"Kami memiliki peta yang sangat akurat, dan kami juga
mempergunakan
peralatan global positioning system. Kami tahu
masih berada beberapa meter di dalam (wilayah Timtim)," ungkap
Pete Costlygroveling.

-------

Tolong bereskan dikit GPS-nya. Lagian memangnya bisa
super bener? Orang pakai GPS di mobil saja bisa mendadak
harus lewat ladang, gunung, dan hutan buat sampai ke highway.
Padahal kalau baca peta nasibnya enggak perlu senaas begitu.

Lagian US saja bisa ngebom kedubes China di Beograd, padahal
sistem GPS US itu kalau lawan Australian..... Apalagi Australia
cuma 'wakil Sheriff'-nya US. Hebatnya: mengangkat diri sendiri lagi.
US sendiri saja sampai bengong kok mendadak
dia punya jabatan sheriff dan ini wakil Sheriff mendadak
datang dari antah berantah. Aneh, mau-maunya saja jadi
wakil sheriff. Belum tahu dihantam bom neutron ya oleh China....

China daratan saja yang punya bom nuklir enggak pernah
macam-macam sama Indonesia... malah berusaha membina
hubungan baik lagi. Mending Indonesia membina
hubungan tekhnologi dengan China, siapa tahu bisa dapat
bom nuklir juga. Dibanding Australia, cuma dapat domba.

Mendingan jangan hanya serbu Timtim, tapi blokade total
Australia juga sahabat setalinya si New Zealand. Jangan
sampai kapal-kapal lewat Indonesia buat ke Australia,
jangan ada kapal terbang yang transit di Indonesia.
Dibanding ngejarah toko-toko di Indonesia, mending suruh
jeger-jeger ngejarah kapal-kapal Australia. Sekalian mending
suruh Australia lewat Auckland dan Pago-pago
sana.... Pingin tahu berapa lama Howard the duck si
penjilat itu bisa bertahan.




----------------
Senin, 11 Oktober 1999, 21:11 WIB

Cosgrove: Kami tidak Bersalah

Jakarta, Kompas
Insiden di perbatasan Timor Timur (Timtim) hari Minggu lalu
yang
menewaskan seorang anggota Brimob memancing reaksi
keras dari pihak Indonesia. Akan tetapi, komandan Interfet,
Mayjen Peter Cosgrove secara tegas menyatakan pihaknya
tidak bersalah dan yakin bahwa tentaranya ada di wilayah
Timtim. Ia juga memprotes keras pimpinan tentara Indonesia.

"Kami memiliki
peta yang sangat akurat, dan kami juga
mempergunakan peralatan global
positioning system. Kami tahu
masih berada beberapa meter di dalam (wilayah Timtim)," ungkap
Cosgrove.

"Saya sudah menyampaikan protes keras saya pada pimpinan

militer Indonesia setempat atas tuduhan bahwa pasukan kami
masuk ke wilayah Nusa Tenggara Timur," ungkap Cosgrove,
dalam wawancaranya dengan televisi Australia, ABC di Dili.
Dia merasa yakin, anggota pasukannya "masih berada di
wilayah Timtim" ketika bentrok senjata terjadi.

Pernyataan Cosgrove itu
mengundang pertanyaan dan reaksi.
"Kita tidak akan tinggal diam," demikian kata Menlu Alatas
menjawab pertanyaan wartawan di Istana Merdeka, Jakarta,
Senin (11/10).

"Walaupun masih diselidiki apa sebenarnya yang terjadi, namun
patut sangat disesalkan hal ini bisa terjadi. Andaikata pun hal ini
terjadi karena accident, karena ada perbedaan dalam peta, itu pun
saya kira agak aneh. Sebab interfet yang dilengkapi dengan
perlengkapan yang konon begitu canggih, kok bisa membuat
kekeliruan semacam itu," jelas Alatas.

Sementara itu, PM Australia
berusaha meredakan ketegangan.
Ia meminta diadakan pembicaraan tingkat tinggi dengan Indonesia
mengenai
insiden di perbatasan tersebut.

Pakaian milisi
Menurut Mayjen Mark Kelly
-- pimpinan pasukan Interfet di
lapangan ketika kontak senjata terjadi --
kelompok yang mula-mula
menembak pada pasukan Australia dekat perbatasan di Mota Ain,
adalah orang-orang "yang mengenakan T-shirts (kaus) dan mengenakan
seragam ilisi," Namun ia juga tahu, kelompok itu dikawal oleh unit polisi
Indonesia serta TNI.

Dan ketika terjadi pembicaraan di Dili mengenai hal
itu antara Cosgrove
dan pimpinan pasukan Indonesia setempat hari Minggu, emikian Kelly,
mereka pun sependapat bahwa insiden itu "benar-benar erjadi di wilayah
Timtim,"

Sementara menurut Antara Minggu, diberitakan bahwa, Pasukan PBB
di Timor Timur (Interfet) melakukan penyerbuan terhadap Pos
Perbatasan
Timtim-NTT di desa Mota Ain Kecamatan Tasifeto Timur,
mengakibatkan satu
anggota Brimob Prada Ari Sudibyo gugur, dan tiga
lainnya Sertu Sudarto, Sertu Agus Susanto dan seorang sipil Alcino Barros,
luka-luka.

