Di bawah ini berita dari Waspada.

Sekarang saya tahu mengapa TNI selalu menutup-nutupi berita beginian. Ini
untuk menutupi kebodohan panglima-panglima TNI! Seharusnya mereka harus
sudah mendoktrin pasukan di perbatasan untuk selalu siaga bila menghadapi
pasukan yg selalu haus darah macam Aussie. Turunkan Wiranto!! Bila perlu
kasih long dress dan kutang si Tessie kepada Wiranto. Bukannya sibuk
mengatur barisan malah kepingin jadi wapres.

Upayakan penerangan ke masyarakat dong ah. Susun pasukan penjaga perbatasan
yg kuat dan siap tembak. Masak pos perbatasan dijaga cuman 10 orang. Apa
bukan jendral gemblung tuh.

Masak bikin public awareness saja nggak bisa. Kebanyakan pada jadi gubernur
sama malakin para penjudi jadinya sense sebagai serviceman pada nggak ada.
Huh.... geleuh. Wiranto...wiranto.... dodol kok kebangetan.

Jeffrey Anjasmara

'------------------------------
Interfet Serbu Pos Brimob:
Satu Tewas, Tiga Luka-luka

ATAMBUA (Waspada): Pasukan Interfet menyerbu Pos Perbatasan Timtim-NTT di
Desa Mota Ain Kecamatan Tasifeto Timur Minggu [10/10], yang mengakibatkan
satu anggota Brimob tewas dan tiga luka.

Korban yang tewas dalam serangan itu Prada Ari Sudibyo. Sedangkan tiga
korban luka masing-masing Sertu Sudarto, Sertu Agus Susanto dan seorang
warga sipil Alcino Barros, 43.

Ketiga anggota Brimob asal Jawa Timur yang mendapat tugas BKO [Bawah Kendali
Operasi] Polres Belu sedang berjaga di Pos Perbatasan Mota Ain-NTT.

Alcino yang warga asal Atabae Kabupaten Bobonaro pada saat serbua itu sedang
mengambil kayu untuk membuat rumah darurat di lokasi pengungsian di
perbatasan. Saksimata yang menyaksikan penyerangan Interfet di pos
perbatasan itu masing-masing Amandus Simajuntak, 50, dan Lukas Moruk, 80,
mengatakan, sekitar 120 personil pasukan Interfet berbadan tinggi-besar dan
berkulit putih memasuki wilayah NTT sekitar 200 meter dari batas alam aliran
sungai Mota Ain dan melakukan penyerangan terhadap pos tersebut.

Pasukan Interfet yang telah melewati jembatan Mota Ain dengan menggunakan
lima panser itu kemudian berhenti secara beriringan di sepanjang jalan
tersebut dan menurunkan pasukan.

Ketika panser-panser itu menurunkan pasukan, moncong senjatanya diarahkan ke
pos perbatasan di Mota Ain. Pasukan Interfet kemudian menyebar ke berbagai
tempat di sekitar pos tersebut hingga ke dekat pantai sambil terus melakukan
penembakan selama sekitar 15 menit [12.30 hingga 12.45 Wita] tanpa berhenti.

Tidak ada pembalasan dari petugas Brimob yang menjaga pos perbatasan Mota
Ain itu.

Sementara tenda milik aparat di perbatasan dan sejumlah rumah tembok
berlobang akibat tembakan pasukan Interfet.

Dandim Belu Letkol Inf Sigit Yuwono tiba di kawasan pos perbatasan Mota Ain
sekitar pukul 14:30 untuk mengumpulkan berbagai keterangan atas penyerangan
Interfet itu.

Pada sekitar pkl. 17:00 Wita Dandim Sigit bersama sejumlah pengawal
meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke Kota Atambua.

Hingga sekitar pkl. 20:35 Wita belum diperoleh keterangan dari Dandim Sigit
tentang peristiwa tersebut.

Sementara itu Pamapta Polres Belu Pelda Abas Ismael mengatakan, korban Prada
Ari yang meninggal akibat luka tembak pada dada saat ini disemayamkan di
Mapolres Belu, sementara Sertu Sudarto, Sertu
Agus dan Alcino dirawat di RSUD Atambua.

Masyarakat Mota Ain yang setiap hari menggelar dagangan di sekitar pos
tersebut dan sejumlah pengungsi Timtim lainnya berlarian menyelamatkan diri
dari serangan Interfet., sedangkan warga asli perbatasan dan
pengungsi menyelamatkan diri di kawasan pelabuhan Atapupu.

Pengakuan Interfet

Namun, seorang perwira Australia mengatakan, pasukan itu kemungkinan hanya
melukai dua milisi anti-kemerdekaan dalam insiden tersebut. Insiden itu
kemungkinan terjadi akibat kebingugan terhadap batas- batas sebenarnya
antara kedua belahan Timor.

Indonesia mengatakan serangan tersebut terjadi di Timor Barat, namun pihak
Australia bersikeras bahwa insiden tersebut terjadi di Timor Timur.

Tembak menembak tersebut --dan yang lainnya Sabtu sehingga menewaskan satu
milisi_ meningkatkan jumlah bentrokan menjadi tiga kali dalam empat hari
terakhir. Kini ada kecemasan di kalangan tentara      multinasional PBB itu
bahwa para milisi anti-kemerdekaan segera melancarkan kampanye gerilya dalam
usahanya untuk memecah Timor Timur.

Insiden Minggu itu terjadi ketika satu patroli pasukan Australia mencapai
satu desa Mota Ain, yang terletak di perbatasan antara kedua belahan Timor,
demikian menurut kalangan perwira dari kedua belah pihak.

"Bentrokan tersebut terjadi di belahan Timor Timur, di timur...Mato Ain kata
satu pernyataan yang disiarkan Kol. Mark Kelly, kepala staf pasukan
pemelihara perdamaian.

Menurut versi Interfet, patroli pasukan Australia membalas serangan, yang
kemungkinan mengenai dua anggota milisi, kata pernyataan tersebut.

Namun seorang perwira polisi Indonesia di Mota Ain mengatakan, seorang
anggota Brimob telah melepaskan tembakan peringatan untuk memberitahu
pasukan Australia itu --yang berada di dalam dua kendaraan angkut personil--
bahwa mereka sedang mendekati pos perbatasan yang berada di dalam wilayah
Indonesia.

Pasukan Australia itu melepaskan tembakan balasan, yang mengakibatkan
seorang polisi tewas dan tiga lainnya cedera, demikian menurut seorang
perwira Indonesia.

     Saksimata mengatakan kepada Associated Press mereka melihat mayat
prajurit yang tewas itu di rumahsakit
     dekat kota Atambua.

     Para wartawan yang menemani iring-iringan pasukan Australia mengatakan
pasukan Interfet itu dan para
     perwira Indonesia kemudian membandingkan peta.

     Dari film yang ditayangkan dalam pembicaraan antar perwira menunjukkan
seorang penerjemah mengatakan
     komandan tentara Indonesia Letkol Sidjid Yuwyno membenarkan bahwa
patroli pasukan asing itu telah
     berada 100 meter di dalam wilayah Indonesia. (ant/m18)

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke