Budaya kesusu dan tabrak lari sampai saat ini belum ditangani dengan baik
oleh Gus Dur. Kesediaan Agum untuk menerima TVRI dan RRI ibarat mau menerima
enaknya saja. Mau yang cakep-cakep, yang dekil tidak mau. Lalu bagaimana
nasib "jupen" yang merupakan ujung tombak dari Deppen?

Ali Rahman yang mau menerima orang Deppen dengan syarat hanya yg berkualitas
juga mengindikasikan mau enaknya sendiri. Maksudnya apa yg dimaksud dengan
kualitas? Apakah yang berpendidikan tinggi?

Bila ada yang bilang bahwa Gus Dur mesti berhati-hati terhadap orang yg
memprotesnya, maka sebaliknya saya bilang bahwa Gus Dur memang harus
berhati-hati atas tindakannya sendiri. Tindakan-tindakan harus diteliti
dulu, bukan sekedar di atas kerja textbook saja yg bagus, tetapi juga
bagaimana pengaruhnya pada orang banyak. Yang lebih perlu dingat adalah RI
ini adalah negerinya orang banyak, bukan milik partikelir NU, sehingga boleh
diobrak-abrik seenaknya sendiri. Pertanyaan yg perlu dijawab apakah Deppen
menyekiti rakyat? Rakyat mana sih? Yang jelas keputusan Gus Dur yg asal
njeplak jelas-jelas kontra produktif. Saya akan menebak, umur pemerintahan
tidak akan panjang.

Saat ini PNS menjadi tak ubahnya buruh lepasan, yang dapat di-PHK setiap
saat. Sudah saatnya saat ini Korpri menunjukkan perannya. Terlihat kalau
seseorang diam saja, maka dia akan makin dalam diinjaknya.

Berikut artikel dari Pikiran-Rakyat.


Jeffrey Anjasmara

'-----------------------------------------------------------
Khawatir Seperti Nasib Bekas Karyawan BP7
            Pegawai Deppen Menolak Dipindah

            JAKARTA, (PR).-
            Tawaran pemerintah yang akan menyalurkan
            sekitar 55.000 karyawan eks Departemen
            Penerangan (Deppen) ke departemen lain tidak
            disambut gembira, bahkan cenderung ditolak
            karena pemindahan ke instansi lain seperti yang
            dialami bekas karyawan BP7 ternyata hingga kini
            belum beres.

            Demikian dikatakan Kasubdit Humas eks Deppen
            Pusat Eddy Nur kepada pers di Jakarta, Jumat
            malam. Eddy pada Jumat siang diangkat karyawan
            Deppen Pusat menjadi Koordinator Forum
            Solidaritas Pegawai Deppen (FSPP). Lembaga itu
            yang akan menjadi motor bagi upaya advokasi
            nasib 55.000 karyawan instansi itu.

            Dalam rapat dengan para karyawan diputuskan
            bahwa forum itu merupakan lembaga yang menaungi
            bekas karyawan. Forum perlu dibentuk untuk
            menghindari adanya pihak lain termasuk para
            pejabat di lingkungan instansi itu untuk
            menggunakan aksi-aksi karyawan Deppen bagi
            kepentingan pribadinya.

            Eddy mengatakan, karyawan menolak disalurkan ke
            departemen lain karena pengalaman menunjukkan
            bahwa pemindahan itu tidak pernah berjalan
            mulus. Proses yang harus dilalui pun
            berbelit-belit dan penuh ketidakpastian.

            "Buat apa dipindahkan kalau akan menjadi
            sampah," katanya seperti dikutip Antara.

            Pengalaman pemindahan 400 karyawan BP7 Pusat ke
            departemen lain yang sudah berlangsung lebih
            setengah tahun ternyata belum selesai. Itu
            artinya, jika 55.000 karyawan Deppen akan
            dipindahkan juga harus melalui proses yang lama
            dan berbelit-belit.

            Karena itu, mereka akan berjuang mempertahankan
            diri untuk tetap bekerja untuk Deppen, walaupun
            instansi itu sudah dibubarkan.

            Atas pembubaran itu, para karyawan meminta
            pertanggungjawaban lima tokoh nasional, yaitu
            Presiden Abdurrahman Wahid, Wapres Megawati,
            Menko Polkam Wiranto, Ketua MPR Amien Rais dan
            Ketua DPR Akbar Tandjung.