Menurut dua orang saksi mata Amandus Simanjuntak (50) dan Lukas
Moruk (80), demikian Antara, sekitar 120 personil pasukan Interfet yang
berbadan tinggi besar dan berkulit putih memasuki wilayah NTT sekitar
200 meter dari batas alam aliran Sungai Mota Ain, dan melakukan
penyerangan ke pos perbatasan Mota Ain.

Pasukan Interfet, masih menurut
Antara, kemudian menyebar ke berbagai
tempat sekitar pos tersebut hingga ke dekat pantai sambil erus melakukan
penembakan selama 15 menit (12.30 hingga 12.45 Wita) anpa berhenti.


Protes mengalir
Tak urung, insiden berdarah di perbatasan Timtim itu
mengundang berbagai
aksi maupun komentar protes di Jakarta. Luapan protes tidak hanya terungkap
melalui media televisi, akan tetapi Kompas sejak Minggu malam juga menerima
belasan telpon, dan beberapa faksimil yang menyatakan tak terima bila benar
pasukan Australia melakukan penyerbuan ke pos penjagaan Indonesia, serta
menewaskan salah satu anggota aparatnya.

"Protes tidak cukup. Kalau perlu,
serbu saja mereka," ungkap penelpon yang
mengaku pernah bertugas di Baucau Timtim tahun 1986-1988, bernama
Lalu.

Ketua Umum Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) Sri Bintang Pamungkas
menyerukan agar pemerintah Indonesia segera menyampaikan protes keras
kepada PBB, yang memprakarsai kedatangan interfet. Selain itu, pemerintah
perlu mempertimbangkan kehadiran interfet di Timur-Timor (Tim-tim) dan
meragukan kemampuan Peter Cosgrove dalam memimpin interfet.

"TNI jangan
hanya berani melawan sipil, dan atau bangsa
sendiri. Buktikan, TNI sebagai
alat bela negara," kata Sri Bintang Pamungkas
kepada wartawan, Senin (11/10) di Jakarta.

Menurut dia, pasukan interfet
harus dikecam keras, karena
memicu terjadinya baku-tembak di perbatasan
Tim-Tim dan Timur
Indonesia. Insiden itu, bisa menyulut perang baru di
Timtim, dan kali ini melibatkan
pasukan asing.

Kasus itu, tambah Sri Bintang, dapat dijadikan bahan kajian

lagi, bahwa TNI segera kembali ke fungsi profesionalisme mereka,
yaitu
pertahanan negara.

"Dwi fungsi TNI (ABRI) harus dicabut secepat-cepatnya.
TNI
harus mampu mempertahankan wilayah, melindungi rakyat, dan

menyelamatkan kekayaan alam,' demikian Sri Bintang.

Sedangkan Kepala
Pusat Penerangan Hankam/TNI Mayjen Sudrajat

 berkomentar, insiden di Mato Ain itu merupakan akibat dari sikap
berlebihan Interfet dalam menjalankan tugasnya. Sehubungan dengan itu,
menurut Sudrajat, Indonesia telah menyampaikan protes diplomatik ke
PBB dan Australia melalui jalur Departemen Luar Negeri.

Protes juga muncul
di Jawa Tengah. Ratusan Pemuda Panca Marga (PPM)
Jawa Tengah, Selasa (11/10) mendatangi Gedung DPRD Jateng dan
menggelar aksi mengutuk penyerangan pasukan Interfet, yang
menyebabkan seorang Brimob yang bertugas di perbatasan Timor-
Timur tewas.

Anggota PPM yang datang dengan menggunakan seragam PPM,
membawa spanduk dan poster melakukan orasi di halaman DPRD
Jateng. Mereka menuntut pemerintah Indonesia, segera menyikapi
tindakan pasukan Interfet tersebut.

Melalui surat pernyataan, PPM Jateng
mendesak para anggota MPR
yang sedang bersidang untuk tidak mudah melepaskan Timtim sebagai
propinsi ke-27. "Bila perlu adakan refendum bagi seluruh rakyat
Indonesia," tandas Djatmiko Waloejono Ketua Markas Daerah PPM Jateng.

Di pihak lain, Kedutaan Besar Australia juga menyatakan
protesnya atas
pemberitaan Antara yang dinilainya salah
merepresentasi secara
terus-menerus dalam pemberitaan sekitar
aktivitas serta kebijakan
Australia di Timtim. Termasuk di
antaranya, pemberitaan bahwa ada seorang
tentara Australia yang
mencuri uang serta kalung emas dari seorang warga
Timtim.

"Itu sama sekali tidak benar," demikian siaran pers Kedubes

Australia, yang dikirim melalui faksimil kepada Kompas, Senin
petang.
(AFP/Reuters/son/aji/smn/drm/osd/sha)

Kirim email ke