Sudah-sudah-sudah. Entar anda capek sendiri. Mending di-iya-in saja deh.
Mari kita dukung agar M. Irwan mengirimkan pemikirannya ini ke kompas.
Bagaimana?
>From: Yumartono <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Takut kalah ? (Attn:Re: Tahukah anda?)
>Date: Fri, 8 Oct 1999 14:50:42 +0700
>
> >Irwan:
> >Pernahkah anda bertanya apakah
> >pemilih PAN dulu setuju kalau para wakilnya memilih capres
> >yg bukan Amien Rais seperti yg dulu dijanjikan waktu kampanye?
> >Pernahkah anda berpikir apakah pemilih PPP pada pemilu
> >kemarin setuju kalau para wakilnya memilih presiden selain
> >Hamzah Haz, capresnya PPP yg di sosialisasikan waktu
> >kampanye pemilu kemarin?
> >Apakah menurut anda pemilih2 Golkar akan rela para wakilnya
> >memilih capres yg bukan Habibie seperti yg dikampanyekan
> >pemilu lalu?
> >Dan terakhir, apakah anda pikir pemilih2 PDIP juga akan
> >merasa diwakili bila para wakilnya nanti memilih capres yg
> >bukan Megawati seperti kesepakan kongres dan juga sering
> >disosialisasikan selama kampanye pemilu lalu.
> >
>
>Kalau anda cermati lagi suasana pemilu yang lalu, disana anda dapat
>menemukan bahwa rakyat yang memilih partai (khususnya yang berasaskan
>Islam)
>tidak terlalu memperdulikan siapa capres yang diusulkan oleh partai tsb.
>Yang rakyat inginkan waktu itu adalah bahwa caleg-caleg yang terpilih nanti
>bisa memperjuangkan aspirasi mereka. Masalah capres adalah janji partai
>yang merupakan prioritas jauh dibawah. Anda perhatikan juga pada saat
>kampanye yang lalu, tidak ada massa dari partai-partai yang berasaskan
>Islam
>membawa poster atau gambar dari capresnya. Anda jangan menyamakan massa
>partai-partai yang berasas Islam dengan massa PDI-P. Mungkin saja massa
>PDI-P sangat ngebet sekali supaya Megawati menjadi presiden (terlihat dari
>poster-poster Mega yang mereka bawa), tapi massa partai-partai Islam sih
>tidak peduli siapa yang jadi presiden, yang penting bagi mereka adalah
>asalkan orangnya merupakan figur yang dapat memperjuangkan aspirasi umat.
>
> >Bottom line, bila semua wakil konsisten untuk mewakili
> >suara pemilihnya pada pemilu lalu soal presiden, maka
> >para wakil itu tidak punya hak untuk merubah pilihan
> >selain capres yg dijanjikan pada waktu kampanye lalu.
> >Bila dirubah, bagi saya itu sudah berhianat tidak lagi
> >bisa dibilan mewakili. Demokrasi perwakilan tidak sama
> >dengan demokrasi kumpul2/arisan.
>
>
>Lho, apa dasarnya anda bilang para wakil tidak mempunyai hak untuk merubah
>pilihannya ? Saya sudah bilang bahwa pemilu kemarin itu adalah memilih
>wakil rakyat, dan wakil rakyat itulah yang akan memilih presiden. Rakyat
>itu sudah sepenuhnya mempercayakan aspirasinya kepada wakil rakyat. Anda
>tidak usah pusing lah memikirkan rakyat yang telah memilih PPP, PBB, PK,
>PAN
>(poros tengah), bahwa mereka akan kecewa bila capres yang dulu
>dicalonkannya
>tidak jadi tampil. Rakyat sudah cukup realistis untuk mempercayakan
>wakilnya dalam memilih presiden.
>Saya tidak melihat ketidakkonsistenan disini.
>
> >Jadi, mau sistem perwakilan keq mau sistem langsung keq,
> >kalau dilakukan dengan konsisten maka hanya capres
> >pemenang pemilu lah yg memang paling layak memimpin
> >pemerintahan.
> >
>
>Mendingan sekarang begini saja, para wakil rakyat bertanding saja secara
>fair di majelis/dewan untuk memilih presiden (debat dulu baru voting),
>setelah itu kita tunggu siapa yang mendapat suara paling banyak. Nah,
>kalau
>sudah begitu, yang kalah harus mengakui yang menang, dan harus ikut
>mendukungnya.
>Itulah demokrasi yang sekarang terjadi di Indonesia. Kalau belum siap, ya
>tunggu 5 tahun lagi sembari mengamendemen UUD 45.
>
>YMT
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com