar negeri
memperkirakan, kejadian pada pemilihan ketua DPR semakin memperjelas siapa
nantinya yang disepakati untuk menjadi presiden mendatang. Power sharing
tampaknya tidak bisa lagi dihindarkan.

Dan itu jelas akan memperoleh reaksi positif dari pasar. Menurut Irwan, para
investor melihat keuntungan buat Indonesia bila Megawati yg diangkat menjadi
presiden. Amien Rais akan dengan "senang hati" melakukan kontrol atas
pemerintahan Megawati. Begitu pula dengan Akbar Tandjung.

"Keduanya berada di luar kelompoknya Megawati sehingga kontrol dapat
berlangsung dengan ketat. Bila ini terjadi, maka tenanglah seluruh rakyat
Indonesia karena jalannya pemerintahan mendatang akan lebih banyak
menguntungkan untuk rakyat Indonesia.

Kirim email ke