            "Mereka yang menyetujui adanya pasal dalam GBHN
            tentang pers dan media massa, tetapi justru
            membubarkan Deppen. Siapa yang akan
            melaksanakan pasal itu. Bagaimana
            pertanggungjawaban presiden atas pelaksanaan
            pasal-pasal GBHN," katanya.

            Ia mengatakan, pemikiran lima tokoh itu rupanya
            hanya sebatas kepentingan perkotaan seperti
            Jakarta, bukan efektivitas pembangunan
            pedesaan. "Tidak ada penelitian yang
            membuktikan efektivitas Deppen kurang berguna
            bagi pembangunan. Jangan melihat efektivitas
            itu untuk ukuran Jakarta," katanya.

            Untuk masa mendatang, ia setuju lembaga itu
            diciutkan, namun bukan "dihabisi". "Para
            pahlawan mendirikan departemen ini diiringi air
            mata juga darah perjuangan mempertahankan
            kemerdekaan. Seenaknya dibubarkan di kala
            negeri sudah aman," katanya.

            Forum itu menyesalkan mengapa pemerintah sampai
            saat ini tidak secara resmi memberi penjelasan
            atas pembubaran sejumlah departemen. Yang ada
            adalah penjelasan presiden setelah ada
            demonstrasi di depan Istana Negara.

            Atas ketidakjelasan nasib, ribuan karyawan
            Deppen Pusat mengancam akan terus melakukan
            aksi unjuk rasa dengan sasaran lima tokoh
            nasional. Setelah mendatangi Gus Dur mereka
            akan mendatangi Kantor Wapres Megawati di Jl
            Merdeka Selatan, lalu ke Gedung MPR bertemu
            dengan Amien Rais dan ke DPR bertemu dengan
            Akbar Tandjung.

            Menurut rencana, pada Senin (1/11) sebanyak 28
            bus karyawan, seluruh mobil penerangan, ambulan
            dan mobil dinas akan dikerahkan untuk
            mengangkut karyawan ke DPR dan MPR. Di sana
            mereka akan meminta penjelasan langsung dari
            Amien dan Akbar.

            "Kami tidak ingin aspirasi hanya ditampung.
            Kami butuh realisasi DPR dan MPR yang
            pimpinannya ikut andil membubarkan Deppen dalam
            menyusun kabinet," kata seorang karyawan.

            Mereka mempertanyakan peran MPR dan DPR yang
            ikut membubarkan instansi itu, sementara dalam
            menyusun GBHN tetap mengakui adanya pasal
            tentang penerangan, pers dan komunikasi massa.

            Selain karyawan Deppen Pusat, aksi juga akan
            diikuti karyawan RRI dan TVRI. Bahkan jika
            tercapai solidaritas, mereka akan mengajak
            karyawan RRI dan TVRI untuk mogok dan tidak
            melakukan siaran.

            Dephub siap naungi RRI &AMP TVRI
            Sementara itu Menteri Perhubungan (Menhub) Agum
            Gumelar menyatakan kesediaannya untuk menaungi
            Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Radio
            Republik Indonesia (RRI).

            Agum Gumelar seusai serah terima jabatan dengan
            Menhub Kabinet Reformasi Pembangunan Giri
            Suseno di Jakarta, Jumat, mengatakan, pemikiran
            memasukkan TVRI dan RRI ke Dephub baru
            merupakan gagasan yang keputusannya belum ada.

            "Itu baru gagasan melihat Deppen di mana di
            dalamnya ada Direktorat Jenderal Radio,
            Televisi, dan Film (RTF) dilikuidasi atau
            dibubarkan, sedang di Dephub ada Ditjen Postel
            yang menangani masalah frekuensi," kata Agum
            Gumelar.

            Menurut Agum, Ditjen RTF memiliki relevansi
            yang kuat dengan Dephub karena menyangkut
            frekuensi yang ditangani Ditjen Postel Dephub
            tersebut. "Itu baru gagasan yang akan kita
            ajukan kepada pimpinan, dan kita siap menerima
            pegawai mereka," kata Agum Gumelar.***

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke