In a message dated 10/9/99 7:18:28 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Tapi serius yah... mambaca tulisan/reply dari anda, saya berkesimpulan bahwa
> point yang anda kasih ke saya, adalah:
> 1. Tidak ada jaminan... yah itu benar dan saya rasa itu berlaku untuk
> semuanya, tidak terbatas di kalangan "trader" saja. Tidak ada jaminan
karena
> yang bikin manusia juga. Kemampuan berpikir, menterjemahkan sesuatu dan
> kemampuan untuk mambikin "intelectual guess", relative dari kemampuan
> masing2
> orang. Di lain pihak, "Tidak ada jaminan" adalah kalimat paling mujarab
> untuk
> menyelamatkan muka, ego, menghindar dari tanggung jawab dan reaction orang
> lain terhadap perkataan orang tersebut. Jadi... sudah dapat dipastikan
anda,
> semua yang ada di milis rupiah dan saham anda, termasuk KKG tidak akan
> mungkin
> menggunakan kata2 "MENJAMIN", karena itu sesuatu yang mustahil, at least
> untuk
> orang2 Indonesia, karena ego dan gengsi mereka yang terlalu besar. Anyway
> kalau anda bisa "MENJAMIN", either anda beli rumah di Seattle, sebelahan
> sama
> Bill Gates, atau anda bunuh diri karena malu...:)))
> "Kalangan trader"...he..he...he...he..., jadi trader/analis, sama saja
> dengan
> pembawa weather di channel2 TV, chances 50-50, di tambah data/graph,dll
> mentok
> +10 atau 15%, kalau salah..."ooppps, sorry tidak menjamin seeehhhh".
Seperti
> joke pedagang kain orang Arab "Luntur tidak di jamin!!!" (Warkop waktu
masih
> lucu2nya..:)).
Irwan:
Tidak menjamin bukan berarti kansnya 50-50.
Weather forecast di AS itu tingkat kebenaran perkiraannya
bisa mencapai di atas 90%. Dari mana data ini didapat?
Ya dari data historis. Semakin sering dia membuat perkiraan
yg memang sesuai dengan apa yg diperkirakan sebelumnya
maka semakin dipercaya dia (stasiun tv atau pun sumbernya)
dalam membuat perkiraan cuaca.
Selain itu tampaknya ada kesalahan persepsi yg saya
rasakan dimana kalau yg namanya analisa/forecast dimata
(sebagian) orang Indonesia tampaknya diartikan sebagai
sebuah jaminan. Padahal perlu anda ketahui, tidak ada
satu pun analis masalah2 sosial khususnya masalah
pergerakan indeks dan kurs ini yg bisa menjamin 100%.
Apa yg saya lakukan hanyalah mengamati trend pasar
dan mengantisipasi reaksi pasar bila suatu kondisi dipenuhi.
Seberapa tepatkah analisa saya tersebut nantinya akan
terbukti?
Tidak bisa dikatakan sekarang karena kondisinya harus
dipenuhi terlebih dahulu. Bila kondisi terpenuhi dan ternyata
apa yg saya katakan tidak terjadi, maka analisa saya tersebut
bisa dibilang ngawur.
Seberapa sering analisa saya terhadap pergerakan indeks
dan kurs menjadi kenyataan? Silahkan simak sendiri posting2
saya di milis rupiah dan saham.
Kemampuan seorang analis dilihat dari prestasi masa lalunya.
Walau prestasi masa lalu tetap tidak menjamin hasil masa
mendatang. Kalau anda langganan The Wall Street Journal,
maka sering kali dalam suatu iklan investment selalu
dilampirkan kata2 bahwa prestasi masa lalu tidak menjamin
hasil yg akan didapat di masa mendatang.
Bahkan kalau anda perhatikan, IMF dan WB saja sering
melakukan revisi atas prediksi2nya.
