Demonstrasi karyawan Deppen memang sudah wajar. Justru saya menyarankan agar
mereka secara aktif menyerang kebijakan Gus Dur beserta panitia penyusun
kabinet yang telah bertindak sembrono. Sebetulnya kata 'sembrono' masih
terlalu halus.

Sebagaimana saya sudah sampaikan, mestinya Gus Dur sebagai muka baru
melakukan evaluasi departementasi, dengan meminta laporan dari semua
departemen dan kementerian. Tindakan seperti ini adalah suatu hal yang wajar
dan biasa dilakukan bila terdapat pejabat baru. Ini adalah semacam orientasi
bagi pejabat baru. Setelah mengetahui duduk persoalannya barulah
menimbang-nimbang dan menilai mana yg perlu dipertahankan dan mana yang
perlu dirombak atau malah dihapuskan.

Semua personil macam Akbar Tanjung yang demikian bodohnya menetapkan batas
waktu 1 minggu, dan juga personil lain yang lebih menitikberatkan pada acara
perebutan jabatan menteri ketimbang mengerjakan PR mereka dahulu juga harus
bertanggung jawab. Tak kurang dari AS Hikam yang sarjana sastra dan politik,
yang melakukan risetpun tidak mampu (tetapi mau jadi menristek) juga harus
bertanggung jawab atas pernyataannya bahwa Deppen tidak diperlukan.

Kelihatannya kabinet yang belum sempat dilantik ini harus direshuffle.
Terlalu banyak orang partai dan terlalu sedikit teknokrat. Dalam situasi
yang kritis, dan akan menentukan ke arah mana jalannya reformasi, sikap
kehati-hatian mestinya dikedepankan. Bukannya main grusa-grusu model sistem
kebut semalam itu.

Untuk seluruh karyawan Deppen, mungkin mogokpun belum cukup. Mengubah siaran
RRI dan TVRI menjadi siaran oposisi mungkin diperlukan. Masak
sedikit-sedikit di-BUMN-kan. Harusnya dipelajari dulu bagaimana yg sudah
sempat di-BUMN-kan berhasil atau tidak. Kalau dibuat komersial, bagaimana
efeknya terhadap masyarakat di pedalaman? Atau makin konsumtif misalnya.


Jeffrey Anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke