>Irwan:
>Pernahkah anda bertanya apakah
>pemilih PAN dulu setuju kalau para wakilnya memilih capres
>yg bukan Amien Rais seperti yg dulu dijanjikan waktu kampanye?
>Pernahkah anda berpikir apakah pemilih PPP pada pemilu
>kemarin setuju kalau para wakilnya memilih presiden selain
>Hamzah Haz, capresnya PPP yg di sosialisasikan waktu
>kampanye pemilu kemarin?
>Apakah menurut anda pemilih2 Golkar akan rela para wakilnya
>memilih capres yg bukan Habibie seperti yg dikampanyekan
>pemilu lalu?
>Dan terakhir, apakah anda pikir pemilih2 PDIP juga akan
>merasa diwakili bila para wakilnya nanti memilih capres yg
>bukan Megawati seperti kesepakan kongres dan juga sering
>disosialisasikan selama kampanye pemilu lalu.
>

Kalau anda cermati lagi suasana pemilu yang lalu, disana anda dapat
menemukan bahwa rakyat yang memilih partai (khususnya yang berasaskan Islam)
tidak terlalu memperdulikan siapa capres yang diusulkan oleh partai tsb.
Yang rakyat inginkan waktu itu adalah bahwa caleg-caleg yang terpilih nanti
bisa memperjuangkan aspirasi mereka.  Masalah capres adalah janji partai
yang merupakan prioritas jauh dibawah.  Anda perhatikan juga pada saat
kampanye yang lalu, tidak ada massa dari partai-partai yang berasaskan Islam
membawa poster atau gambar dari capresnya.  Anda jangan menyamakan massa
partai-partai yang berasas Islam dengan massa PDI-P.  Mungkin saja massa
PDI-P sangat ngebet sekali supaya Megawati menjadi presiden (terlihat dari
poster-poster Mega yang mereka bawa), tapi massa partai-partai Islam sih
tidak peduli siapa yang jadi presiden, yang penting bagi mereka adalah
asalkan orangnya merupakan figur yang dapat memperjuangkan aspirasi umat.

>Bottom line, bila semua wakil konsisten untuk mewakili
>suara pemilihnya pada pemilu lalu soal presiden, maka
>para wakil itu tidak punya hak untuk merubah pilihan
>selain capres yg dijanjikan pada waktu kampanye lalu.
>Bila dirubah, bagi saya itu sudah berhianat tidak lagi
>bisa dibilan mewakili. Demokrasi perwakilan tidak sama
>dengan demokrasi kumpul2/arisan.


Lho, apa dasarnya anda bilang para wakil tidak mempunyai hak untuk merubah
pilihannya ?  Saya sudah bilang bahwa pemilu kemarin itu adalah memilih
wakil rakyat, dan wakil rakyat itulah yang akan memilih presiden.  Rakyat
itu sudah sepenuhnya mempercayakan aspirasinya kepada wakil rakyat.  Anda
tidak usah pusing lah memikirkan rakyat yang telah memilih PPP, PBB, PK, PAN
(poros tengah), bahwa mereka akan kecewa bila capres yang dulu dicalonkannya
tidak jadi tampil.  Rakyat sudah cukup realistis untuk mempercayakan
wakilnya dalam memilih presiden.
Saya tidak melihat ketidakkonsistenan disini.

>Jadi, mau sistem perwakilan keq mau sistem langsung keq,
>kalau dilakukan dengan konsisten maka hanya capres
>pemenang pemilu lah yg memang paling layak memimpin
>pemerintahan.
>

Mendingan sekarang begini saja, para wakil rakyat bertanding saja secara
fair di majelis/dewan untuk memilih presiden (debat dulu baru voting),
setelah itu kita tunggu siapa yang mendapat suara paling banyak.  Nah, kalau
sudah begitu, yang kalah harus mengakui yang menang, dan harus ikut
mendukungnya.
Itulah demokrasi yang sekarang terjadi di Indonesia.  Kalau belum siap, ya
tunggu 5 tahun lagi sembari mengamendemen UUD 45.

YMT

Kirim email ke