> Point anda yang ke-2:
> Kepercayaan. hmmmm ini lebih menarik lagi, apalagi pemerintahan yang
> jujur...he...he...he... Pelajaran yang saya dapat (mungkin saya pesimis
> yah..:)), bahwa TIDAK ada satu pemerintahanpun di dunia ini yang jujur
> (mungkin waktu jaman nabi Sulaiman/ king Solomon), karena pemerintahan
> terbuat
> dari politik dan... politik itu kotor!. Clinton dipilih karena rakyat
> Amerika
> ingin dia tetap di WH??? you've got to be kidding me!!!. Hanya 1 alasan
> kenapa
> si "amoral prick" itu tetap di WH, karena dia telah nge-boost-up ekonomi
US.
Irwan:
Trus, kalau dia telah nge-boost-up ekonomi US, apa itu bukan
alasan rakyat AS mempertahankan dia? Soal kasus Monica vs Clinton
pada posting lalu khan hanya sebagai contoh bahwa walau rakyat
AS percaya Clinton bersalah, tapi kesalahannya tersebut (yg dianggap
masalah pribadi) tidak cukup kuat untuk membuat Clinton turun
dari WH. Rakyat AS masih tetap menginginkan dia duduk di WH
menyelesaikan masa baktinya sampai tahun 2002.
Dari polling2 yg dilakukan oleh stasiun2 TV skala nasional, jelas
rakyat AS berkehendak demikian. Para senator pun saya yakini
pada ditelponi oleh para pemilih daerahnya untuk menyampaikan
apa yg menjadi kehendak mereka sehingga kita bisa melihat
ada senator dari republik dan demokrat yg saling berseberangan.
> Mengerti rakyat Amerika benci dengan Sadam Hussein yang mereka anggap
> dictactor dan terrorist, Clinton bom Iraq. Nge-bom Iraq, membikin orang2
> "powerful"senang, karena mereka bisa kebagian tender, yang "in return" akan
> mengsupport dia dari belakang, ngeluarin uang buat ngelobby politian2,
> senators, dan other "influential people" di Washington. Seperti yang anda
> tahu, informasi adalah sarana paling penting di sini. Siapa yang bisa
> control
> media dia yang menang!!!.
Irwan:
Ini sudah pernah didiskusikan di milis ini. Saya tidak
ingin mengulang kembali.
> That's exactly what Clinton did, dan bukan karena
> rakyat Amerika... rakyatnya sendiri itu buta kalau engga' ada di berita,
iya
> engga' sih???
Terserah anda mau mengartikan apa polling yg dilakukan
tersebut. Silahkan pula lihat hasil pemungutan suara yg dilakukan
pada impeachment yg lalu.
Kalau anda mau menutup mata akan semua fakta ini
dan hanya menggunakan pengertian anda sendiri, sampai
kapan pun akan sulit ketemu pembahasannya.
> Amerika bisa maju karena menempatkan suara rakyat dalam posisi tertinggi?
> You've got to be blind!!!. Rakyat mana yang suaranya ditempatkan
tertinggi?.
> Eh bung, masih bagus kita mau ngakuin kemerdekaan Tim2. Emangnya mereka mau
> apa ngasih sebagian dari Montana, atau Oklahoma kalau tuh Indian2 minta
> tanahnya balik dan memproklamirkan kemerdekaannya? atau orang2 Mexico minta
> southern california di kebaliin ke mereka. Eh Irwan, orang Amerika itu
> hypocrite.
> Amerika hebat karena hukumnya yang sudah "matang". ITU cara mereka
> mengkontrol
> rakyatnya. Kemanapun kita gerak pasti ada hukumnya. Jadi jangan deh deh
> ngomongin soal Amerika dengan "menjunjung tinggi suara rakyat dan asas
> kemanuasiaannya", karena biar sudah merdeka ratusan tahun + perang saudara
> aja, mereka masih memperlakuan black and woman like S*** !!!, dan sampai
> sekarang nasib orang2 Indianpun terluntang-lantung.
Irwan:
Saya tidak dalam kapasitas bisa menjawab soal sejarah AS.
Hanya saja ada poin penting yg anda ucapkan di atas.
Sejauh mana menurut anda kematangan hukum perlu
untuk mengatur sebuah negara atau masyarakat.
Jangankan dalam masyarakat luas, lha di milis ini
kemauan orang tuh bisa banyak dan sering kali bertentangan.
Nah, apa bisa adminnya milis ini memenuhi permintaan semua
orang tanpa harus ada pihak yg merasa "dikorban"kan?
Contoh mudahnya saja, milis ini mau dijadikan tertutup hanya
untuk mahasiswa AS saja atau terbuka seperti sekarang.
Nah, khan ngga mungkin dua permintaan atas bisa terpenuhi.
Apa nanti kalau salah satu yg dipenuhi maka kita bisa
mengatakan bahwa admin milis ini tidak adil terhadap satu pihak?
Cenderung memihak ke satu pihak atau pihak yg tidak dikabulkan
tersebut kita sebut pihak yg dikorbankan?
> dan Next time, kalau ada orang yang minta opinion anda mau di kemanakan
> uangnya yang ratusan ribu dollars atau ratusan juta rupiah itu. Bilang sama
> manusia2 itu untuk tanam uangnya balik lagi ke Indonesia, supaya chaos di
> negara kita cepat berhenti.
Irwan:
Apakah dalam posting terdahulu pernah saya bilang dana2
tersebut berada di LN? Tidak khan?
Dana2 tersebut semuanya ada di DN. Hanya saja mereka
tidak mau lagi konyol seperti tahun 1997-98 dimana aset
mereka turun drastis karena memegang rupiah atau pun
saham. Sebagai seorang analis, saya perlu hati2 dalam
membuat analisa. Jauhkan sifat2 emosional ketika
membuat suatu analisa karena hal itu hanya mengakibatkan
analisa jadi kurang keobyektifannya, kurang tajam.
Saya pernah melakukan kesalahan analisa pada tahun 1997
dimana saya melibatkan rasa emosional saya sehingga analisa
yg dibuat jadi tidak sesuai lagi dengan apa yg terjadi di pasar.
Saya waktu itu menentang market. Ini jelas sangat salah
bagi seorang analis atau pun trader.
> Aah kadang2 saya itu salut sama orang2 china dan yahudi, kok bisa yah
> mereka2
> itu engga' hilang rasa cintanya terhadap negri sendiri, walaupun sudah
> generation after generation tinggal di negri orang. Begitu negaranya
> membutuhkan, dengan sukarela mereka menanmkan uangnya di sana begitu
> negaranya
> membutuhkan. Ingat investasi Liem di China?, atau yahudi amerika yang
invest
> di Israel?? itu contoh yang patut kita tiru, contoh kacang yang tidak lupa
> dengan kulit-nya...:). I
Kurang apa rakyat kita cinta terhadap Indonesia?
Hanya sayangnya, negeri mereka tidak cinta terhadap rakyatnya
akibat ulah para elit politik kemaruk tersebut.
> Tetang kepercayaan? he...he...he...kita lanjutkan nanti saja yah.
> bersambung nih kaya ko ping ho... tenang aja...:).
> tapi yang jelas saya tidak bisa berargue dengan anda, yang majornya di
> business/finance, sementara saya... cuma gambar2, ngurusin bangunan, batu
> dan
> besi...:).
Irwan:
Ilmu ekonomi bukan suatu yg sulit koq untuk dipelajari.
Dalam ilmu ekonomi itu banyak asumsi2 yg digunakan,
makanya dikategorikan ke ilmu sosial.
Karenanya kalau saya "bincang" dengan orang yg punya
latar belakang pendidikan ilmu pasti (walau saya juga sempat
punya latar belakang ilmu pasti) seringnya mentok karena
mereka cenderung meminta suatu hal yg pasti sementara
ilmu sosial itu ya begitu itu, penuh dengan asumsi....:)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu